Kisah Santa Barbara Cui Lianshi: Ibu Heroik asal Tiongkok yang Gugur demi Iman

Hingga saat ini, belum banyak hari raya liturgi yang didedikasikan secara khusus untuk menghormati orang kudus dari Tiongkok. Sebagian besar dari mereka disatukan dalam satu perayaan tahunan setiap bulan Juli, di bawah nama Santo Agustinus Zhao Rong dan 119 Rekan-rekan Martirnya.

Ketika sebuah perayaan iman dirayakan secara berkelompok seperti ini risikonya adalah banyak kisah kesaksian heroik dari individu perorangan yang perlahan terlupakan. Kebiasaan ini sering diterapkan Gereja untuk para martir dari berbagai belahan dunia.

Namun, jika menilik Martirologium Romanum (buku daftar resmi para martir Gereja Katolik), Gereja sebenarnya mencantumkan hari-hari spesifik untuk para “rekan martir” ini. Di dalamnya, nama mereka disebutkan satu per satu secara terperinci, lengkap dengan catatan singkat mengenai perjalanan hidup mereka. Salah satu figur luar biasa tersebut adalah Santa Barbara Cui Lianshi. St. Lianshi adalah seorang ibu asal Tiongkok yang dianiaya dan dibunuh demi mempertahankan iman Katoliknya.

Kesetiaan Seorang Ibu Awam

Martirologium Romanum merangkum ringkasan hidup Santa Barbara Cui Lianshi sebagai berikut: “Di dekat kota Liushuitao, di wilayah Qianshengzhuang, Provinsi Hebei, Tiongkok, Santa Barbara Cui Lianshi, martir. Setelah menyaksikan putranya dibunuh, ia mencoba menyelamatkan diri dengan melarikan diri pada malam hari. Namun, ia tertangkap oleh musuh-musuh Kristiani dan wafat di tengah siksaan yang amat kejam.”

Catatan sejarah lain mengungkapkan bahwa St. Lianshi adalah ibu dari beberapa anak, di mana dua di antaranya berhasil ditumpangkan tangan menjadi imam. Semasa hidupnya. Ia dengan setia membantu anak-anaknya bertugas sebagai seorang sacristan atau koster. Ia juga dikenal luas oleh masyarakat sekitar karena kemurahan hatinya yang luar biasa, salah satunya kerap membantu seorang pengemis.

Ketika persekusi besar-besaran pecah di Tiongkok, St. Lianshi bergegas pergi ke seminari untuk mencari anak-anaknya. Misinya hanya satu, menyelundupkan mereka keluar demi menemukan tempat perlindungan yang aman.

Tradisi Ikat Kaki

Anak-anaknya berhasil meloloskan diri dengan cara bersembunyi di dalam gerobak, dan St. Lianshi pun sempat bertemu kembali dengan suaminya. Malangnya, pelarian mereka tidak berlangsung lama. Sekelompok pemberontak Boxer yang anti-Kristen mengepung mereka.

Di saat beberapa anggota keluarga lainnya berhasil melarikan diri, St. Lianshi tertinggal. Ia tidak mampu berlari cepat karena kedua kakinya cacat, dampak dari tradisi kuno Tiongkok foot-binding (pengikatan kaki) yang dialaminya sejak kecil.

Meskipun tertangkap dan dihadapkan pada ancaman maut, St. Lianshi dengan tegas menolak untuk menyangkal iman Kristianinya. Atas keteguhan hatinya itu, ia dieksekusi mati oleh para pemberontak pada 15 Juni 1900.

Satu abad kemudian, tepatnya pada 1 Oktober 2000, Paus Yohanes Paulus II secara resmi mengkanonisasi St. Barbara Cui Lianshi sebagai Santa. Kini, namanya abadi dan kisahnya terus dikenang bersama 119 rekan martir Tiongkok lainnya yang diperingati Gereja setiap tanggal 19 Juli.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini