IMG_2020

“Tahun ini sungguh istimewa bagi Ordo Dominikan (OP). Perjalanan peziarahan kasih dalam karya dan pelayanan tak terasa sudah 800 tahun. Keistimewaan menjadi nyata tatkala Paus Fransiskus mengumumkan tahun ini adalah Tahun Yubileum Belas Kasih yang bertepatan dengan Tahun Yubileum Ordo Dominikan. Kehadiran dan pewartaan Ordo Dominikan selalu peduli dengan belas kasih. Belas kasih selalu menjadi bagian dari spiritualitas Dominikan. Kita dipanggil mewartakan dan menanamkan Belas Kasih Allah dalam kehidupan umat seperti yang dimulai Santo Dominikus dan para pengikutnya 800 tahun lalu.”

Kata-kata itu diungkapkan oleh Vikjen Keuskupan Purwokerto Pastor Tarcisius Puryatno Pr dalam Kata Pengantar  Misa Yubileum 800th Ordo Pewarta dengan tema “Sent To Preach the Gospel” yang dipimpin Uskup Bandung, yang juga Uskup untuk Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia, Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, di Katedral Purwokerto, 28 Agustus 2016.

Misa itu dihadiri sekitar 600 orang. Sebanyak 65 di antaranya adalah Dominikan Awam dari Jakarta,  Yogyakarta, Surabaya, dan Cirebon, 71 Suster OP dari Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bandung, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Purwokerto, Keuskupan Surabaya dan Keuskupan Larantuka. Para konselebran adalah Uskup Purwokerto Mgr Julianus Sunarka SJ, Vikjen Purwokerto Pastor Tarcisius Puryatno Pr, Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto Pastor Bonifasius Abbas Pr, Rektor Skolastikat SCJ Yogyakarta Pastor FX Tri Priyo Widarto SCJ, Direktur Spiritualitas MSF Salatiga Pastor Margo Murwanto MSF dan Dosen STT Pastor Bonus Pontianak Pastor Johanes Robini Marianto OP. Hadir juga wakil Bupati Banyumas, Jawa Tengah, dr Laurentius Budhi Setiawan.

“Dunia yang benar-benar adil terwujud bila sungguh ada belas kasih, kasih sayang, dan pengampunan. Dunia sekarang membutuhkan kesaksian karya belas kasih, pengertian, persaudaraan dan pengampunan. Para anggota Ordo Pewarta diundang dan diutus untuk bertindak seturut perintah Tuhan ‘Pergilah ke seluruh dunia dan beritakan Injil.’ Perintah ini selalu relevan dan menjawab karya perutusan dalam segala situasi dan keadaan jaman,” lanjut pengantar Misa yang dimeriahkan oleh Paduan Suara Dominic Choir dari Cirebon dan Kana Choir dari Purwokerto.

Misa diawali perarakan penari malaikat, misdinar, pembawa logo 800 Tahun OP, kapal yang melambangkan perjalanan Ordo Pewarta, patung Santo Dominikus, wakil-wakil Keluarga Dominikan (frater, suster, dan awam), dewan kongreasi para suster OP, para pastor dan uskup. Karena kesehatan kurang baik, Mgr Sunarka sudah berada lebih dahulu dalam katedral ditemani pastor paroki. Selama Misa, Mgr Sunarka tetap duduk kecuali saat memberikan sambutan seusai Misa.

Dalam homili, Mgr Subianto bertanya apakah Keluarga Dominikan sungguh sudah mewartakan Kristus sebagai tugas paling penting atau hanya sekedar basa-basi. “Kita diundang melakukan basa-basi dengan sikap tulus melalui perkataan dan perbuatan yang murah hati dan penuh belas kasih sebagaimana kita telah menerima segala sesuatu dari Allah. Kita diajak merendahkan diri di hadapan Tuhan agar Tuhan makin mempercayakan rahmat-Nya lebih lagi kepada kita untuk dibagikan tanpa pamrih kepada sesama yang membutuhkan saluran rahmat Tuhan.”

Diharapkan agar semakin besar pangkat dan jabatan seseorang makin rendah hati orang itu di hadapan Tuhan dan semakin tulus di hadapan sesama. “Semoga kita menjadi orang besar yang rendah hati di hadapan Tuhan dan tulus hati kepada sesama. Hanya orang yang tulus hati seperti inilah yang dapat mewartakan Injil sebagaimana diminta oleh Santo Dominikus,” tegas Mgr Subianto.

800 tahun Ordo Pewarta, lanjut Uskup dari Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus Indonesia itu, merupakan ajakan untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali hidup Dominikus saat ini. “Tadi saya merenungkan aspek  kontemplasi Santo Dominikus sebagai pewarta yang ulung dan berani. Tidak mungkin seseorang menjadi pewarta yang berani membela kebenaran dan kebaikan Injil tanpa basa-basi kalau dia tidak memiliki kedekatan dengan Tuhan yang mengatakan ya kalau ya dan tidak kalau tidak!”

Mgr Sunarka menyambut baik karya-karya Ordo Pewarta selama 800 tahun, khususnya karya-karya di Keuskupan Purwokerto dan Indonesia. Tahun 1931, cerita uskup, suster-suster OP mulai berkarya di Cilacap, yang masuk wilayah keuskupannya. Kemudian sekelompok suster yang sudah ada lebih dahulu meminta para suster OP menangani bahkan mengambil alih sekolah yang mereka garap. Tahun 1938 jumlahnya jadi 11 orang. Keadaan perang memaksa pusat kongregasi berpindah-pindah, dan akhirnya tiba di Keuskupan Bandung. Para suster OP pun menjadi “putri khusus” Keuskupan Bandung dan sekarang “Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC menjadi pimpinan (uskup) para suster OP seluruh Indonesia,” kata Mgr Sunarka. Menurut data provinsialat, kongregasi itu menjadi mandiri di bawah Keuskupan Bandung, 12 Desember 1987.

Tahun ini, kongregasi itu berusia 85 tahun. Menurut Mgr Sunarka, itu menjadi kebanggaan umatnya. “Keuskupan Purwokerto memiliki suatu maknit. Saya terima kasih bahwa sekarang para suster berkarya bukan hanya di pendidikan tetapi rumah sakit. Itu semua kerasulan Keuskupan Purwokerto yang saya syukuri. Maka hendaknya OP maju terus, pantang mundur,” kata Mgr Sunarka seraya mengajak semua umat bernyanyi lagu “Maju Tak Gentar.” Semua umat dalam katedral pun bernyanyi.

Puncak Yubileum 800th Ordo Pewarta dirayakan dalam tiga bentuk, yakni bakti sosial, hari studi yang membicarakan “Kerahiman Allah dan Yubileum Ordo” dengan narasumber Pastor Edmund Nantes OP dan Laudato Si’ dengan narasumber Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, serta perayaan Syukur dalam bentuk Misa, pameran, dan pentas seni dari para murid dan guru sekolah-sekolah yang dijalankan para suster OP, serta dari komunitas-komunitas suster OP seluruh Indonesia.

Menurut superior jenderal  kongregasi itu, Suster M Anna Marie OP, satu tekad hasil pembicaraan Laudato Si’ adalah pembagian benih-benih ke komunitas-komunitas untuk ditanam dan dirawat “agar bumi sungguh menjadi bumi yang sejuk.” Selain itu, para Dominikan diajak memperbaharui pewartaan dan perutusan mereka sehingga menjadi pewarta yang bersukacita.

Dijelaskan, Keluarga Dominikan Indonesia memaknai perayaan 800 tahun dengan aneka kegiatan. “Ini puncaknya, tapi masih akan ada banyak kegiatan sampai ditutup bulan Januari 2017. Kita sudah rekoleksi, studi bersama, membuat komitmen bersama, bakti sosial, live-in, dan nanti sesudah Misa kita akan mengekspresikan kegembiraan dan sukacita dalam kegiatan-kegiatan, dalam kerajinan tangan, dalam kreasi dan tarian dari daerah tertentu di mana kita hadir membawa sukacita.”

Sesudah Misa, masih dalam katedral, dua buah lagu “Persembahan Hati” dari album 800th Ordo Pewarta dan “Ave Maria” dari album Mirelle-Anthony dikumandangkan bersama dua artis Katolik dari Surabaya yang menjadi sahabat Dominikan, Mirelle dan Anthony, serta tiga suster yakni Suster M Olivia OP, Suster Averina OP dan Suster M Lurgardis OP.

Setelah para tamu memasuki Paschalis Hall di samping katedral, Keluarga Dominikan Indonesia menyusul dalam perarakan. Di tengah jejeran pameran kerajinan, makanan kecil dan minuman, serta cenderamata hasil karya semua komunitas suster serta Dominikan Awam, perarakan itu berhenti di depan sekumpulan balon hitam putih yang di bawahnya bergantung spanduk bertuliskan Yubileum 800 Tahun Ordo Pewarta 1216-2016 dengan logo yubileum dan logo OP. Suster Anna Marie OP menggunting pita yang mengikat balon-balon dan balon-balon itu terbang mengangkasa.

Lagu Ordo Pewarta “Laudare, Benedicere, Praedicare” serta Salam Yubileum “Sent to Preach the Gospel, Yes!” berkali-kali terdengar membahana mengisi seluruh sudut Paschalis Hall. Di sana Tumpeng Yubileum 800th Ordo Pewarta dipotong oleh Mgr Subianto yang didampingi para mantan provinsial  suster-suster OP. Potongan tumpeng diserahkan kepada Suster M Angelica OP yang berusia 79 tahun.

Ordo Pewarta sudah berusia 800 tahun,  Kongregasi Suster-Suster Santo Dominikus di Indonesia sudah berusia 85 tahun, para imam OP sudah 11 tahun hadir di Indonesia, dan menurut  Koordinator Dominikan Awam Nasional Theo Atmadi OP, Dominikan Awam baru 8 tahun berada di Indonesia. “Kami sungguh berharap bahwa dalam peristiwa semacam ini kita bisa bekerja dan belajar bersama, bukan sekedar mengisi apa yang ada sekarang ada tetapi melihat ke depan, semakin mewarnai kerasulan di Gereja Indonesia dengan kemurahan hati,” katanya.

Di aula itu, di pagi hari sebelum Misa, anak-anak sekolah dari berbagai sekolah yang dijalankan para Suster OP menampilkan berbagai pentas seni. Dan sesudah Misa, semua komunitas para suster di Indonesia menampilkan juga berbagai pertunjukan seni yang diselingi lakon orang tua dari Santo Dominikus yakni Yohana de Aza dan Felix de Guzman sampai saat persetujuan ordo itu oleh Paus Honorius III tanggal 22 Desember 1216.(paul c pati)

IMG_2115

IMG_2189

IMG_2052

IMG_2152

IMG_1963

IMG_2064

IMG_2136

 

 

 

Tinggalkan Pesan