Mgr Tri Harsono berbincang dengan Ketua Basolia Bogor, Kyai Haji Zainal Abidin (kiri) dan Bupati Banyumas Achmad Husein (kanan). PEN@ Katolik/pcp
Mgr Tri Harsono berbincang dengan Ketua Basolia Bogor, Kyai Haji Zainal Abidin (kiri) dan Bupati Banyumas Achmad Husein (kanan). PEN@ Katolik/pcp

Ketika memberi sambutan sesudah menerima tahbisan uskup di Graha Unsoed Purwokerto, 16 Oktober 2018, Uskup Purwokerto Mgr Christophorus Tri Harsono bercerita bahwa awal tahun ini, sebagai Vikjen Keuskupan Bogor, dia diundang bersama Uskup Bogor Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM ke Istana Presiden Bogor.

Saat itu, cerita Mgr Tri, Presiden Afghanistan dan beberapa presiden di Timur Tengah mengingatkan Presiden Joko Widodo agar berhati-hati karena saat ini negara mereka, yang hanya memiliki enam atau tujuh kelompok etnik, bahasa dan budaya serta satu atau dua keyakinan, hancur berantakan. “Maka diingatkan kepada Presiden Jokowi, hati-hati Anda memiliki ribuan pulau, ribuan etnis, budaya dan bahasa serta ratusan keyakinan,” kata uskup baru itu.

Ternyata, lanjut mantan Ketua Komisi HAK Keuskupan Bagor itu, “Indonesia memiliki rahasia yang menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain yakni adanya PBNU.” Kenapa PBNU? tanya uskup yang kemudian menjawab sendiri bahwa PBNU adalah singkatan dari Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 45.

Meski memiliki kekuatan itu, pendukung Badan Sosial Lintas Agama (Basolia) di Bogor itu mengingatkan pidato Bung Karno yang mengatakan, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini.”

Rakyat Indonesia, pinta mantan anggota FKUB Jawa Barat itu, harus tetap bersatu membangun negeri ini tanpa pertumpahan darah seraya mengingatkan bahwa musuh terberat adalah rakyat sendiri, “yang mabuk akan budaya luar dan rela membunuh bangsa sendiri demi menegakkan budaya asing.”

“Anak Kolong” dari Bogor itu juga menegaskan, perbedaan atau kebhinekaan adalah sebuah keniscayaan “dan Tuhan menghendaki itu.” Toleransi yang baik dan benar, jelas uskup, bukan mencari kesalahan, melainkan “menerima dengan ikhlas perbedaan orang lain yang ada di sekitar kita.”

Menanggapi seruan Mgr Albertus Soegijapranata tentang menjadi “100 persen Katolik, 100 persen Indonesia,” Mgr Tri yang empat tahun belajar Ilmu Islam dan Bahasa Arab Klasik di Kairo, Roma dan sebuah kota di Perancis itu mengutip buku dari Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo, yang mengatakan, “Keimanan dan tindakan seseorang ditentukan oleh seberapa utuh, seberapa lengkap, konsep tentang Tuhanmu.”

Kalau orang mempunyai konsep begitu lengkap dan utuh tentang Tuhannya, jelas uskup, “dia akan mengungkapkannya dalam iman, dalam kehidupan sehari-hari, dalam perkataan dan perbuatan.” Kalau hanya sepotong-sepotong, keimanan juga hanya sepotong. “Begitu juga, mengimani Kristus jangan sepotong-sepotong, mengimani Kitab Suci jangan sepotong-sepotong, dari Kitab Kejadian sampai Wahyu adalah satu kesatuan, harus dibaca dan dikenal semua.”

Mgr Tri lalu berbicara dalam bahasa Arab tentang bagaimana Yesus “yang diakui oleh semua” sebagai orang yang lahir oleh Roh Kudus tanpa nama laki-laki di belakang-Nya, dan tentang Yesus sebagai Sabda Allah yang berubah menjadi Tubuh dan Darah. “Saya pake bahasa Arab karena bahasa Arab kalau ngomong itu dalam. Kristus juga waktu ngomong dalam bahasa Arab,” kata Mgr Tri.

Maka, lanjut mantan direktur Seminari Menengah Stella Maris Bogor dan Rektor Seminari Tinggi Santo Petrus dan Paulus Keuskupan Bogor di Bandung, “orang Katolik sungguh harus menjadi Katolik 100 persen.” Dan jangan lupa, Mgr Tri mengingatkan apa yang dikatakan Pak Harto bahwa musuh yang berat adalah rakyat sendiri, dan menurut sejarah, “yang pertama menghancurkan Gereja adalah para muridnya sendiri, bahkan pastornya.”

Mgr Tri menegaskan, dirinya pernah menyampaikan, “boleh permalukan saya, boleh hakimi saya, boleh jelek-jelekkan saya, boleh tuduh saya, boleh bunuh saya, tetapi jangan hancurkan Gereja Katolik Roma yang penuh hierarki dan universal.” Sekarang, uskup itu mengamati, hierarki dijalankan dengan baik sekali, “harusnya begitu.” Bedanya, dalam hierarki tidak ada demokrasi. “Iya. Kalau agama ada demokrasi, akan terpecah-pecah. Maka sekarang kita mengakui sungguh-sungguh hierarki dari paus, para uskup, dan kardinal. Kita semua harus bekerja sama.”

Mgr Tri juga berharap umat Katolik di Keuskupan Purwokerto berjuang bersama pemerintah supaya menjadi 100 persen Indonesia dan 100 persen Katolik. “Kami belum bisa menjadi 100 persen Indonesia kalau belum sungguh-sungguh menjadi 100 persen Katolik,” tegas uskup seraya menegaskan bahwa dirinya tidak bisa bekerja sendiri tapi harus bersama semua umat serta imam dan kaum religius “untuk menjadi 100 persen Katolik, 100 persen Indonesia.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Artikel Terkait:

Si unyil, anak kolong yang fasih berbahasa Arab, ditahbiskan jadi Uskup Purwokerto

Tahta Uskup Mgr Tri Harsono diberkati: Semoga umatmu dipelihara dengan pimpinan yang kudus

Uskup Purwokerto bertanya, siapa bilang enak menjadi uskup?

Mgr Christophorus Tri Harsono akan ditahbiskan sebagai Uskup Purwokerto 16 Oktober

Bapa Suci angkat Vikjen Keuskupan Bogor Pastor Christophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto

Tahta Uskup

Mgr Tri Harsono bergambar bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas, serta para pimpinan legislatif dan yudikatif, wakil FBUB Jawa Barat dan Basolia Bogor, serta pihak keamanan dan tokoh masyarakat.  Foto PEN@ Katolik/pcp
Mgr Tri Harsono bergambar bersama Pemerintah Kabupaten Banyumas, serta para pimpinan legislatif dan yudikatif, wakil FBUB Jawa Barat dan Basolia Bogor, serta pihak keamanan dan tokoh masyarakat. Foto PEN@ Katolik/pcp
Mgr Tri Harsono berpelukan dengan Ketua Basolia Bogor, Kyai Haji Zainal Abidin. PEN@ Katolik/pcp
Mgr Tri Harsono berpelukan dengan Ketua Basolia Bogor, Kyai Haji Zainal Abidin. PEN@ Katolik/pcp

1 komentar

Tinggalkan Pesan