yesus-terangkat-ke-sorga

PEKAN BIASA XXIV
Pesta Salib Suci (M)
Santo Yohanes Gabriel Dufresse

Bacaan I: Bil. 21:4-9

Mazmur: 78:1-2.34-35.36-37.38: R: 7b

Bacaan II: Flp. 2:6-11

Bacaan Injil: Yoh. 3:13-17

Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata: ”Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia. Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.”

Renungan

Di Manado, pada masa Prapaskah dan Paskah, kita akan menyaksikan berbagai bentuk dan model salib di banyak tempat; di jalan maupun di rumah-rumah. Di sana memang tidak ada kesulitan untuk memperlihatkan simbol dan ekspresi kekristenan. Akan tetapi, tetap dan pantaslah menjadi pokok refleksi, apakah salib yang terpampang itu masih menjadi tanda keselamatan? Adakah ‘tanda-tanda keselamatan’ dalam cara hidup orang Kristen yang begitu ‘memperlihatkan’ Salib itu kepada dunia?

Pada pesta Penemuan Salib Suci ini, kita diingatkan kembali betapa Salib adalah tanda keselamatan. Pada zaman Musa, hanya mereka yang memandang salib dari ular tembaga yang diselamatkan dari murka Allah atas ketidakpercayaan bangsa Israel. Salib tembaga yang ditinggikan Musa menjadi pralambang dari Dia yang akan (dan telah) ditinggikan di Salib, yakni Yesus Kristus. Yesus, kepada Nikodemus, memaklumkan misteri salib yang ditinggikan sebagai pokok iman yang menyelamatkan. Di kayu Salib kelak akan tergantung Dia yang karena cinta-Nya kepada Bapa-Nya menjadikan Dia taat kepada kehendak Bapa sampai mati di salib.

Salib yang terpajang di gereja dan kapel kita, juga di rumah atau yang dikalungkan di leher kita, bukan sekadar penunjuk identitas kekristenan kita, apalagi sekadar hiasan saja. Kita sadar bahwa di sana tergantung Dia yang menyelamatkan kita. Barangsiapa memandang dan percaya kepada Dia yang tersalib itu, akan diselamatkan.

Ya Allah, semoga aku tidak sekadar berbangga karena memperlihatkan Salib Putra-Mu, tetapi terutama karena diselamatkan oleh iman akan Dia yang tersalib. Amin.

Tinggalkan Pesan