100_1302

Imam-imam diosesan atau yang dikenal dengan imam-imam praja se-Indonesia akan mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) XI dengan menggunakan tema “Misi, Dialog dan Perdamaian” sebagai perspektif semua kegiatan refleksi dan diskusi serta kegiatan rohani dan keakraban.

Munas XI yang akan diadakan di Ambon, 1-8 Oktober 2014, menurut Ketua Unio Indonesia Pastor Dominikus Gusti Bagus Kusumawanta Pr, akan dihadiri oleh 165 imam dari 37 keuskupan di Indonesia “untuk meningkatkan persaudaraan dan kerasulan para imam diosesan seluruh Indonesia dalam pelayanannya bagi umat dan masyarakat.”

Unio, jelas imam itu, pertama-tama adalah paguyuban persaudaraan, “maka setiap kegiatan Unio seharusnya selalu diupayakan untuk membangun persaudaraan.” Selain mempererat persaudaraan dan mengembangkan jaringan komunikasi antarimam diosesan se-Indonesia, dengan munas itu diharapkan tumbuh kolegalitas diosesan yang berakar dan terlibat dalam konteks konkret umat dan masyarakat setempat dengan segala harapan, keprihatinan, tantangan, dan peluangnya.

“Kolegalitas diosesan tidak hanya menyangkut kolegalitas yang dibangun oleh uskup, melainkan kolegalitas keuskupan yang dibangun oleh uskup, imam diosesan, lembaga hidup bakti, dan semua umat beriman lainnya secara bersama-sama,” jelas imam itu.

Unio Indonesia, yang didirikan dalam Munas I di Jakarta 1983, adalah Federasi dari Unio Keuskupan-Keuskupan se-Indonesia. Imam diosesan saat ini berjumlah sekitar 2018 imam. Setiap tahun ditahbiskan sekitar 90 imam diosesan dari 37 keuskupan se-Indonesia. Unio Indonesia menyelenggarakan Munas setiap tiga tahun, Jakarta (1983), Malang (1986), Yogyakarta (1989), Salam (1992), Bandung (1995), Jakarta (1999), Surabaya (2002), Palasari Bali (2005), Makassar (2008), Sintang (2011).

Tujuan lain dari Munas di Ambon itu adalah meningkatkan kualitas hidup dan karya misioner imam-imam diosesan Indonesia dan mengembangkan sikap kepemimpinan yang kolegial dan partisipatoris. “Unio bukan hanya diadakan demi persaudaraan, namun lewat persaudaraan diharapkan Unio membantu meningkatkan kualitas hidup dan karya pada imam diosesan,” jelas Pastor Kusumawanta.

Selain itu, jelas imam asal Bali itu, munas itu diharapkan merumuskan pengembangan misi imam diosesan dalam konteks kultur. “Para imam diosesan harus dapat berkarya dalam kebudayaan dari masyarakat setempatnya.”

Yang juga akan dilaksanakan dalam munas itu adalah menentukan agenda kerja pengurus Unio Indonesia periode 2014-2017, “serta memilih pengurus Unio Indonesia Periode 2014-2017, yang diharapkan dapat melaksanakan agenda kerja yang sudah ditetapkan oleh munas.”

Di tengah munas yang diisi dengan live-in dan analisa sosial di tengah umat di Tobelo, Tanimbar-Saumlaki, Kei Langgur, sidang, studi, refleksi, sharing, dan diskusi, perayaan Ekaristi, ibadat, doa, kegiatan rohani, rekreasi dan kegiatan persaudaraan lain, peserta akan mendengarkan beberapa masukan seputar misi, dialog dan perdamaian.

Para pembicara adalah Duta Vatikan untuk Indonesia Uskup Agung Antonio Guido Filipazzi, Ketua Internasional Apostolic Union of the Clergy (UAC) Mgr Giuseppe Magrin dari Roma, Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC, Pastor Neles Tebay Pr, Pendeta John Ruhulesin, Ketua MUI Maluku H Idrus Tukan, dan Gubernur Maluku Said Assegaf.

Guna merintis persaudaraan antarimam diosesan di wilayah Asia Tenggara, panitia sudah mengundang para imam diosesan dari Timor Leste, Brunei, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Filipina. Selain seluruh uskup di Indonesia, diundang juga bendahara UAC Pastor Antoni Thuruthiyil dan Animator UAC Asia Pastor Donlad De Souza. (paul c pati)

100_1354

Foto-foto dari Munas Sintang 2011

Tinggalkan Pesan