PEN@ Katolik/pcp (screenshot dari Vatican Media)
PEN@ Katolik/pcp (screenshot dari Vatican Media)

Tahun 2010, 48 orang yang sedang beribadah termasuk wanita dan anak-anak, dan dua imam muda tewas dalam serangan teroris di Katedral Siro-Katolik Bunda Keselamatan di Baghdad. Lebih dari sepuluh tahun sejak peristiwa mengerikan itu, Paus Fransiskus datang ke tempat ibadah ini, 5 Maret 2021, hari pertama Kunjungan Apostoliknya ke Irak.

Di katedral itu Paus bertemu para uskup, klerus, kaum religius, para frater calon imam, katekis, dan pemimpin awam, seraya mengatakan bahwa mereka “berkumpul di Katedral Bunda Keselamatan, yang disucikan oleh darah saudara-saudari kita yang di tempat ini membayar harga tertinggi kesetiaan mereka kepada Tuhan dan Gereja-Nya.”

Kepada orang-orang yang hadir di katedral itu, Paus minta untuk tidak pernah mengunci semangat kerasulan mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari, terutama selama masa pandemi ini. “Kita tahu betapa mudahnya tertular virus keputusasaan yang kadang-kadang tampaknya menyebar di sekitar kita,” kata Paus. Namun Tuhan telah memberi kita vaksin efektif untuk melawan virus jahat itu. Itu adalah harapan yang lahir dari ketekunan doa dan kesetiaan setiap hari kepada kerasulan kita.”

Dengan vaksin itu, lanjut Paus, “kita bisa pergi dengan kekuatan yang baru, untuk berbagi sukacita Injil sebagai murid-murid misionaris dan tanda-tanda hidup dari kehadiran kerajaan kekudusan, keadilan dan perdamaian dari Allah.”

Paus menyoroti kesulitan yang dihadapi begitu banyak umat beriman Irak dalam beberapa dekade terakhir. Paus berbicara tentang efek perang dan penganiayaan, kerapuhan infrastruktur dasar dan perjuangan berkelanjutan demi keamanan ekonomi dan pribadi yang sering menyebabkan perpindahan internal dan migrasi banyak orang, termasuk umat Kristen, ke bagian lain dunia.

Paus Fransiskus juga berterima kasih kepada “saudara-saudara uskup dan imamnya,” karena tetap dekat dengan umat mereka. Paus mendorong mereka untuk bertekun dalam upaya ini, “guna memastikan bahwa umat Katolik Irak, meskipun kecil seperti biji sesawi, terus memperkaya kehidupan masyarakat secara keseluruhan.”

“Kasih Kristus,” kata Paus, “memanggil kita untuk mengesampingkan setiap jenis egoisme atau persaingan. Kasih Kristus mendorong kita kepada persekutuan universal dan menantang kita untuk membentuk komunitas saudara dan saudari yang saling menerima dan saling peduli.”

“Betapa pentingnya kesaksian persatuan laksana saudara di dunia yang seringkali terfragmentasi dan terkoyak oleh perpecahan,” kata Paus. “Setiap upaya yang dilakukan untuk membangun jembatan antara umat dan lembaga gerejawi, paroki dan keuskupan akan berfungsi sebagai isyarat kenabian dari pihak Gereja di Irak dan tanggapan yang berbuah atas doa Yesus agar semuanya menjadi satu.”

Dalam pidatonya, Paus menunjukkan bahwa kadang-kadang kesalahpahaman bisa muncul dan kita bisa mengalami ketegangan tertentu. “Itulah ikatan-ikatan yang menghalangi jalinan persaudaraan. Itulah ikatan-ikatan yang kita bawa dalam diri kita sendiri. Bagaimanapun juga, kita semua orang berdosa. Namun ikatan-ikatan ini bisa dilepaskan oleh kasih karunia, dengan kasih yang lebih besar. Ikatan-ikatan ini bisa dilonggarkan dengan obat pengampunan dan dengan dialog persaudaraan, dengan sabar saling menanggung beban dan saling memperkuat di saat-saat pencobaan dan kesulitan.”

Paus juga mendorong sesama uskupnya untuk dekat khususnya dengan para imam mereka. “Jangan biarkan mereka melihat kalian hanya sebagai administrator atau manajer, tetapi sebagai bapa sejati, yang peduli terhadap kesejahteraan mereka, yang siap memberikan dukungan dan dorongan dengan yang hati terbuka,” kata Paus.

Paus juga mengajak para imam, religius, katekis, frater calon imam yang hadir untuk pergi kepada kawanan umat dan memberikan perhatian khusus kepada mereka yang berisiko ditinggalkan, seperti orang muda, orang tua, orang sakit dan orang miskin. “Jadilah gembala, abdi umat, bukan pegawai negeri,” kata Paus.

Seraya mengalihkan pikirannya lagi kepada saudara-saudari yang tewas dalam serangan teroris di katedral itu sekitar sepuluh tahun lalu, dan yang proses kanonisasi yang sedang berlangsung, Paus menekankan bahwa “kematian mereka adalah pengingat yang kuat bahwa memicu perang, sikap penuh kebencian, kekerasan atau pertumpahan darah tidak sesuai dengan ajaran agama yang otentik.” Paus juga mengingat semua korban kekerasan dan penganiayaan, terlepas dari agama mana mereka berasal.

Di katedral yang luas itu, Paus berterima kasih kepada semua yang berkumpul atas upaya mereka untuk menjadi pembawa damai, di dalam komunitas mereka dan bersama para penganut tradisi agama lain, “menabur benih rekonsiliasi dan hidup bersama penuh persaudaraan yang bisa mengarah pada kelahiran kembali harapan bagi semua orang.” Paus juga menyebut semua orang muda, yang “merupakan tanda janji dan harapan, tetapi khususnya di negara ini.”

Mengakhiri pidatonya, Paus katakan pada “saudara dan saudari” ini bahwa mereka adalah bagian dari sejarah panjang yang dengan setia bersaksi tentang “janji-janji Allah yang tidak pernah gagal saat mereka berupaya membangun masa depan yang baru.”

“Semoga kesaksian kalian,” kata Paus, “menjadi dewasa melalui kesulitan dan diperkuat dengan darah para martir, menjadi cahaya bersinar di Irak dan sekitarnya, demi mewartakan kebesaran Tuhan dan demi membuat semangat orang-orang ini bersukacita di dalam Allah Juruselamat kita.”

Sebelum meninggalkan katedral itu, Paus Fransiskus menandatangani buku tamu dengan kata-kata: “Sebagai seorang yang bertobat dan peziarah iman dan perdamaian di Irak, saya memohon kepada Allah untuk memberikan orang-orang ini, melalui perantaraan Perawan Maria, kekuatan untuk membangun kembali negara dalam persaudaraan.”(PEN@ Katolik/pcp/Lydia O’Kane/Vatican News)

Video Singkat Paus Fransiskus di Katedral Bagdad

Paus bersama uskup klerus dan kaum religius 1

Artikel Terkait:

Paus desak otoritas Irak bangun kembali masyarakat di atas solidaritas persaudaraan

Paus terbang dengan pesawat kepausan untuk melakukan perjalanan apostolik ke Irak

Paus akan ke Irak sebagai peziarah perdamaian demi persaudaraan dan rekonsiliasi

Tinggalkan Pesan