02-sermon-on-the-mount-1800-2

PEKAN BIASA VI (H)

Santa Marina; Santo Benediktus dari Aniane; Santo Gaudensius; Beata Humbelina

Bacaan I: Sir. 15:15–20

Mazmur: 119:1–2.4–5.17–18.33–34; R: 1b

Bacaan II: 1Kor. 2:6–10

Bacaan Injil: Mat. 5:17–37

Dalam khotbah di bukit Yesus mengajar murid-murid-Nya, kata-Nya, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. Maka, Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi, Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.” (Bacaan selengkapnya lihat Alkitab…)

Renungan

Kebebasan adalah jati diri manusia. Namun, kebebasan sering diartikan sebagai kesewenang-wenangan. Manusia seakan-akan bisa berbuat apa saja, kapan saja, dan di mana saja sesuka hatinya. Aturan-aturan kerap kali dianggap sebagai penghalang kebebasan. Karena itu, pelanggaran norma dianggap sah-sah saja.

Memang sejak awal penciptaan, Allah menganugerahkan kebebasan kepada manusia. Kebebasan itu ditujukan untuk menciptakan harmoni dan kesejahteran manusia. Kebebasan Allah anugerahkan untuk keselamatan manusia.

Kebebasan itu tidak pernah sempurna tanpa norma-norma. Maka, Allah juga menyodorkan perintah/aturan. Dengannya, kebebasan manusia ditata sehingga perbuatan manusia bisa dipertanggungjawabkan. Pada sisi lain, norma-norma itu pun bisa berwibawa apabila dihayati dalam kebebasan. Dengan kata lain, kebebasan dan norma adalah dua hal yang saling mendukung, jadi penghayatannya mesti bersamaan.

Yesus sendiri sosok yang bebas sekaligus taat azas. Sejak kanak-kanak, Maria dan Yosef menanamkan adat-istiadat Yahudi kepada-Nya (disunat, ziarah, dll). Begitu pula ketika Ia berkarya. Ia adalah pelaksana sekaligus pewarta kehendak Bapa-Nya dan hukum cinta kasih. Tidaklah heran apabila Ia berkata, “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum, melainkan menyempurnakannya.” Marilah kita hayati anugerah kebebasan kita dengan taat pada kehendak Allah.

Ya Bapa, Engkau telah membebaskan aku dari segala dosa dan kejahatan. Ajarilah aku untuk menjalankan segala perintah dan kehendak-Mu. Amin.

Tinggalkan Pesan