persink

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Banten Bazari Syam  mengatakan, guru-guru yang mengajar agama Katolik bagi siswa-siswi yang tergabung dalam Persatuan Siswa-Siswi Negeri Katolik (Persink) se-Banten agar menjadi teladan dalam berperilaku di sekolah dan di masyarakat.

“Disintegrasi bangsa akhir-akhir ini adalah akibat jauhnya pengamalan agama dalam kehidupan. Mungkin guru hanya bertugas mentransfer ilmu kepada anak didik dan kurang memberikan teladan kepada mereka,” kata Bazari Syam di depan 60 guru pengajar Persink se-Provinsi Banten yang berkumpul di sebuah hotel di Serang, 11-12 Mei 2018.

Guru, hendaknya tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan agama, tetapi yang lebih penting “mengaplikasikan ilmu agama di tengah masyarakat,” lanjut Bazari Syam dalam pertemuan yang dilaksanakan Bimas Katolik Banten untuk mendengarkan pengalaman guru Persink.

Mengamati berbagai kendala antara lain keterbatasan bahan ajar dan rendahnya motivasi orangtua untuk mendorong anaknya ikut Persink, kepala kantor kemenag itu berharap, meskipun gaji atau honor kecil, para guru “tetap ikhlas dan melakukan tugas dengan penuh tanggungjawab.”

Seorang guru Muslim, yang juga mengajar agama Islam, kisah Bazari Syam, secara riil tidak bisa menghidupi tiga orang anak kalau hanya mengandalkan honor dari sekolah tempat ia mengajar. Tapi karena keikhlasan, dengan rasa tanggungjawab, ternyata Tuhan memberikan rezeki dengan cara lain, dia mendapat keuntungan dengan menjadi perantara menjual motor dan tanah. “Inilah yang disebut ‘Rahmat Tuhan itu tidak jauh,’ kalau semua dijalankan dengan ikhlas,” tegasnya.

Sementara itu terdengar juga beberapa keluhan. Anggota tim kateketik dari Keuskupan Bogor Lorensius Atrik Wibawa mengelukan kesulitan bahan ajar dan menganjurkan guru selalu bekerja sama yang erat dengan Bimas Katolik setempat. “Kadang-kadang kesulitan tidak dikomunikasikan, maka tidak diketahui. Mulai sekarang coba bekerja sama dengan Bimas Katolik,” harapnya.

Agustina Maryati, guru Persink di Paroki Kristus Raja Cikande bagian timur mengatakan hanya enam guru Persink yang melayani 120 murid di daerahnya, apalagi “jarak rumah murid dengan tempat pembelajaran jauh, maka kadang anak-anak tidak datang.”

Rosa Ruwiyani, pengajar Persink di Kedaung, Sepatan, Tangerang, mengatakan hal yang sama bahwa banyak anak tidak hadir dalam sekolah minggu karena tidak diantar oleh orang tua mereka. Menurut catatan PEN@ Katolik, sekolah minggu terkadang menghadapi masalah juga di Paroki Odilia, Citraraya, karena untuk transportasi seorang anak dari daerah Solear harus mengeluarkan uang sebesar 50 ribu rupiah sekali jalan ke gereja.

Selama setahun, Pembimbing Masyarakat Katolik Banten Osner Purba selalu melakukan kunjungan ke paroki untuk menjalin kerja sama dengan pastor paroki dalam mengatasi kesulitan itu. “Kepala paroki bukan atasannya Pembimas Katolik atau sebaliknya, tetapi keduanya adalah mitra, yang berarti saling bekerja sama menyelesaikan problem yang dialami umat Katolik, termasuk guru Persink,” katanya. (Konradus R. Mangu)

Tinggalkan Pesan