MERAUKE, Pena Katolik – Keuskupan Agung Merauke (KAMe) terus menunjukkan komitmen nyata dalam bidang kemanusiaan dan kesehatan. Melalui program Sub-Recipient Keuskupan Agung Merauke (SR KAMe) yang bekerja sama dengan Persatuan Karya Dharma Kesehatan Indonesia (Perdakhi), pihak Keuskupan proaktif mengambil bagian dalam upaya pemberantasan penyakit malaria di wilayah Provinsi Papua Selatan.
Badan Pengawas SR KAMe Program Malaria Perdakhi yang juga menjabat sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Merauke, Romo Hendrikus Kariwop, MSC, mengungkapkan rasa syukur atas berjalannya program ini. Menurutnya, program pemberantasan malaria di tiga wilayah cakupan KAMe—yakni Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, dan Kabupaten Mappi—telah berjalan dengan sangat baik meski diperhadapkan pada berbagai tantangan.
“Kerja sama antara Keuskupan Agung dan Perdakhi selama ini telah sangat membantu penuntasan penyakit malaria di wilayah pelayanan kami. Ini adalah hal yang perlu kita apresiasi bersama,” ujar Romo Kariwop pada Jumat, 12 Juni 2026.
Romo Kariwop memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para dokter dan tenaga medis yang terlibat. Ia menyebut para dokter tersebut memiliki dedikasi luar biasa dan siap pakai, bahkan terlibat penuh dalam organisasi karena rasa belas kasih yang mendalam terhadap para penderita malaria.
Apresiasi serupa juga dialamatkan kepada seluruh pengurus Perdakhi, tim SR KAMe yang diwakili oleh dr. Adolf Y. J. Y. Bolang, serta para petugas kesehatan di tingkat Sub-Sub Recipient (SSR) kabupaten yang bertugas memfasilitasi para kader di setiap kampung.
“Termasuk seluruh kader malaria di tiga kabupaten (Merauke, Boven Digoel, dan Mappi), mereka sangat berkualitas. Keuskupan Agung Merauke merasa terhormat diberikan kepercayaan oleh badan dunia untuk mengambil bagian dalam program kemanusiaan ini di Indonesia Timur,” tambah Romo Kariwop.
Ia tidak menampik bahwa medan pelayanan di Papua Selatan sangat berat. Para tenaga medis kerap bertaruh nyawa, berhadapan dengan tantangan jarak yang jauh, hingga keterbatasan kendaraan demi misi kemanusiaan ini.
Penanggung Jawab Program Perdakhi KAMe, dr. Adolf Y. J. Y. Bolang, menegaskan bahwa fokus pelayanan program malaria ini spesifik berada di bawah wilayah geografis Keuskupan Agung Merauke.
“Meskipun berada dalam satu Provinsi Papua Selatan, program ini tidak mencakup wilayah Keuskupan Agats-Asmat karena mereka memiliki struktur Perdakhi tersendiri,” jelas dr. Adolf.
Lebih lanjut, dr. Adolf menjelaskan bahwa Perdakhi bergerak dengan mengemban visi dan misi Gereja Katolik Keuskupan Agung Merauke. Dalam pelaksanaannya, program penanggulangan malaria ini didanai melalui dua jalur utama, yaitu lembaga donor internasional Global Fund serta pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
“Untuk kawasan Timur, kami bekerja sama dengan perwakilan Keuskupan Agung Merauke dengan cara turun langsung ke seluruh Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), serta semua fasilitas kesehatan yang menangani penyakit malaria,” terangnya.
Di sisi lain, tantangan riil di lapangan digambarkan oleh Sitti Fransina, staf Perdakhi Keuskupan Agung Merauke. Saat ini, ada sekitar 500 kader malaria yang tersebar di wilayah pelayanan KAMe. Tugas utama mereka adalah mendeteksi dini penularan malaria dan berkoordinasi dengan Puskesmas maupun Pustu setempat.
Sitti menceritakan bagaimana para kader harus bertaruh fisik menembus hutan belantara demi memeriksa kondisi kesehatan warga.
“Semua kendala pasti mereka hadapi langsung di lapangan. Terkadang masyarakat yang dicari sedang tinggal di bevak (tenda/pondokan sementara di hutan) atau tempat terpencil lainnya. Namun, para kader kita tetap setia menjalankan tugasnya,” pungkas Sitti. (Agapitus Batbual/Merauke)



