Mgr Tri Harsono saat memberi sambutan sesudah ditahbiskan menjadi Uskup Purwokerto. Foto PEN@ Katolik/pcp

“Siapa yang bilang enak jadi uskup? Tidak! Maka saya ketika mendengar dari Nuncio (Duta Vatikan untuk Indonesia) tentang berita itu (pengangkatan menjadi uskup Purwokerto), hanya dalam jangka waktu tiga hari turun lima kilo, ini benar. Maka untuk para pastor yang gemuk-gemuk yang nggak bisa diet, jadilah uskup.”

Mgr Christophorus Tri Harsono berbicara dengan serius tapi berkali-kali mengundang tawa dan tepuk tangan panjang saat sambutan setelah Misa Tahbisan Uskup Purwokerto di Graha Unsoed Purwokerto, 16 Oktober 2018.

Selain 27 uskup, termasuk Duta Vatikan Uskup Agung Piero Pioppo dan Justinus Kardinal Darmaatmadja SJ dan lima uskup emeritus, serta sekitar 200 imam dan 5000 umat, acara itu juga dihadiri oleh Bupati Banyumas Achmad Husein, Muspida, pimpinan TNI dan Polri di Banyumas, pimpinan pengadilan dan kejaksaan, Dirjen Bimas Katolik, FKUB, Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) Bogor, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Yang menyedihkan lagi, lanjut Mgr Tri Harsono, “saya sudah tidak punya kesaktian dan kekuatan lagi, kumis harus dikerok.” Namun, uskup itu menghibur diri karena menurut buku “Be Like a Lion” yang dia baca, berjambang adalah khas seniman, sedangkan berkumis, berjanggut dan berjambang adalah ciri khas orang suci.

Tapi, lanjut uskup baru itu, kalau berkumis saja ternyata Don Juan, yang disukai wanita dan menyukai wanita, dan suka ngomong saru. “Saya kan kumisnya tipis. Ada yang lebih tebal. Don Juannya lebih dalam. Saya berani bicara begini karena saya sudah ditahbiskan oleh beliau,” kata Mgr Tri Harsono menyinggung Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko yang menahbiskan dirinya. Mgr Rubi tersenyum dan semua umat bersorak melihat wajah Mgr Rubi ditampilkan di banyak layar lebar seputar graha itu.

Siapa yang bilang enak menjadi uskup? Mgr Tri Harsono, yang mengaku gemetar dan takut berbicara banyak meski dia biasa mengajar, dan sudah menjadi imam selama 24 tahun, menambahkan, “Mau cari apa?” Selain harus mengenakan pakaian berlapis-lapis saat ditahbiskan, “Lebih repot lagi, saya ternyata tidak boleh merokok!” kata uskup kelahiran Bogor, 18 Januari 1966 itu.

Uskup itu harus berhenti merokok untuk memberi contoh, “dan saya berjanji!” Namun, uskup itu dengan serius tapi kocak menambahkan, “Paling enak berhenti, merokok. Kalau merokok sambil naik sepeda jalan-jalan, nggak enak. Berhenti, merokok, minum kopi, paling enak.” Tidak, lanjut Mgr Tri Harsono, “saya berjanji. Sesudah malam ini, saya tidak akan pernah sentuh rokok lagi, dan saya minta maaf kepada umatku di Wonosobo, petani tembakau. Anda dapat cari rejeki dari yang lain dan Anda juga pengsuplai dana untuk BJPS.” Gemuruh tawa dan tepuk tangan tak tertahan.

Menurut “anak kolong” yang pernah menjadi Direktur Seminari Menengah Stella Maris, Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus dan Paulus, Bandung, Ketua Komisi HAK Keuskupan Bagor dan Vikaris Jenderal Keuskupan Bogor itu, dia hampir berpikir siapapun yang berambisi jadi uskup “gila”.

“Bukan uskup-uskup ini gila. Tidak! Para uskup memang dipilih dan terpilih bukan mengajukan diri. Uskup untuk pelayanan, bukan untuk jabatan kemuliaan. Karena jabatannya disebut pelayanan, maka saya katakan darahnya halal untuk dikorbankan sebagai pelayan,” kata Mgr Tri Harsono yang pernah belajar Ilmu Islam dan Bahasa Arab Klasik di Mesir, Italia dan Perancis.

Sambutan uskup yang saat kecil dipanggil “Si Unyil” karena badannya kecil waktu itu memang agak unik. Dia tidak menyalami hadirin dari yang atas menurut hierarki tapi dari bawah. “Yang terkasih, para frater, para suster, pastor, bruder, uskup, dan Bapak Kardinal,” begitu dia menyalami. Dia juga tidak menyapa para uskup dengan “Yang Mulia.” Lebih bagus, “saya gunakan Yang Tercinta, Yang Terkasih atau Yang Terhormat, karena Yang Mulia sekarang sudah sering digunakan untuk para Ketua dan Wakil DPR Pusat,” jelas Mgr Tri Harsono. (PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Si unyil, anak kolong yang fasih berbahasa Arab, ditahbiskan jadi Uskup Purwokerto

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono diberkati: Semoga umatmu dipelihara dengan pimpinan yang kudus

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto 16 Oktober

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Mgr Rubiyatmoko berkumis ditampilkan di layar lebar seputar Graha Unsoed. Foto PEN@ Katolik/pcp
Mgr Rubiyatmoko berkumis ditampilkan di layar lebar seputar Graha Unsoed. Foto PEN@ Katolik/pcp

Tinggalkan Pesan