Paus berpidaro Vatican News
Paus berpidato di hadapan otoritas Irak, korps diplomatik, dan perwakilan masyarakat sipil di istana presiden di ibu kota, Baghdad (Vatican Media)

Krisis yang dihadapi Irak dapat diatasi dengan membangun masyarakat berdasarkan persatuan seperti saudara, solidaritas dan kerukunan melalui tindakan nyata kepedulian dan pelayanan, terutama bagi yang rentan dan yang paling membutuhkan. Setelah krisis, yang akan membantu kita membangun kembali dunia lebih baik dari sebelumnya adalah keutamaan persaudaraan dan hidup berdampingan bagaikan saudara.

Paus Fransiskus menyampaikan nasihat itu 5 Maret saat berpidato di hadapan otoritas Irak, korps diplomatik, dan perwakilan masyarakat sipil di istana presiden di ibu kota, Baghdad.

Dalam pidato pertama saat kunjungan ke luar negerinya (di luar Italia) yang ke-33, Bapa Suci mencatat bahwa perjalanannya ke Irak terjadi pada saat dunia sedang berusaha untuk keluar dari pandemi Covid-19.

Krisis yang melanda tidak hanya kesehatan masyarakat tetapi juga memperburuk kondisi sosial dan ekonomi, kata Paus, seraya menyerukan upaya bersama untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan menuju pemulihan. Namun yang terutama, krisis itu memanggil semua orang untuk “memikirkan kembali gaya hidup kita… dan arti keberadaan kita” (Fratelli tutti, 33). Kita, lanjut Paus, perlu keluar dari krisis itu “lebih baik dari sebelumnya, dan dengan membentuk masa depan yang lebih berdasarkan apa yang menyatukan kita daripada pada apa yang memisahkan kita.”

Dampak bencana perang, momok terorisme, dan konflik sektarian yang telah melanda Irak selama beberapa dekade, kata Paus, sering kali didasarkan pada fundamentalisme yang tidak mampu menerima hidup berdampingan secara damai dari kelompok-kelompok etnis dan agama yang berbeda, serta gagasan-gagasan dan budaya-budaya berbeda.

Hal ini menyebabkan kematian, kerusakan, dan kehancuran, tidak hanya secara materi tetapi juga menyebabkan kesusahan luar biasa  dan luka-luka yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk sembuh. Paus secara khusus menyebut orang-orang Yazidi, “korban tak berdosa dari kekejaman brutal dan tidak masuk akal, yang dianiaya dan dibunuh karena agama mereka, dan yang identitas serta kelangsungan hidup mereka terancam.”

Menurut Paus, hanya kalau belajar melihat melampaui perbedaan dan saling melihat sebagai anggota keluarga manusia yang sama, kita akan bisa memulai proses pembangunan kembali yang efektif dan mewariskan dunia yang lebih baik, lebih adil dan lebih manusiawi bagi generasi masa depan.

Dalam hal ini, Paus menunjukkan bahwa Irak, dengan ciri khas keragaman agama, budaya, dan etnis, terpanggil untuk menunjukkan kepada semua orang, terutama di Timur Tengah, bahwa keragaman harus mengarah pada kerja sama yang rukun dalam masyarakat bukan menimbulkan konflik.

Hidup berdampingan laksana saudara, lanjut Paus, menyerukan dialog sabar dan jujur, yang dilindungi oleh keadilan dan penghormatan terhadap hukum, tugas sulit yang perlu komitmen semua. “Kita perlu mengesampingkan persaingan dan kontraposisi dan saling memandang dari identitas terdalam kita sebagai sesama anak dari satu Allah dan Pencipta.

Setelah krisis, kata Paus, kita perlu membangun kembali dengan baik, agar semua bisa menikmati hidup yang bermartabat. “Kami tidak pernah keluar dari krisis sama seperti kami sebelumnya; kita keluar dari krisis apakah lebih baik atau lebih buruk.”

Namun, masyarakat yang menjalani persatuan laksana saudara dalam solidaritas satu sama lain, akan lebih baik. Solidaritas, tandas Paus, adalah kebajikan yang menuntun kita untuk melakukan tindakan nyata kepedulian dan pelayanan dengan perhatian khusus bagi yang rentan dan yang paling membutuhkan, seperti orang-orang yang kehilangan anggota keluarga dan orang-orang yang mereka cintai, rumah dan mata pencaharian karena kekerasan, penganiayaan atau terorisme.

Pemimpin pemerintah dan diplomat pun dipanggil untuk memupuk semangat solidaritas persaudaraan ini. Ini hanya bisa mereka lakukan dengan memberantas korupsi, penyalahgunaan kekuasaan dan pengabaian hukum, tetapi juga dengan meningkatkan keadilan, membina kejujuran dan transparansi serta memperkuat lembaga-lembaga di bidang-bidang ini. Upaya-upaya ini akan mengantarkan masyarakat yang stabil dan politik yang sehat yang akan memberikan “harapan pasti bagi masa depan lebih baik,” terutama bagi orang muda Irak.

Seraya menyatakan kesedihan mendalam atas kehancuran dan kekejaman tak terhitung yang dialami rakyat Irak, Bapa Suci mengatakan berada di antara mereka “sebagai peziarah perdamaian dalam nama Kristus, Pangeran Perdamaian.”

Sebelum memberi serangkaian seruan, Paus berharap “bentrokan senjata dibungkam” di Irak dan di mana-mana.

Paus pun menyerukan diakhirinya kepentingan partisan, dan agar suara para pembangun, pembawa perdamaian, orang rendah hati, orang miskin serta pria dan wanita biasa didengar. “Semoga tindakan kekerasan dan ekstremisme, faksi, dan intoleransi berakhir! Semoga ada ruang bagi semua warga negara yang berupaya bekerja sama membangun negara ini melalui dialog dan melalui diskusi yang jujur, tulus, dan konstruktif.”

Agar ini terjadi, kata Bapa Suci, “penting memastikan peranserta semua kelompok politik, sosial dan agama dan penting menjamin hak-hak fundamental semua warga negara.” Paus mendesak agar “tidak ada yang dianggap warga negara kelas dua.”

Paus juga ingatkan masyarakat internasional akan tugasnya untuk meningkatkan perdamaian di Irak dan di Timur Tengah secara keseluruhan. Konflik, seperti di negara tetangga Suriah, kata Paus, menyerukan kerja sama dalam skala global untuk mengatasi masalah, seperti ketimpangan ekonomi dan ketegangan regional yang mengancam stabilitas negeri-negeri ini.

Bapa Suci berterima kasih kepada negara-negara dan organisasi-organisasi internasional, termasuk badan-badan Katolik, yang sedang bekerja di Irak untuk membangun kembali, untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada para pengungsi, para pengungsi internal dan orang-orang yang berusaha pulang.

Paus menekankan harapan agar masyarakat internasional terus bertindak dalam semangat tanggung jawab bersama dengan otoritas lokal, tanpa memaksakan kepentingan politik atau ideologis. Agama, pada hakikatnya, kata Paus, harus melayani perdamaian dan persaudaraan. Karenanya, nama Allah tak bisa digunakan “untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme, dan penindasan.”

Gereja Katolik di Irak, kata Paus, ingin bekerja sama secara konstruktif dengan agama lain dalam melayani proses perdamaian. “Kehadiran umat Kristen di tanah ini, sumbangan mereka bagi kehidupan bangsa, adalah warisan kaya yang ingin terus mereka tempatkan guna melayani semua orang,” kata Paus. “Peranserta mereka dalam kehidupan publik, sebagai warga negara yang memiliki hak, kebebasan dan tanggung jawab penuh, akan menjadi kesaksian bahwa pluralisme yang sehat dari keyakinan agama, etnis, dan budaya bisa berkontribusi pada kemakmuran dan kerukunan bangsa.”(PEN@ Katolik/pcp/Robin Gomes/Vatican News)

Paus memasuki sebuah ruangan di istana presiden di Bagdad untuk berpidato di hadapan otoritas Irak, korps diplomatik, dan perwakilan masyarakat sipil

Paus bersama Presiden Irak
Paus bersama Presiden Irak (Vatican Media) 

Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan