Dalam Pesta Santo Fransiskus Assisi di Pontianak, imam Ordo Dominikan Pastor  Andreas Kurniawan OP membawakan homili. Foto Komsos KAP/aldi & afra
Dalam Pesta Santo Fransiskus Assisi di Pontianak, imam Ordo Dominikan Pastor Andreas Kurniawan OP membawakan homili. Foto Komsos KAP/aldi&afra

Tahun 1255 di Milan, Miniter Jenderal Ordo Fransiskan Yohanes dari Parma dan Master Jenderal Dominikan Humbert dari Roma bersama-sama menerbitkan sebuah surat yang merekomendasikan perdamaian dan kerukunan di antara kedua Ordo itu.

Peristiwa kedua beato itu adalah salah satu contoh persaudaraan antara Ordo Dominikan dan Ordo Fransiskan yang diceritakan oleh Pastor Andreas Kurniawan OP (Ordo Pewarta atau Ordo Dominikan), yang akrab dipanggil Pastor Andrei, dalam homili Misa untuk mengenang teladan dan spiritualitas Bapa Serafik Santo Fransiskus Assisi yang dirayakan oleh sejumlah ordo dan kongregasi yang tergabung dalam komunitas Keluarga Fransiskan/Fransiskanes Pontianak (KEFRAP) di Pontianak, 4 Oktober 2018.

Misa di Kapel Rumah Retret Tirta Ria itu dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus Pr dengan konselebran Vikjen Keuskupan Agung Pontianak (KAP) Pastor William Chang OFMCap, Minister Provinsial Kapusin Pontianak Pastor Hermanus Mayong OFMCap serta Rektor Seminari Tinggi Antarkeuskupan Antonino Ventimiglia Pastor Edmund Nantes OP dan Ekonom KAP Pastor Andrei OP beserta Diakon Tjhen Pr dan Diakon Plasida OFMCap.

Sesuai tradisi, manakala Ordo Dominikan merayakan pesta maka yang membawakan homili adalah imam Fransiskan, begitu juga sebaliknya. Maka, yang membawakan homili Misa ini adalah Pastor Andrei.

Di hadapan Fransiskan dan Fransiskanes, imam Dominikan ini menceritakan hubungan persahabatan antara Santo Fransiskus Assisi sebagai pendiri Ordo Fransiskan dan Santo Dominikus sebagai pendiri Ordo Dominikan. Hubungan kedua orang kudus itu, menurut Pastor Andrei, seperti saudara kembar.

“Layaknya kembar dalam keluarga, mereka memiliki keunikan masing-masing. Berbeda tetapi punya satu kesatuan, bukan bersaing tetapi bersatu dan bersaudara,” kata Pastor Andrei seraya menegaskan banyaknya seniman mengabadikan kedua orang kudus itu dalam berbagai kisah, gambar, ikon dan simbol yang mirip.

Dalam homili, Pastor Andrei menceritakan banyak kisah persahabatan dan persaudaraan kedua orang kudus itu, misalnya nama ibu yang sama, “nama ibu Santo Fransiskus Assisi adalah Yohana Madona Pica dan nama ibu Santo Dominikus adalah Beata Yoana de Aza.”

Juga diceritakan bahwa Paus Innocentius III pernah bermimpi tentang Dominikus dan Fransiskus yang dengan cara masing-masing yang berbeda mempertahankan gereja yang roboh, namun bukan fisiknya tapi rohani umatnya yang terlantar karena ajaran albigensianisme.

Santo Dominikus meninggal 5 tahun lebih awal dari Santo Fransiskus, namun, jelas imam itu, cara meninggal kedua orang kudus itu hampir mirip, dikelilingi saudara-saudaranya dalam doa dan sebelum meninggal mereka mengatakan “lebih berguna saya kembali  ke rumah bapa untuk mendoakan saudara-saudariku yang ada dunia ini dan bisa menyelamatkan lebih banyak orang lain.”

Pastor Andrei berharap hubungan persaudaraan yang dirajut dalam persahabatan kedua orang kudus itu “menjadi permenungan bagi para pengikutnya untuk tetap melanjutkan tugas perutusan tanpa batas, yakni keberpihakan kepada orang-orang kecil dan lemah,” dan untuk “terus merawat ikatan persaudaraan sejati dengan keunikan masing-masing, namun punya kesamaan dalam satu kesatuan.”

Biarawan Dominikan mengaku banyak mengenal Santo Fransiskus, “sehingga saya pun membuat kartu kenangan-kenangan tahbisan yang menggambarkan kedekatan saya dengan Fransiskus, yaitu gambar gambar Santo Fransiskus dan Santo Dominikus berpelukan,” karena “dalam kehidupan kita juga diajak bisa seperti mereka, menjadi orang kudus.”

Pastor Andrei ingat kawannya, kakak-beradik yang “bersemangat” mau masuk Dominikan. Tapi dalam perjalanan, sang kakak lebih dulu masuk Dominikan. “Saya pikir, nanti adiknya akan ikut juga. Tapi cara Tuhan sungguh berbeda, setelah lulus Fakultas Teknik di Surabaya seperti kakaknya, beberapa tahun kemudian sang adik masuk Fransiskan. Meskipun demikian, sang adik (Fransiskan) lebih dulu ditahbiskan, dan sang kakak (Dominikan) baru ditahbiskan sekitar satu setengah tahun lalu,” cerita imam itu.

Pastor Mayong membenarkan hubungan Santo Fransiskus Assisi dan Santo Dominikus seraya menegaskan bahwa yang perlu menjadi keutamaan dalam hidup Fransiskan dan Dominikan adalah “persaudaraan.” Persaudaraan atau ‘fraternitas’, menurut imam itu, merupakan identitas dan keutamaan yang mampu menerobos segala batasan, sekat-sekat dan struktur-struktur yang membeda-bedakan status, kelas, suku, budaya, dan agama, yang dijadikan alat oleh mentalitas individualisme zaman kini.”

Ketika banyak orang zaman modern mengagungkan kekuasaan, kekayaan dan kebebasan, lanjut imam itu “para Fransiskan dan Dominikan tampil memberikan kesejukan, pengharapan dan kasih yang terpancar dalam persaudaraan sejati.”

Menurut Mgr Agus, Fransiskan patut berbangga karena memiliki tokoh luar biasa, Santo Fransiskus Assisi. “Jika kita semua pengikutnya bisa seperti itu maka kita bisa mengubah dunia. Mari promosikan keteladanan dan cara hidup Santo Fransiskus melalui kesaksian nyata hidup kita masing-masing,” pinta Mgr Agus. (PEN@ Katolik/Sr M Seba SFIC, pcp)

IMG_20181004_201039 (1)
Misa yang dipimpin Mgr Agustinus Agus dengan konselebran para imam Kapusin dan Dominikan. Foto Komsos KAP/aldi&afra
Persahabatan  di antara biarawan Fransiskan dan Dominikan. Komsos KAP/aldi&afra
Persahabatan di antara biarawan Fransiskan dan Dominikan. Komsos KAP/aldi&afra
Biarawan-biarawati Fransiskan dan Fransiskanes  yang tergabung dalam komunitas Keluarga FransiskanFransiskanes Pontianak (KEFRAP) dakam Misa Pesta Satnto Fransiskus. Komsos KAP/aldi&afra
Biarawan-biarawati Fransiskan dan Fransiskanes yang tergabung dalam komunitas Keluarga FransiskanFransiskanes Pontianak (KEFRAP) dakam Misa Pesta Satnto Fransiskus. Komsos KAP/aldi&afra

Tinggalkan Pesan