6e9e6360-f68d-498a-bb05-fa035ab382bd

“Saya taat demi cinta pada Gereja dan hormat kepada Paus Fransiskus. Saya siap menyerahkan diri kepada Kristus. Demi pengabdian kepada Kristus, saya rela berkarya di mana saja. Salam, Uskup Mandagi.”

Demikian tanggapan singkat via Whatsapp dari Uskup Amboina Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC menjawab pertanyaan PEN@ Katolik apakah sudah menerima tugas tambahan itu. Menanggapi tugas tambahan itu, ketika membalas pertanyaan itu Mgr Mandagi sedang bersiap bertemu dengan Duta Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia Mgr Ignatius Suharyo dalam sambutannya seusai Misa Requiem Mgr John Philip Saklil di Katedral Tiga Raja Timika, Rabu 7 Agustus 2019, mengumumkan dua orang untuk mengganti jabatan Mgr Saklil saat meninggal yakni Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo Pr sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Timika dan Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke (KAME).

Penunjukan Pastor Kuayo berdasarkan rapat konsultores pagi itu di Wisma Keuskupan Timika. Ketika ditunjuk Pastor Kuayo bertugas sebagai Vikjen Keuskupan Timika dan Mgr Mandagi sebagai Uskup Amboina.

Mgr Saklil diangkat sebagai uskup pertama Keuskupan Timika, 19 Desember 2003, dan ditahbiskan sebagai uskup 18 April 2004. Sesuai keputusan Tahta Suci, mulai 27 Juli 2019, Mgr Saklil diangkat sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Agung Merauke (KAME) untuk mengisi Sede Plena di KAME menyusul pembebasan tugas Mgr Nicolaus Adi Seputra MSC sebagai Uskup Agung Merauke yang diberi kesempatan menjalani masa On Going Formation (bina lanjut) di Roma dalam jangka waktu tidak ditentukan.

Mantan ketua Komisi Kepemudaan KWI dan Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi KWI itu dimakamkan di Pemakaman Imam-imam Diosesan di belakang Rumah Uskup, sekitar tiga kilometer dari katedral.

Menurut laporan Octavianus Lolong yang mengikuti pemakaman itu di Timika, sekitar 10.000 umat dari Paroki Katedral dan paroki tetangga, termasuk sekitar 2000 warga adat Kamoro, tempat Mgr Saklil lahir dan dibesarkan ikut, berjalan kaki menghantar almarhum yang dibawa dengan mobil jenazah sampai ke pemakaman. Tarian adat Seka Duka dan Teriakan Duka dai Suku Kamoro yang mayoritas Katolik mewarnai prosesi pemakaman itu, meski di tengah hujan.

Umat dari keuskupan tetangga, seperti Keuskupan Agats, Merauke, Sorong, dan Jayapura, serta beberapa pejabat pemerintahan antara lain Wakil Gubernur Papua, Kapolres, perwakilan Polda, TNI, dan Kepala Sandi Cyber RI Letjen Siberian juga hadir bersama beberapa uskup, pastor dan suster.

Banyaknya umat yang hadir serta kemauan beberapa orang berjilbab memasuki katedral untuk melihat jenazah almarhum, menurut Octavianus, membenarkan bahwa Mgr Saklil adalah “pastor bonus.” Bahkan, lanjutnya, “Masyarakat adat menjaga jenazah dari hari pertama sampai hari keempat dengan menyanyikan lagu-lagu adat mereka, serta beberapa lagu ciptaan Uskup Saklil.”  (PEN@ Katolik/paul c pati dan Yakobus Maturbongs)

Artikel Terkait:

Tahta Suci bebastugaskan Mgr Adi Seputra MSC dan angkat Mgr Saklil sebagai administrator apostolik

Uskup Timika dan Administrator Apostolik KAME Mgr John Philip Saklil meninggal dunia

Suasana Misa Pemakaman Mgr Saklil
Suasana Misa Pemakaman Mgr Saklil
Suasana Misa Requiem di Katedral Timika
c0d6329c-5e75-40b0-84af-2f2af3c83b59

Mgr Saklil 3

Tinggalkan Pesan