Paus dalam Misa harian di Casa Santa Marta. Vatican Media
Paus dalam Misa harian di Casa Santa Marta. Vatican Media

“Keselamatan adalah karunia dari Allah,” Dia memberi kita “roh kemerdekaan.” Dalam homili Misa harian di Casa Santa Marta, Paus Fransiskus memperingatkan kita untuk waspada terhadap orang-orang munafik, yang hatinya tidak terbuka pada kasih karunia.

Paus Fransiskus mendasarkan homili pada bacaan Injil  Luk. 11:37-41, yang menceritakan bagaimana Yesus tidak memperhatikan kebersihan yang ditentukan saat Dia diundang makan di rumah seorang Farisi. Injil itu, seperti dilaporkan oleh Adriana Masotti dari Vatican News, menceritakan reaksi keras Yesus pada “keheranan” orang-orang Farisi.

Paus menekankan perbedaan antara cinta orang-orang kepada Yesus, yang mengasihi Dia karena Dia menyentuh hati mereka, dan sedikit karena minat mereka sendiri; dan kebencian para ahli Taurat, orang-orang Saduki, orang-orang Farisi, yang mengikuti-Nya untuk menangkap-Nya kalau Dia membuat suatu kesalahan.

Mereka benar-benar contoh sikap yang kaku. Tetapi mereka tidak hidup. Mereka, boleh dikatakan, kaku. Mereka kaku. Dan Yesus tahu jiwa mereka. Ini memalukan kita, karena mereka dipermalukan oleh hal-hal yang Yesus lakukan ketika Ia mengampuni dosa, ketika Ia menyembuhkan pada hari Sabat. Mereka menyewa pakaian mereka: “Oh! Sungguh perbuatan memalukan! Ini bukan dari Tuhan, karena Ia tidak harus melakukan ini.” Orang-orang tidak penting bagi mereka: Yang penting bagi mereka adalah Taurat, keputusan, aturan.”

Namun, Yesus menerima undangan orang Farisi itu – karena Ia bebas – dan Dia datang kepadanya. Orang Farisi itu malu dengan tingkah laku-Nya yang melampaui peraturan. Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, (tetapi) bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan.”

Kata-kata itu tidak bagus, ya? Yesus berbicara dengan jelas, Dia bukan orang munafik. Dia berbicara dengan jelas. Dan katakan kepada mereka, “Tetapi mengapa kamu melihat apa yang ada di bagian luar? Lihatlah apa yang ada di bagian dalam.” Pada kesempatan lain Dia berkata kepada mereka, “Kamu adalah bubur putih.” Pujian yang bagus, ya? Indah di luar, semua sempurna … semua sempurna … tetapi di dalam, penuh kebusukan, maka penuh keserakahan, kejahatan, kata-Nya. Yesus membedakan antara apa yang terlihat dan kenyataan di bagian dalam. Tuan-tuan ini adalah “ahli penampilan: selalu sempurna, selalu. Namun di bagian dalam, apa yang ada di sana?

Paus Fransiskus mengingatkan bagian-bagian lain dalam Injil ketika Yesus mencela orang-orang seperti itu, seperti yang Dia lakukan dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati, atau ketika Dia mencela cara mewah mereka dalam berpuasa dan memberi sedekah. Ini, kata Paus, karena mereka hanya tertarik pada penampilan. “Yesus menggambarkan orang-orang ini dengan satu kata: ‘orang-orang munafik’.” Mereka orang-orang dengan jiwa rakus, yang mampu membunuh: “mampu membayar untuk membunuh atau menyiksa, seperti yang terjadi setiap hari. Itu terjadi hari ini: mereka dibayar untuk memberi kabar buruk, kabar yang membunuh orang lain.”

Singkatnya, lanjut Paus Fransiskus, orang-orang Farisi dan para ahli Taurat adalah orang-orang yang kaku, tidak mau berubah. “Tapi selalu, di bawah atau di belakang kekakuan, ada masalah, masalah besar,” kata Paus. Kita mau tampil sebagai orang Kristen yang baik; kita mau tampil dengan cara tertentu, kita mendadani jiwa kita. Namun, kata Paus Fransiskus, di balik penampilan-penampilan ini, “ada masalah. Tidak ada Yesus di sana. Semangat dunia ada di sana.”

Yesus menyebut mereka “bodoh” dan menasihati mereka untuk membuka jiwa mereka untuk mencintai agar rahmat masuk. Karena “rahmat adalah karunia yang diberikan secara gratis dari Allah. Tidak ada orang menyelamatkan dirinya sendiri, tidak ada. Tidak ada orang yang menyelamatkan dirinya sendiri, bahkan dengan praktik-praktik orang-orang ini.”

Akhirnya, Paus memperingatkan kita,

Hati-hati dengan orang-orang yang kaku. Hati-hati di sekitar orang Kristen – apakah mereka awam, imam, uskup – yang menampilkan diri mereka sebagai sangat sempurna, kaku. Hati-hati. Tidak ada Roh Tuhan di sana. Mereka tidak memiliki semangat kebebasan. Dan marilah kita berhati-hati dengan diri kita sendiri, karena ini seharusnya membuat kita melihat kehidupan kita sendiri. Apakah saya hanya mencari penampilan, dan tidak mengubah hati saya? Apakah saya tidak membuka hati saya pada berdoa, pada kebebasan doa, kebebasan memberi amal kasih, kebebasan untuk melakukan karya belas kasihan? (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News) Foto Vatican Media

 

Tinggalkan Pesan