Misa Perayaan 114 tahun Gereja Katolik di Papua Selatan dipimpin Mgr Canis Mandagi MSC dan didampingi Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (PEN@ Katolik/ym)
Misa Perayaan 114 tahun Gereja Katolik di Papua Selatan dipimpin Mgr Mandagi MSC didampingi Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (PEN@ Katolik/ym)

“Saya rasa di Keuskupan Agung Merauke (KAME) sudah ada persaudaraan di antara umat dan para imam, yang tidak membedakan suku, aliran politik, gender dan status, juga persaudaraan di antara Gereja dengan pemerintah. Ini luar biasa. Persaudaraan itu tanda kehadiran Tuhan, koinonia. Walaupun barang kali kita miskin, tidak terpandang, tidak punya gelar, sering dilupakan, tetapi hadirnya Tuhan lewat persaudaraan. Kita akan dinilai oleh Tuhan, benarkah sudah 114 tahun Tuhan hadir di sini, itu dilihat dari persaudaraan.”

Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC berbicara dalam homili Misa “Perayaan 114 tahun Gereja Katolik Masuk di Papua Selatan” di kompleks Patung Hati Kudus Yesus Bandara Mopah Merauke, 14 Agustus 2019. Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC yang diangkat Paus menjadi Visitor Apostolik di KAME serta beberapa imam diosesan dan religius menjadi konselebran.

Selain ribuan umat Katolik dan biarawan dan biarawati, Misa itu dihadiri Bupati Merauke Frederikus Gebze, tokoh masyarakat Papua Selatan John Gluba Gebze, Kapolres Merauke AKBP Bahara Marpaung, serta muspida.

Selain persaudaraan, jelas Mgr Mandagi, tanda kehadiran Tuhan juga adalah perayaan liturgi yang dilaksanakan di mana-mana, doa di mana-mana, juga ziarah. “Bersyukur semakin banyak imam merayakan Ekaristi dan memimpin doa di mana-mana, karena kehadiran imam terlebih untuk merayakan Ekaristi bukan untuk mengumpulkan uang atau proyek-proyek,” jelas Mgr Mandagi yang menyesalkan banyak imam “sudah jatuh, sudah muka duit.”

Tanda kehadiran Tuhan yang sudah ada di KAME, lanjut uskup, adalah banyak orang Katolik yang baik, yang memberi kesaksian hidup yang baik, yang menjadi pewarta yang baik lewat kata-kata dan perbuatan. “Meski banyak masalah dan tantangan, kita boleh bangga melihat keluarga-keluarga yang setia dalam hidup perkawinan, tidak berselingkuh dan mata keranjang, tetapi setia memberi kesaksian sebagai awam. Banyak juga pejabat politik yang bagus, yang tidak mencari duit demi jabatan, tetap Katolik, sederhana. Mewartakan adalah tanda kehadiran Tuhan,” kata Mgr Mandagi.

Tanda kehadiran Tuhan yang lain adalah “orang suka berkorban, tidak cinta diri,” kata Mgr Mandagi seraya menyebut Santo Maximilian Kolbe, martir, yang dirayakan hari itu, menyatakan arti berkorban demi sesama. Kehadiran umat di tempat itu dilihat sebagai pengorbanan demi cinta kepada Tuhan, menjadi martir-martir, menjadi saksi-saksi berkorban dewasa ini. Kita butuh di zaman sekarang  saksi-saksi Katolik yang berkorban, entah awam, imam, maupun biarawan-biarawati,” kata Mgr Mandagi.

Suka berbagi dan memberi seperti umat di Papua Selatan adalah juga tanda kehadiran Tuhan, kata uskup itu, seraya mengajak umat bersyukur sudah 114 tahun Gereja Katolik ada di sana, “karena itulah tanda, selain tanda-tanda konkret yang saya sebutkan tadi, tanda bahwa Tuhan hadir.”

Tapi sejauh mana Tuhan hadir di wilayah itu? Sejauh mana Agama Katolik relevan dan signifikan untuk masyarakat Papua? Memang sudah ada persaudaraan, kata uskup, tapi masih sering diwarnai kekerasan, fitnah, dan grup-grup, “pro uskup anti uskup, pro pastor anti pastor,” tapi “yang mengerikan persaudaraan hancur tidak jarang karena para imam yang tidak betul” yang tidak Misa, tidak sembahyang dan penampilan seperti preman, yang “akhirnya umat terbelah, padahal umat itu baik sekali.”

Uskup juga bertanya bagaimana perayaan liturgi di Papua Selatan, apakah sekedar perayaan bagus dengan tarian, atau sekedar simbol. “Efek dalam kehidupan bagaimana?” tanya uskup seraya menyinggung bahwa berdoa itu bagus tetapi mengapa sesudah berdoa berkelahi? “Belas kasih adalah inti kekristenan, inti kekatolikan,” tegas Mgr Mandagi seraya menegaskan, salah satu tanda belas kasih adalah “pengampunan,” tanpa balas dendam.

Perayaan 114 tahun itu adalah kesempatan untuk bertobat, “meneruskan yang baik dan mengubah yang tidak baik,” kata Mgr Mandagi seraya mengutip Benjamin Franklin yang mengatakan “berubah memang sulit, tetapi tidak berubah fatal” dan Dokumen Lumen Gentium dari Konsili Vatikan Kedua yang mengatakan, “Gereja selalu membaharui diri dan juga memurnikan diri.”

Frederikus Gebze dalam sambutannya menghargai para misionaris yang sudah hadir di wilayah Selatan Papua untuk membawa ajaran Gereja Katolik dan berterima kasi kepada para katekis, guru dan tukang yang hadir melalui Gereja Katolik untuk mengangkat harkat dan martabat orang Papua.

Dalam rangka perayaan itu, telah dilaksanakan diskusi panel tentang strategi penanganan anak putus sekolah dan anak korban aibon di kota Merauke, dialog interaktif di RRI, baksos pemberian makanan tambahan dan pengobatan gratis serta pembersihan makam para misionaris, serta doa, pembakaran lilin dan tabur bunga di makam perintis dan misionaris.(PEN@ Katolik/Yakobus Maturbongs/pcp)

OMK Merauke bertekad lanjutkan karya misionaris, bangun persatuan, jadi tungku api Kristus

Mgr Mandagi dan Pastor Kuayo ditunjuk gantikan tugas dari almarhum Mgr Saklil

Tahta Suci bebastugaskan Mgr Adi Seputra MSC dan angkat Mgr Saklil sebagai administrator apostolik

Uskup Timika dan Administrator Apostolik KAME Mgr John Philip Saklil meninggal dunia

IMG_20190814_112411IMG_20190814_112609

Tinggalkan Pesan