20180815_185607

Seraya mendaraskan Doa Rosario diselingi lagu Ave Maria, malam hari itu lebih dari 2000 umat Katolik berjalan sambil memegang lilin, yang apinya berpendar-pendar terkena angin, mengarak patung Maria yang ditandu para calon imam dari pelataran patung Maria Assumpta Ambarawa, melalui taman doa, dan tiba di lokasi Gua Maria Ambarawa.

Di depan gua mereka merayakan Misa HUT Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) 15 Agustus 2018. Di malam hari itu “kita semua bergembira karena Gereja semesta merayakan Hari Raya Bunda Maria Diangkat ke Surga, dan itu bertepatan dengan HUT ke-64 Gua Maria Kerep Ambarawa. Dalam bahasa Jawa menjadi Tumbuk Agung,” Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko mengawali homilinya.

Homili Misa bertema “Peran Maria sebagai Pemersatu Para Putra” (Kenya Mariyah Suhing para Putra) dibawakan oleh Mgr Rubi secara interaktif diselingi hal-hal jenaka sehingga umat tertawa. Selain pertanyaan menakutkan, Mgr Rubi bertanya, “Apa yang menggembirakan sesudah umat menikah?” Umat memberi jawaban beragam, di antaranya, “ketika anak-anak lahir.”

Dari pengalaman mendampingi keluarga, Mgr Rubi menemukan, ketika anak-anak sudah besar, banyak keluarga kuatir akan anak-anaknya karena godaan narkoba, pergaulan bebas, dan ketidakrukunan. “Inilah kepedihan luar biasa orang tua, apalagi kalau anak-anaknya berkelahi, saling mendiamkan, dha jothakan, tak mau rukun. Sedih!” kata Mgr Rubi.

Menurut Mgr Rubi, tema Misa itu hendak merenungkan mengenai Bunda Maria sebagai suhing para putra, “mau mengajak kita semua melihat keprihatinan orang tua masing-masing kalau melihat anak-anak pada congkrah (tidak rukun), kalau melihat anak-anak pada konflik, pada berkelahi dan menimbulkan perselisihan.”

Bunda Maria, tegas Mgr Rubi, mempunyai jiwa seorang ibu yang bisa menjadi tali pengikat untuk anak-anaknya, dan itu bisa dirasakan di GMKA, tempat “umat dari berbagai tempat berkenan datang berdoa bersama karena Bunda Maria.”

Mgr Rubi berharap, semangat Bunda Maria yang menyatukan semua anak-anak menjadi inspirasi umat Katolik untuk mewujudkan kesatuan umat Allah. “Bunda Maria adalah Bunda kita sing iso ngesuhi, yang menjadi suh, tali pengikat kita semua. Di balik itu ada harapan agar umat Katolik yang terdiri dari berbagai macam orang, berbagai macam latar belakang keluarga, pendidikan, budaya, apa pun itu bisa mewujudkan kesatuan sebagai umat Allah, orang-orang yang telah ditebus.”

Menurut Mgr Rubi, Bunda Maria akan sedih melihat anak-anaknya konflik tidak bisa bersatu. Maka, “kita semua diajak menjadi pembawa kedamaian, pembawa kerukunan dalam lingkup kehidupan masing-masing, di rumah dengan bojo (pasangan) ya rukun, karo wong tua (dengan orang tua) ya rukun, dengan kakak adik juga rukun. Dengan tetangga juga rukun menaburkan kedamaian, menaburkan keramahtamahan satu sama lain.”

Tentang belajar membangun kesatuan dan kebersamaan, Mgr Rubi mengajak umat belajar dari Bunda Maria ketika mengunjungi sepupunya, Elisabeth. “Salah satu modal utama untuk menjaga kesatuan adalah keberanian menempatkan orang lain pada posisi yang pertama, yang lebih penting daripada saya,” ungkap prelatus itu seraya mengenang Maria yang sedang mengandung rela naik bukit untuk mengunjungi sepupunya Elisabeth yang membutuhkan pertolongan lebih.

“Kalau dalam kehidupan bukan egoisme yang kita tanamkan, sebaliknya kepentingan pihak lain, orang lain kita anggap yang paling utama, yang paling penting, yang mesti kita prioritaskan, maka di situ kerukunan, kesatuan akan terwujud,” kata uskup.

Bunda Maria dan Bunda Elisabeth, adalah dua pribadi yang sungguh saling melengkapi, saling memuji, karena saling menempatkan pihak lain menjadi pribadi yang lebih utama. “Kalau bisa seperti ini, saya yakin konflik, perselisihan tidak akan terjadi, atau bisa kita singkirkan, termasuk dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat,” kata Mgr Rubi yang mengajak umat menyambut tahun demokrasi dengan membawa damai. “Jangan sampai perbedaan pilihan politik menimbulkan perpecahan di antara kita, termasuk ketika mau mendukung calon-calon yang ada di antara kita, jangan sampai menimbulkan perpecahan,” minta uskup.

Menurut ketua tim pengelola GMKA Alamsyah Jaynurdin, selama ini GMKA menjalin tali persaudaraan dalam keberagaman dengan masyarakat sekitar GMKA dan pemerintahan setempat. Jelang perayaan HUT itu, tim itu bersama masyarakat sekitar menggelar kenduri, 14 Agustus 2018. “Kita semua membaur bersama sambil tukar pikiran untuk kerukunan dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” katanya. (Lukas Awi Tristanto)

Artikel Terkait:

HUT Gua Kerep Ambarawa Mgr Rubi ajak umat bersukacita karena Maria setia memperhatikan

Alamsyah Djaynurdin berkomitmen kembangkan GMKA dan jadi bentara peradaban kasih

Umat Katolik diajak gunakan logika pastoral belas kasih dalam hidup sehari-hari

Di depan Gua Maria Ambarawa umat diminta tingkatkan persatuan

Mgr Sunarka: kerendahan hati Bunda Maria menarik banyak orang

20180815_181134

20180816_082402

 

 

Tinggalkan Pesan