Paus Fransiskus dalam Liturgi Ilahi (Vatican Media)
Paus Fransiskus dalam Liturgi Ilahi (Vatican Media)

Ajakan Yesus untuk mencintai, yang merupakan inti Sabda Bahagia, meski tampak lemah di mata dunia, nyatanya selalu menang. Di kayu Salib, cinta terbukti lebih kuat dari dosa, dan dalam kubur, cinta mengalahkan maut. Inilah cinta yang sama yang membuat para martir menang dalam pencobaan. Martir lebih banyak di abad terakhir daripada masa lalu.

Paus Fransiskus berbicara dalam homili Liturgi Ilahi umat Katolik Khaldea di Katedral Santo Yosef di Baghdad 6 Maret 2021. Liturgi Ilahi adalah Misa dalam ritus Khaldea dan ritus Timur lain. Homili Paus itu berdasarkan bacaan hari itu tentang Sabda Bahagia dari Injil Santo Matius. Menurut Paus, mempraktikkan kebijaksanaan Sabda Bahagia dalam kehidupan sehari-hari membantu Allah memenuhi janji-janji-Nya akan perdamaian.

“Cinta juga jadi kekuatan umat Kristen Irak, yang menderita prasangka dan penghinaan, penganiayaan dan penganiayaan atas nama Yesus. Santo Paulus menekankan hal ini dalam bacaan kedua Liturgi Ilahi, ketika dia mengatakan kepada orang-orang Korintus, ‘Kasih tidak pernah berakhir’,” tegas Paus.

Meskipun kekuasaan, kemuliaan dan kesombongan dunia lenyap, cinta akan tetap ada,” kata Paus seraya menegaskan bahwa praktik Sabda Bahagia meminta kita untuk menjadi saksi, hari demi hari, dengan hidup lemah lembut, menunjukkan belas kasih, dan memiliki hati murni. “Kesaksian adalah cara mewujudkan kebijaksanaan Yesus,” tegas Paus, seraya menambahkan bahwa dunia diubah “bukan dengan kekuasaan dan keperkasaan, tapi dengan Sabda Bahagia.”

Cinta tampaknya identik dengan kebaikan, kemurahan hati, dan perbuatan baik, kata Paus, namun Paulus mengatakan bahwa “cinta itu sabar.” Kitab Suci berbicara tentang kesabaran Allah terhadap pria dan wanita yang sepanjang sejarah tidak setia, jatuh dalam dosa lama yang sama. “Tapi Tuhan selalu tetap setia, mengampuni dan memulai lagi. Kesabaran ini untuk memulai lagi setiap saat adalah kualitas pertama dari cinta. Cinta tidak putus asa, berhenti, atau menyerah, tetapi tetap kreatif dan menanggapi kejahatan dengan kebaikan.” Saksi-saksi Allah, kata Paus, tidak pasif atau fatalistik tetapi selalu berharap.

Saat menghadapi kesulitan selalu ada dua godaan, melarikan diri dan menyendiri, atau bereaksi dengan amarah dan menunjukkan kekuatan, kata Paus. Itulah kasus murid-murid di Getsemani ketika banyak orang melarikan diri dan Petrus menghunus pedangnya. Tapi tindakan melarikan diri maupun pedang tidak dapat apa-apa.

Sebaliknya, Yesus mengubah sejarah dengan kuasa kasih yang rendah hati, dengan kesaksian sabar-Nya, yang merupakan panggilan bagi kita untuk melakukannya. Itulah cara Allah memenuhi janji-janji-Nya, jelas Paus.

Paus menunjukkan bahwa pencarian kebijakan selalu menarik pria dan wanita. Tapi sering, orang yang punya kemampuan lebih banyak bisa mendapat lebih banyak pengetahuan dan memiliki kesempatan lebih besar, sementara yang punya lebih sedikit dipinggirkan.

“Ketidaksetaraan seperti itu, yang meningkat di zaman kita tak bisa diterima,” kata Paus. Tapi, Kitab Kebijaksanaan membalikkan logika ini, ketika dikatakan, “yang bawahan saja dapat dimaafkan karena belas kasihan, tetapi yang berkuasa akan disiksa dengan berat.” Yang lebih berkuasa tunduk pada pengawasan ketat, sementara bawahan diistimewakan oleh Allah.

Dan Yesus, yang adalah Kebijaksanaan, membuat pembalikan total dengan Sabda Bahagia. Yang miskin, yang berduka, yang dianiaya semuanya disebut berbahagia. Bukan lagi orang kaya yang hebat, tetapi orang miskin dalam roh; bukan yang bisa memaksakan kehendak pada orang lain, tapi yang lembut terhadap semua orang; bukan yang disanjung orang banyak, tetapi yang menunjukkan belas kasihan kepada saudara-saudari mereka.

Kebijaksanaan Yesus yang diwujudkan dalam Sabda Bahagia, lanjut Paus, menyerukan kesaksian dan memberikan janji-janji ilahi, seperti kerajaan surga, kenyamanan, kepuasan atau melihat wajah Allah, yang menjamin sukacita yang tak tertandingi dan tidak pernah mengecewakan.

Paus berkata, orang-orang yang dipenuhi melalui kelemahan dan kemiskinan batin kita, dan tokoh-tokoh Kitab Suci, seperti Abraham dan istrinya Sarah, Moses, Bunda Maria dan Petrus adalah buktinya. Karena itu, Paus mendesak umat Kristen Irak untuk tidak pernah menyerah dengan merasa tidak berdaya dan tidak berguna, dan mengatakan “Allah ingin melakukan keajaiban lewat kelemahan kita.”

Paus berterima kasih kepada Allah dengan dan kepada umat Kristen Irak, atas banyak kesaksian “saat ini” yang “sering diabaikan berita, “namun berharga di mata Allah.” Mereka “saksi-saksi yang, dengan menghidupkan Sabda Bahagia, sedang membantu Allah memenuhi janji-janji perdamaian-Nya.”

(PEN@ Katolik/paul c pati/Robin Gomes/Vatican News)

Video Singkat Liturgi Ilahi

Screenshot
Screenshot
Liturgi Ilahi 4
Screenshot
Vatican Media
Vatican Media
Vatican Media
Vatican Media
Screenshot
Screenshot

Artikel Terkait:

Paus bersama anak-anak Abraham di Irak berterima kasih telah diberi Abraham/

Paus tekankan persaudaraan dalam pertemuan dengan Ayatollah Agung Irak

Paus di Katedral Bagdad: Tuhan beri kita vaksin efektif untuk lawab virus keputusasaan

Paus desak otoritas Irak bangun kembali masyarakat di atas solidaritas persaudaraan

Paus terbang dengan pesawat kepausan untuk melakukan perjalanan apostolik ke Irak

Paus akan ke Irak sebagai peziarah perdamaian demi persaudaraan dan rekonsiliasi

 

Tinggalkan Pesan