Yosef Pekerja

Kadang orang mengenal kita karena latar belakang. Orang melihat kita karena orangtua atau kakek nenek kita. Tidak jarang kita membawa nama keluarga ke tempat umum. Bahkan orang lebih mengenal orangtua dibandingkan kita. Cukup wajar karena nama mereka melekat pada kita. Tapi, kita pun tidak bisa jadi diri sendiri karena ‘stigma’ atau cap yang melekat pada kita. Hari ini Yesus mendapat perlakukan sama, cap dari orang sekampung. Mereka ragu melihat Yesus yang begitu berhikmat sedangkan mereka tahu orangtua dan sanak saudaranya. Cap itu membuat mereka tidak bisa melihat jelas. Mereka terkurung dengan pemikiran bahwa Yesus adalah anak Yusuf si Tukang Kayu. Kita juga sering memberi cap (label) kepada orang sekitar. Sulit rasanya melihat dengan perspektif lebih luas. Kita hanya tahu sebatas yang kita lihat tanpa menelusuri lebih jauh. Sama seperti orang-orang di kampung Yesus yang meragukan kemampuan orang lain. Hari ini kita juga diajak meneladani Santo Yusuf, pekerja. Dalam Injil, kita jarang menemukan cerita tentang dirinya. Tapi banyak keteladanan dapat diambil. Sebagai ayah dan pekerja, Santo Yusuf mengingatkan bahwa dalam kesunyian dan keheningan ia dapat melakukan tanggung jawab sebagai ayah untuk Yesus. Kita diajak meneladani Santo Yusuf lewat keheningan, ketaatan serta kerendahan hati dalam berkerja serta melaksanakan kehendak Allah. Dialah pribadi yang tidak banyak bicara tapi melakukan rencana Allah. Kita pun harus demikian. Sahabat, pekerjaan adalah bagian hidup ini dan jangan jadikan hidup kita sebagai budak pekerjaan. Syukuri pekerjaan kita, jalani dengan senang hati dan contohi Santo Yusuf, dan akhirnya Allah ikut ambil bagian dalam pekerjaan itu.(FRAY.EL.OP)

Tinggalkan Pesan