Diakon 2

Seorang diakon tidak fokus pada diri sendiri, alter ego, namun pada orang yang dilayaninya tanpa diskriminasi sedikitpun, tetapi bukan lupa diri. “Tetapi bukan lalu para diakon lupa diri sendiri dan tidak ada yang namanya diskriminasi, tanpa memandang siapapun dia.”

Uskup Weetebula Sumba Mgr Edmund Wogha CSsR berbicara dalam tahbisan 14 frater menjadi diakon di Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang, tanggal 28 Mei 2015. Tujuh dari 14 diakon itu berasal dari Keuskupan Agung Kupang, empat diakon dari Keuskupan Atambua, dan tiga diakon dari Keuskupan Weetebula.

Tahbisan, yang dihadiri juga sekitar 30 imam, biarawan-biarawati, dan undangan termasuk orang tua dan keluarga para diakon, diiringi Koor Sint Jose Choir dari OMK Paroki Santo Yoseph Naikoten. Dalam tahbisan itu, Uskup Edmund Wogha menegaskan bahwa penahbisan termasuk diakon sedapatnya dimaknai sebagai peresmian seseorang menjadi pelayan atau hamba yang bekerja untuk tuan, yang pada masa lalu hanya dipilih dengan cara-cara sederhana.

“Karena dulu, seorang diakon dipilih hanya untuk melayani para janda. Saat ini diakon dipilih dan ditahbiskan untuk melayani Sabda. Jadi diakon masa kini bukan orang sembarang karena ada sejumlah persyaratan,” ujar Uskup Weetebula itu.

Selain fokus pada orang yang dilayani, lanjut Mgr Wogha, demi kepentingan pelayanan maka para diakon harus juga menyiapkan sarana yang dibutuhkan untuk memuaskan tuannya. “Selain dituntut memiliki beberapa sifat seperti tidak sombong, rendah hati, dan mengabdi tanpa pamrih, sebagai pelayanan Sabda, seorang diakon wajib membaca Kitab Suci, mengikuti Ekaristi dan berdoa setiap hari.”

Dengan demikian, menurut Mgr Wogha, sikap yang ditampilkan Yesus ketika dipanggil Bartimeus yang buta dengan melontarkan pertanyaan, “Apa yang kau kehendaki Aku perbuat untukmu,” menjadi cerminan bagi para diakon dalam tugas dan pelayanannya terutama sebagai pelayan Sabda.

Menurut Praeses Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Pastor Herman Punda Panda Pr, para diakon yang ditahbiskan itu adalah angkatan ke-17. Ketika masuk, lanjut imam itu,  mereka berjumlah 48 orang. Menjelang tahun orientasi pastoral (TOP) jumlah mereka masih 43 orang, namun yang menjalani TOP hanya 24 orang.

“Yang kembali dengan selamat dan tetap mempertahankan cita-cita imamat hanya 17 orang, dan hari ini hanya 14 orang yang ditahbiskan. Jadi tidak gampang dan tidak sembarang orang menjadi diakon,” tegas Pastor Punda Panda seraya menjelaskan bahwa seminari Penfui akan merayakan pesta perak di tahun 2016. (Thomas  A  Sogen)

Diakon

Tinggalkan Pesan