Pertemuan antara IKABE dan IM3 di Gedung Aula SMAK   Frateran Malang

Ikatan Keluarga Besar Belu (IKABE) dan Ikatan Mahasiswa-Mahasiswi Alumni Mardi Wiyata (IM3) sepakat mencegah terjadinya tawuran antarmahasiswa di Kota Malang, Jawa Timur. Kesepakatan itu ditandai dengan pertemuan, pembahasan dan saling mengenal di antara mahasiswa-mahasiswi asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sementara menempuh pendidikan (kuliah) di beberapa kampus di Malang.

Penanggung jawab pertemuan itu Frater M Kardinus Nong BHK mengatakan bahwa kesepakatan itu diambil oleh para mahasiswa dalam pertemuan di Aula SMAK Frateran Malang, tepat pukul 08.00 pagi tanggal 6 Juni 2016.

“Mereka ini (IKABE) dan IM3, kami pertemukan dalam kesempatan ini untuk membahas berbagai hal yang sering terjadi di tengah masyarakat termasuk tawuran antarmahasiswa. Dengan pertemuan ini, mereka saling mengenal dan saling mengingatkan, sehingga tercipta ketenteraman dan kenyamanan di Malang,” kata Frater Kardi.

Pertemuan itu, jelasnya, “bermula dari pastoral mahasiswa yang sering dijalankan oleh para frater dari tarekat religius Bunda Hati Kudus (BHK). Dari pelayanan pastoral itulah, akhirnya BHK mengundang IKABE dan IM3 untuk diskusi mengenai berbagai hal, termasuk mempertemukan mereka yang ‘tercecer’, sehingga tidak ugal-ugalan di dalam dan luar kampus hingga meresahkan masyarakat dan pemerintah setempat.”

Itulah program pastoral mahasiswa yang dilakukan para frater BHK, mereka mengajak dan mengingatkan mahasiswa untuk menempatkan diri dengan baik. “Itulah awal dan kesempatan yang baik guna saling mendukung, saling mengingatkan dan meneguhkan untuk tidak terlibat dalam hal-hal yang merugikan diri sendiri, termasuk tidak merugikan orangtua,” kata Maria Dolorosa Gole Ina, salah satu anggota IM3 asal Sumba Barat Daya.

Jika kemarin sempat terjadi tawuran, lanjutnya, hari ini “kami bersepakat dengan sungguh untuk tidak terlibat lagi,” kata mahasiswi Universitas Kanjuruhan Malang seraya menambahkan bahwa tentunya para mahasiswa-mahasiswi masih akan bersentuhan dengan banyak tantangan dan cobaan. “Tapi jadikan tantangan dan cobaan sebagai hal-hal bersifat positif, bukan dibawa ke hal-hal yang berbau negatif.”

Dia menggambarkan, tawuran antara mahasiswa asal Sumba, NTT, dengan mahasiswa asal Ambon, Maluku, telah menimbulkan korban jiwa dan melunturkan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjunjung tinggi persaudaraan, sehingga mahasiswa-mahasiswi asal NTT yang sementara berada di Malang dipandang sebelah mata oleh warga masyarakat dan pemerintahan setempat.

“Di sini mau saya katakan bahwa tidak semua anak NTT yang ada di Malang itu jahat dan brutal. Tidak demikian. Buktinya masih banyak anak NTT yang menorehkan prestasi di berbagai segmen dan mengangkat nama baik Kota Malang.

Menurut Ketua IKABE Damianus Lau, perlu kedewasaan dari masing-masing pribadi. “Jika kemarin sudah salah jalan, saatnya berbenah diri dengan membangun komitmen baru, agar ke depan tidak terjadi lagi hal-hal negatif lainnya,” katanya seraya meminta organisasi daerah (Orda) yang telah terbentuk dari masing-masing kampus bekerja ekstra keras, dan apabila anggotanya terlibat tawuran, Orda harus mengambil sikap tegas dengan memberikan sanksi untuk menyadarkan.

Penangung jawab acara itu Frater M Yohanes Mau BHK memohon maaf kepada pemerintah Kota Malang, warga masyarakat setempat dan korban dari pihak mahasiswa Ambon, Maluku, atas peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu lalu.

Para mahasiswa pun sepakat menjaga dan memelihara ketenteraman serta kenyamanan di Kota Malang ini, termasuk menjaga dan menjalin kembali persaudaraan dengan banyak pihak yang telah terputus itu. (Felixianus Ali/Falderika)

 

Tinggalkan Pesan