Paus Fransiskus menemui para uskup Cina di Roma (Vatican Media)
Paus Fransiskus menemui para uskup Cina di Roma (Vatican Media)

 

“Pintu terbuka yang sulit ditutup.” Dengan gambaran efektif itu, Uskup Agung Claudio Maria Celli merangkum nilai perjanjian sementara yang ditandatangani di Beijing antara Tahta Suci dan Republik Rakyat Cina, setahun setelah peristiwa bersejarah 22 September 2018.

Kesempatan untuk menganalisa tahun pertama sejak penandatanganan perjanjian itu disampaikan di Roma dalam presentasi buku berjudul “Perjanjian antara Tahta Suci dan Cina. Umat Katolik Cina di antara masa lalu dan masa depan,” yang diedit oleh Agostino Giovagnoli dan Elisa Giunipero, dengan kata pengantar oleh Kardinal Pietro Parolin, dan diterbitkan oleh Urbaniana University Press.

Peluncuran buku yang dimoderatori Presiden Sant’Egidio Marco Impagliazzo dan dihadiri mantan Perdana Menteri Italia Romano Prodi, Pendiri Komunitas Sant’Egidio Andrea Riccardi, Presiden Yayasan Joseph Ratzinger-Benedict XVI Pastor Federico Lombardi SJ.

Yang terpenting dalam Aula Benediktus XIII yang dipenuhi peserta itu, adalah kehadiran kepala kantor politik dan Sekretaris Pertama Kedutaan Besar Republik Rakyat Cina di Roma. Demi kepercayaan dan rasa hormat, itulah tanda nyata perubahan iklim yang terungkap dari semua pembicara peluncuran buku itu.

Tahun 1980-an, Uskup Agung Celli menjadi saksi sekaligus pelaku utama proses pemulihan hubungan antara Tahta Suci dan Cina, di bawah Santo Paus Yohanes Paulus II. Presentasi uskup agung itu menekankan bahwa menyebut perjanjian itu “bersejarah” adalah benar, meskipun bersifat sementara dan terbatas pada masalah penunjukan uskup.

Berkat Perjanjian itu, untuk pertama kali dalam 70 tahun, semua uskup Cina kini berada dalam persekutuan dengan Penerus Petrus dan saudara-saudara lain dalam Episkopat. Mgr Celli mengatakan, perjanjian itu buah “dialog operatif” yang didukung dan didorong Paus.

Komitmen itu sangat selaras dengan perhatian khusus pada Cina dan umat Katolik Cina yang diperlihatkan para Paus abad 20, terutama dua pendahulu terakhir Paus Fransiskus. Mgr Celli, yang juga mantan Wakil Sekretaris Hubungan dengan Negara-Negara, menyoroti pentingnya Pedoman Pastoral Tahta Suci mengenai pendaftaran sipil para klerus di Cina, yang terbit 28 Juni 2019. Mgr Celli mengamati pemahaman pedoman itu dalam dokumen itu, bahwa cinta negara sendiri, dan kebutuhan yang sama-sama dirasakan untuk menjadi Katolik yang otentik, tidak bertentangan.

Dalam presentasi, Romano Prodi, yang juga mantan Presiden Komisi Eropa, menekankan efek sosial dan geopolitik keputusan itu untuk Cina, yang alami perubahan memusingkan selama 30 tahun terakhir. Penandatanganan perjanjian itu, katanya, mungkin terjadi di saat bersejarah ini karena, dengan Kepausan Paus Fransiskus, otoritas Cina memandang Gereja Katolik sebagai sesuatu yang semakin universal dan kurang barat. Kondisi ini mendukung konvergensi antara Roma dan Beijing di daerah-daerah yang sejauh ini belum dijelajahi.

Andrea Riccardi juga membahas kepentingan multilateral perjanjian itu, karena perjanjian itu secara simbolis merupakan kesimpulan dari fraktur yang telah dibuka pada paruh kedua abad ke-20 dan berlanjut hingga kini. Dia mengatakan, kemampuan Tahta Suci dan Cina untuk menyelesaikan konflik 70 tahun adalah pertanda “kecerdasan dan fleksibilitas.” Dia puji keahlian dua tokoh besar diplomasi Vatikan (Kardinal Achille Silvestrini dan Kardinal Roger Etchegaray, keduanya baru saja meninggal dunia). Sekarang, kata Riccardi, “Agama Katolik Cina harus dipikirkan kembali,” harus ditemukan ruang baru untuk masa depan.

Pastor Lombardi mengakhiri presentasi dengan mengenang jalan menuju penandatanganan perjanjian itu yang juga ditandai banyak penderitaan. Mantan Direktur Kantor Pers Vatikan itu mengatakan, perjanjian bersejarah itu tidak boleh dianggap jasa eksklusif pemimpin Cina dan Vatikan.

Perjanjian itu, kata Pastor Lombardi, lahir dari loyalitas umat Katolik Cina dan para uskup mereka selama beberapa dekade yang sulit dan menyakitkan. Kalau mereka tidak terikat secara spiritual dan begitu luar biasa dengan Paus, lanjut imam itu, yang berwenang tidak akan menyadari soliditas persekutuan ini, dan kondisi-kondisi itu tidak akan tercipta hingga mencapai penandatanganan perjanjian itu. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan laporan Alessandro Gisotti/Vatican News)

Artikel Terkait:

Pastor Spadaro: Perjanjian antara Tahta Suci dan Cina adalah tanda harapan dan perdamaian

Vatikan mengkonfirmasi pentahbisan uskup kedua di Cina menerima mandat Paus

Untuk pertama kali di Cina, Mgr Antonio Yao Shun ditahbiskan uskup dengan mandat paus

Tinggalkan Pesan