Mgr Edwaldus
Uskup Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu. PEN@ Katolik/pcp

Wawancara dengan Uskup baru Keuskupan Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu

Sore hari, pukul 15.00, 26 September 2018, terik matahari masih terasa “membakar” sekitar 30.000 orang di Gelora Samador da Cunha Maumere, namun arak-arakan panjang sebanyak 420 imam bersama 27 uskup termasuk Duta Vatikan Indonesia Mgr Piero Pioppo dan Uskup Terpilih Maumere Mgr Edwaldus Martinus Sedu mulai memasuki gelora untuk Misa Tahbisan Uskup baru Maumere itu.

Ketika masuki gelora itu, kegelisahan atas cuaca yang panas tiba-tiba berubah karena awam mulai menutupi matahari dan cuaca berangsur menjadi “bersahabat” dan umat mulai menutup payung yang mereka bawa. Namun, kegelisahan Mgr Edwaldus yang lahir di Bajawa 30 Juli 1963 itu semakin besar melihat begitu banyaknya orang yang  datang.

Maka, ketika Mgr Gerulfus Kherubim Pareira SVD bersama Mgr Edwaldus menghadap umat setelah ritual tahbisan dan mengumumkan bahwa Keuskupan Maumere sudah memiliki uskup baru, tampak wajah dan gerakan mulut dan bibir uskup lulusan pedagogi dari Universitas Salesianum Roma itu seperti menahan ledakan tangis haru dan seperti berat mengangkat tangannya membalas tepuk tangan umat.

Untuk mendapat jawaban apa yang dirasakan saat itu oleh pemimpin Gereja Keuskupan Maumere yang memiliki umat sekitar 303.000 yang tersebar di 36 paroki dan 185 stasi itu, sehari setelah tahbisannya Paul C Pati dari PEN@ Katolik mewawancarai uskup yang membawa moto Duc in Altum itu di Lepo Bispu atau rumah kediaman uskup di Maumere.

PEN@ KATOLIK:  Di saat Mgr Kherubim mengumumkan bahwa kini Keuskupan Maumere mempunyai seorang Uskup Baru, wajah Mgr Edwaldus nampak menahan sesuatu. Apa sebenarnya yang Mgr rasakan?

MGR EDWALDUS MARTINUS SEDU: Saya terharu melihat begitu banyak umat yang begitu antusias datang menghadiri Misa tahbisan saya sebagai Uskup Maumere. Begitu banyak orang, termasuk anak-anak, menyapa saya saat arak-arakan memasuki gelora. Ini mungkin karena saya sudah lama bekerja di sini sehingga banyak dikenal. Saya memang sering ke paroki-paroki sebagai pastor, berkeliling memberikan Sakramen Krisma sebagai Vikjen Keuskupan Maumere, dan melayani DPP di paroki-paroki.

Ya, luar biasa sekali kehadiran umat kemarin. Saat itu langsung muncul pertanyaan dalam diri saya, “Apakah saya bisa melayani mereka dengan baik. Apakah saya bisa  menjawab kebutuhan rohani mereka?” Maka saat itu saya langsung berdoa, “Tuhan tolong saya, supaya saya bisa memenuhi harapan mereka.” Ini sangat berat saya rasakan sebagai manusia, sehingga saya katakan dalam sambutan saya, “Dalam kelemahan dan kerapuhan saya, saya yakin Tuhan pasti akan membantu saya, termasuk menjawab harapan umat.”

Selain karena mengenal mereka dan mereka mengenal Mgr, ada alasan lain sehingga banyak orang datang menghadiri tahbisan itu?

Selain saya mengenal mereka, umat keuskupan ini memang sudah mempersiapkan adanya seorang uskup baru dengan doa selama hampir dua tahun. Tahun 2016, ketika mencapai usia 75 tahun Mgr Kherubim mengumumkan bahwa dia sudah menulis surat ke Tahta Suci untuk minta berhenti. Mgr Kherubim pun mempersiapkan segala sesuatu. Yang paling pertama, mengimbau umat untuk berdoa. Kami langsung membuat doa dengan judul “Doa Umat Keuskupan Maumere, Persiapan Kehadiran Uskup Baru.”

Isi doa itu antara lain “Hadirkanlah ke tengah kami, seorang gembala yang mengenal persoalan hidup konkret kawanan dombanya … Anugerahilah kami seorang gembala yang bijaksana, gembala yang mengayomi kami sebagai bapa yang penuh kasih. Berilah bagi kami, gembala seperti Engkau yang menggembalakan kami dalam kuasa ilahi. Hadirkanlah bagi kami seorang gembala yang mengalami kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasannya juga.”

Setelah Paus Fransiskus mengangkat saya sebagai Uskup Maumere, seluruh umat juga masih terus mendoakan “Doa Umat Keuskupan Maumere Menjelang Penahbisan Uskup Mgr Edwaldus Martinus Sedu.” Selain bersyukur atas terpilihnya seorang uskup dan memohon bantuan Roh Kudus agar acara tahbisan berjalan sukses, umat juga berdoa agar saya disertai dalam menjalankan tugas penggembalaan.

“Kini umat-Mu hendak bertolak ke tempat yang dalam, maka lindungilah seluruh umat Keuskupan Maumere dari segala macam marabahaya dan dampingilah kami dalam perjalanan menuju Keuskupan Maumere yang beriman, mandiri, solider dan membebaskan dalam terang Firman-Mu,” demikian mereka terus berdoa disertai Doa Bapa Kami, tiga Salam Maria dan Kemuliaan.

Tadi Mgr menyebut kecemasan? Apa sebenarnya keprihatinan atau kecemasan dalam keuskupan ini?

Perhatian atau keprihatinan yang  utama, seperti yang juga disampaikan oleh Mgr Kherubim adalah ketahanan umat di sini terhadap budaya pesta pora atau budaya hidup tidak hemat. Umat hanya mendapat sedikit, tetapi mereka tidak berpikir untuk masa depan atau menabung. Sebenarnya tradisi Komuni Pertama atau Sambut Baru dan Peringatan Orang Meninggal punya nilai yang baik, tetapi saya sayang ada unsur lain yang masuk, sehingga pengeluaran begitu besar. Maka, kami berusaha mengecilkan itu sesuai keadaan dan kemampuan, sehingga jangan lebih besar pasak daripada tiang bahkan mengakibatkan hutang bergenerasi. Komuni Pertama, misalnya. Sebenarnya kita bersyukur karena anak menerima Tubuh dan Darah Kristus, tapi pemborosannya luar biasa.

Apa lagi yang menjadi prioritas dalam karya pastoral di keuskupan ini?

Ada tiga hal yang menjadi prioritas kita. Pertama adalah pemberdayaan petugas pastoral atau pemimpin umat, supaya mereka mampu menggerakkan umat, misalnya memfasilitasi pertemuan atau katekese di tengah umat. Kita akan berjuang melahirkan orang-orang seperti itu di Komunitas Umat Basis, lingkungan, stasi dan paroki yang tidak ada orang yang bisa memimpin. Perjuangan kami yang kedua adalah dalam bidang Pengembangan Sosial Ekonomi, paling kurang sesuai sesuai visi dan misi Keuskupan Maumere: Umat Tuhan yang semakin beriman, sejahtera, dan solidaritas untuk saling membagi dan saling membantu dalam terang Sabda Allah. Yang ketiga adalah pemberdayaan keluarga-keluarga Kristiani terhadap budaya-budaya baru yakni globalisasi millennial. Pastoral Keluarga, dalam hal ini, bergerak paling kurang dalam persiapan dan sesudah perkawinan.

Dalam sambutan saat tahbisan, Gubernur NTT juga berbicara bahkan mengajak Gereja bekerja sama dalam hal pengembangan sosial ekonomi atau kesejahteraan. Bagaimana Mgr menanggapinya?

Ya, kita tidak bisa lagi memakai cara biasa untuk mengentaskan umat dari kemiskinan. Dari segi pembicaraan, termasuk dengan Bupati Sikka, kami mempunyai harapan besar, memenuhi harapan kami. Tetapi tidak hanya dalam bentuk bicara dan mengajak kerja sama. Gereja juga bisa bicara dan menganimasi. Masalahnya uang. Jadi, pemerintah akan membantu dan melibatkan kita dalam merancang program kerja sama. Saya rasa itu bagus. Artinya, dari tingkat pembicaraan kita lihat ke depan. Gubernur dan Wakil Gubernur sudah memperlihatkan bentuk perhatian kepada kita degan memberikan mobil operational, yang mereka janjikan sebelum menjadi gubernur dan wakil gubernur. Itu dari uang pribadi mereka. Tapi itu bukan berarti kita tidak akan kritis.

Apakah moto tahbisan episkopal “Duc in Altum (bertolak ke tempat yang dalam) yang Mgr pilih juga ingin menjawab persoalan masyarakat Maumere saat ini?

Moto itu berangkat dari pengalaman hidup bersama yang sudah ada. Kita ingin meningkatkan, kita ingin berjalan lebih jauh atau bertolak lebih ke dalam. Jadi, kita bukan hanya akan menjalani hidup yang biasa-biasa atau yang rutin saja, tetapi harus ada usaha untuk membuat kita lebih maju, lebih ke depan. Itu hasil dari evaluasi program kegiatan kita selama ini seperti terungkap dalam sinode keuskupan yang pertama.

Selama ini kita sudah hidup bersama Bapak Uskup Kherubim dengan moto episkopal “Ut omnes unum sint.” Sekarang, kita ingin meningkatkannya, karena kita merasakan itu belum maksimal. Kita harus berjalan lebih dalam lagi. Setiap pribadi dan komunitas harus lebih mendalami hidupnya agar semakin lebih baik, semakin lebih beriman, dan semakin lebih matang menghadapi tantangan-tantangan.

Tentu Mgr akan bersama para imam untuk mendorong umat keuskupan ini “bertolak ke tempat yang dalam.” Bagaimana hubungan Mgr dengan para imam?

Ketika saya menjadi imam di Keuskupan Maumere, saya mengenal banyak imam angkatan di atas saya, karena mereka memang senior saya. Saya juga mengenal banyak imam angkatan kemudian di seminari saat saya menjadi staf pembina Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret Maumere (2001-2016). Maka, coba lihat, hampir 500 imam menghadiri tahbisan saya. Sebagian besar adalah angkatan muda yang saya dampingi dari Keuskupan Ruteng, Keuskupan Larantuka, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Denpasar dan Keuskupan Maumere.

Selain mengenal mereka, saya juga tahu potensi mereka, karena saya sadar saya tidak bisa bekerja sendiri. Kesadaran akan kelemahan itu membuat saya menjadi orang yang cukup terbuka dan menghargai orang lain. Salah satu kelemahan saya adalah menyanyi. Saya tidak bisa menyanyi, maka kalau menyanyi saya butuh orang lain. Tetapi, kelemahan saya ini menjadi kekuatan saya. Saya harus terbuka dan harus bisa menerima bantuan orang lain. Saya tidak boleh paksa diri. Karena itu saya menjadi sangat terbuka dan mau melibatkan semua. Saya selalu berpikir positif tentang orang lain. Di seminari, misalnya, saya selalu melihat orang dari segi yang baik, dan dari situ saya bisa mendampingi seorang frater untuk menjadi lebih baik.

Maka, saya berterima kasih kepada Mgr Silvester San yang dalam homilinya menyinggung moto saya Duc in Altum dan menambahkan “menebarkan jala untuk menangkap ikan.” Jala itu lambang kerja sama dan itu juga menjadi jiwa saya.

Saya begitu terharu bahwa adik-adik angkatan saya yang bekerja di keuskupan ini menyampaikan kesediaan mereka untuk bekerja sama. Jadi, saya bisa mengajak mereka untuk bekerja bersama dan saya juga bisa marah kalau mereka berbuat salah. Saya yakin, adik-adik ini sangat mau bekerja sama dan tidak mau menunjukkan bahwa mereka mau sendirian atau egois.

Ada berapa imam diosesan atau projo di Keuskupan Maumere?

Jumlah imam projo di keuskupan ini sebanyak 62 orang. Kami menjadi sangat sedikit setelah perpisahan dengan Keuskupan Agung Ende, yang dulu memiliki imam projo terbanyak di Indonesia. Memang setelah berpisah dengan Keuskupan Agung Ende, tahbisan imam di keuskupan ini hanya satu atau dua. Tapi setelah kami mengelola Seminari Bunda Segala Bangsa untuk tamatan SMP dan SMA, hasilnya saat ini jumlah calon imam tingkat 3 di seminari tinggi sebanyak 20 orang, tingkat dua sebanyak 25 orang, tingkat 1 sebanyak 20-an, dan tahun rohani yang baru masuk  ada belasan. Mudah-mudahan jumlah itu bertahan sampai  selesai. Keuskupan ini memiliki 36 paroki jadi kami sangat mengharapkan banyak imam untuk paroki dan kelompok kategorial.

Sexual abuse (pelecehan seksual) oleh klerus menjadi berita aktual Gereja aktual saat ini. Bagaimana Mgr akan menanganinya di keuskupan ini?

Kalau kita melihat gejala ini, baik di seminari menengah dan di seminari tinggi, kita langsung menyampaikannya kepada murid atau frater tersebut, karena mungkin dia tidak sadar karena kadang-kadang ada orang melakukan itu tanpa kesadaran. Memang kita tidak punya keahlian khusus untuk mendampingi dalam hal ini, tapi kalau ada indikasi-indikasi seperti itu kita minta dia untuk berhenti.

Kalau gejala itu ada pada seorang imam, sebagai satu strategi kita akan menempatkannya dengan dengan orang-orang yang bisa menjadi teman yang menjaga mereka. Kita tidak akan membiarkan mereka, karena orang-orang seperti ini bisa menciptakan jurus-jurus baru yang memungkinkan mereka bisa bersembunyi di belakang satu kegiatan sosial misalnya dengan membuka asrama laki-laki di paroki. Itu terjadi. Modus-modus seperti itu harus kita hindari.

Jelasnya, kita berusaha mencegah hal itu dari seminari. Kalau memang sampai terjadi, saya akan menganjurkan untuk berhenti. Kita harus mengikuti kebijakan Gereja universal, termasuk penyampaian dari Paus Fransiskus sendiri, supaya jangan ada korban-korban lagi yang akan sangat berpengaruh pada pastoral kita. Ya, kita tidak mau seperti di Boston dan Chili, yang bahkan melibatkan uskup. Itu menghancurkan Gereja. Kita tidak akan menutup-nutupi. Kita akan berlaku adil, bukan hanya dengan kasus pedophilia tapi juga yang lain, termasuk kalau mereka melakukan hubungan dengan perempuan.

Sebelum ditahbiskan menjadi diakon, seorang frater harus membuat surat pernyataan dan bertanda tangan di atas materai bahwa dia tidak akan melakukan sexual abuse itu dan menyalahgunakan harta kekayaan Gereja.

Apa yang pertama akan Mgr lalukan setelah tahbisan uskup ini?

Yang pertama saya akan mengajak para imam di paroki dan lembaga-lembaga untuk merapatkan barisan hati dan pikiran. Kebetulan November ini kami akan mengevaluasi kegiatan tahunan sekaligus evaluasi sinode pertama keuskupan yang sudah dilaksanakan untuk masuk dalam sinode kedua.

Sekali lagi saya akan melakukannya bersama teman-teman pastor, karena tanpa mereka saya tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan bersatu hati, serasa dan sepenanggungan, kami bisa menjalankan banyak program. Setelah bekerja sama ke dalam baru kami akan keluar. Saya sudah bersama mereka sekian tahun sebagai ketua pelaksana dewan imam dan sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Maumere. Tapi keberadaan saya sekarang sudah agak berbeda, sebagai teman dan sebagai uskup. Dan saya harus menunjukkan bahwa yang terpenting bukan uskupnya, tetapi sebagai imam yang menjadi teman seperjalanan.***

Artikel Terkait:

Uskup Maumere yang baru ditahbiskan oleh Mgr Kherubim Pareira SVD

Mgr Edwaldus diterima di Katedral Maumere dengan sapaan dalam bahasa Sikka

Mgr Edwaldus Martinus Sedu akan setia kepada Gereja Katolik dan memajukan peranan awam

Mgr Ewaldus Martinus Sedu akan ditahbiskan uskup Maumere pada HUT ke-77 Mgr Parera

Paus Fransiskus angkat Pastor Ewaldus Martinus Sedu sebagai Uskup Maumere

Permohonan pensiun sudah dikabulkan Paus kata Mgr Kherubim saat HUT ke-75

PEN@ Katolik/pcp
PEN@ Katolik/pcp

Tinggalkan Pesan