OMK Keuskupan Bogor dalam parade IYD 2016 di Manado. Foto PEN@ Katolik
OMK Keuskupan Bogor dalam parade IYD 2016 di Manado. Foto PEN@ Katolik

Gereja Katolik Keuskupan Bogor menghargai Orang Muda Katolik (OMK) sebagai anugerah Allah yang diikutsertakan dalam membangun Kerajaan Allah. Peran dan keberadaan OMK menyumbang sisi kesegaran (fresh faces) dalam hidup menggereja. Generasi muda adalah generasi yang memberi harapan bagi Gereja masa kini dan masa mendatang. Apresiasi Gereja terhadap OMK tercermin dalam peristiwa seperti World Youth Day, Asian Youth Day dan Bogor Youth Day.

Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur menulis hal itu dalam Surat Gembala untuk Masa Prapaskah 2017 yang dikeluarkan 17 Februari 2017 dan dibacakan di seluruh paroki-paroki Keuskupan Bogor pada misa hari Sabtu dan Minggu, tanggal 25 dan 26 Februari 2017.

OMK, kata Mgr Paskalis mengutip Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ menuntut perubahan. “Mereka bertanya-tanya bagaimana orang bisa mengklaim membangun masa depan yang lebih baik tanpa memikirkan krisis lingkungan dan penderitaan mereka yang dikucilkan” (no. 13).

Berarti, lanjut uskup, OMK adalah orang-orang yang bersemangat menggagas langkah konkret mengatasi krisis lingkungan hidup dan menciptakan pembaruan hidup yang berkualitas manusiawi dalam dunia ini. “Pembaruan mesti bertitik pijak pada kesediaan kita untuk mengikuti Yesus Kristus dan mengasihi sesama manusia, terutama orang miskin, serta berlaku adil, solider, lemah lembut terhadap alam ciptaan-Nya.”

Gereja terus mendorong OMK agar berperan aktif bersama orangtua membangun keluarga-keluarga yang berwawasan ekologis. Artinya, “OMK menjadi inisiator dan aktor gerejani terciptanya relasi manusiawi, relasi penuh kasih kristiani antarumat manusia, dalam keluarga dan masyarakat, serta relasi ‘bersaudara’ dengan alam ciptaan-Nya,” kata Mgr Paskalis seraya meminta agar di masa tobat ini, perilaku kasar, nafsu konsumtif, egoisme tak terkendali ditinggalkan dan “berlakulah lembut seperti Yesus yang lembut hatinya (bdk. Mat 11:28).”

Dalam poin “Go Green School, Parishes and Families,” keluarga dikatakan sebagai sel dasar masyarakat, Gereja domestik. Maka “keluarga menjadi titik awal ‘pertobatan ekologis’. Pertobatan ini mendorong bertumbuh dan berkembangnya sikap hidup dan tindakan hidup berwawasan ekologis dalam membangun keutuhan hidup bersama yang berdimensi kosmik (bonum commune cosmic). Artinya, kehidupan kita menyuburkan tumbuhnya relasi harmonis antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam ciptaan dan manusia dengan Allah Sang Pencipta,” tulis uskup.

Sebagai wujud pertobatan ekologis, Mgr Paskalis meminta orangtua dan OMK bahu membahu mengembangkan pola dan sikap hidup ekologis. “Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan menyelenggarakan Liturgi Tobat Ekologis dengan penitensa bercorak cinta lingkungan hidup, melakukan Jalan Salib di alam terbuka, meningkatkan pengolahan sampah organik menjadi pupuk-pupuk penyubur tanaman, merayakan gerakan Go Green School, Go Green Parishes and Go Green Families.”

Pola hidup ekologis, lanjut Mgr Paskalis, adalah menerapkan gerakan mencintai Allah dan menemukan wajah Allah dalam alam ciptaan-Nya. Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa kekejaman terhadap makhluk hidup apapun bertentangan dengan martabat manusia. Oleh sebab itu “orang tua dan OMK mesti menjauhkan diri dari semangat konsumtif, membangun kesadaran untuk tidak mengeruk kekayaan alam, apalagi mengeksploitasi sesama manusia,” pesan Uskup Bogor seraya berseru: “Bertobatlah, kerajaan Allah sudah dekat!”

Di bagian awal Surat Gembalanya, Mgr Paskalis menyatakan bahwa kini kita memulai Retret Agung dalam kehidupan beriman kita, yakni Masa Prapaskah, yang dimulai pada hari Rabu Abu tanggal 1 Maret 2017 dan berakhir pada Jumat Agung, 14 April 2017.

Pada masa itu uskup memberikan seruan-seruan yang relevan dan aktual untuk diwartakan dan dipraktekkan yakni: Marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik (Ibr.10:24), Bertobatlah, kerajaan Allah sudah dekat (Bdk. Mrk 1:15), dan Berpuasa yang Kukehendaki  ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang-orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri (Yes 58:3-8).

Mgr Paskalis berharap seruan-seruan itu menjiwai perwujudan sasaran dari gerakan pertobatan, yaitu gerakan solidaritas yang lazim disebut Aksi Puasa Pembangunan (APP). Karena itu hasil yang paling dinantikan dari Gerakan APP adalah “gerakan aktualisasi iman Kristiani dalam bentuk perubahan dan pembaharuan diri kita yang semakin sesuai dengan citra diri kita sebagai citra Allah.” (Ans Gregory da Iry)

 

Tinggalkan Pesan