11-Sept-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XXIII (H)

Santo Protus dan Hyasintus;
Beato Yohanes Gabriel Perboyre, Martir.

Bacaan I: 1Tim. 1:1-2. 12-14

Mazmur: 16:1-2a.5.7-8.11; R:5a

Bacaan Injil: Luk. 6:39-42

Yesus mengatakan pula suatu per­umpamaan kepada murid-murid-Nya: ”Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lobang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi barang siapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Renungan

Kita pernah memiliki seorang Presiden yang memiliki problem dengan matanya, Bapak Pluralisme Indonesia, Gus Dur. Saat ia terpilih, semua pihak meyakini bahwa gangguan mata secara fisik yang dimiliki oleh Gus Dur akan dilengkapi dengan kecerdasan dan ketulusan hatinya. Kita bisa menyimpulkan bahwa mata fisik memang penting, namun yang tidak boleh diabaikan adalah mata batin.

Hari ini kita mendengarkan Injil suci yang mempertegas bahwa Yesus mengkritik orang yang mampu menggunakan mata fisiknya namun mata hatinya kotor sehingga selalu melihat kejelekan dari sesamanya. Orang yang hatinya kotor akan sulit melihat kebaikan dan kelebihan yang dimiliki oleh sesamanya. Inilah salah satu ciri orang yang munafik, orang yang tidak tahu diri.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menggunakan mata kita dengan benar untuk melihat kebaikan dan kelebihan sesama kita? Ataukah kita memaku sesama kita pada masa lalunya yang buruk dan tertutup hati untuk melihat kebaikan-kebaikan yang berasal darinya? Jika demikian, mari kita mohon penyembuhan dari Yesus, agar mata batin kita kembali jernih untuk menerima sesama kita apa adanya.

Ya Bapa, bersihkanlah hatiku agar aku pun mampu melihat dengan jernih kebaikan sesamaku. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan