jesus_wept

PEKAN BIASA XXXIII
Peringatan Wajib Santo Elizabeth dari Hungaria, Perawan (P)
Santo Dionisius Agung; Santo Gregorius Thaumaturgos;
Santo Gregorius dari Tours

Bacaan I: Why. 5:1-10

Mazmur: 149:1-2.3-4.5-6a.9b; R: Why. 5:10

Bacaan Injil: Luk. 19:41-44

Pada waktu itu, ketika Yesus telah dekat Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya: ”Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau.”

Renungan

Ada saat di mana hidup mengalami situasi batas. Pengalaman batas menyadarkan sisi-sisi kemanusiaan untuk berempati dan berbela rasa. Yesus sendiri telah menunjukkan kasih dan empati yang teramat besar bagi manusia. Sikap empati dan bela rasa yang ditunjukkan-Nya bukan sekadar menangisi kedosaan dan derita manusia, seperti halnya Ia menangisi kota Yerusalem (bdk. Luk. 19: 41), melainkan Ia sendiri menyerahkan hidup-Nya bagi penebusan manusia.

Belas kasih Yesus yang tiada batas menunjukkan kesempurnaan kasih Bapa yang telah mengutus-Nya. Melalui pengurbanan Tubuh dan Darah-Nya yang digambarkan seperti kurban sembelihan Anak Domba, hidup kita dibersihkan dan diselamatkan. Oleh kurban salib-Nya kita ditebus dan diangkat menjadi orang pilihan Allah dan ikut memerintah bersama-Nya dalam suasana kasih dan kebahagiaan (bdk. Why. 5:9-10).

Mengalami situasi batas berbeda dengan ketika manusia berada di puncak. Terkadang kita merasa segala-galanya indah dan nyaman, sampai lupa turun ke bawah menyapa sesama dan berbela rasa. Inilah arti tangisan Yesus saat menatap Yerusalem yang megah dan angkuh, yang  tidak mengerti dan peduli dengan apa yang perlu untuk damai sejahteranya, sebab mereka menolak keselamatan dalam diri Yesus.

Mungkin Yesus sejak beberapa hari ini mendekati kita juga dan menatap kita sambil menangis karena kita sering kali tidak mengerti atau bahkan lalai mengusahakan apa yang perlu bagi keselamatan kita dan kebahagiaan sesama. Kita mungkin terlalu sibuk mengurus hal yang tidak penting dan terlalu fokus pada ambisi pribadi yang terselubung dalam aneka kesibukan kita. Mari kita kembali ke jalan yang benar dan menyelamatkan agar Yesus senantiasa tersenyum.

Tuhan Yesus, acapkali aku mengkhianati cinta-Mu sehingga membuatmu sedih. Am­puni­lah aku dan bantulah aku untuk mengarahkan hidupku pada jalan-Mu yang benar dan menghidupkan. Amin.

Tinggalkan Pesan