20-Juli-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XVI (H)

Elia, Nabi; Santa Margaretha dr Antiokhia; Santo Vinsent Kaun

Bacaan I: Kel. 14:5-18

Mazmur: Kel. 15:1-2.3-4.5-6; R:1

Bacaan Injil: Mat. 12:38-42

Sekali peristiwa berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus! Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama angkatan ini dan ia akan menghukumnya juga. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengar hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo!”

Renungan

Salah satu alasan mendasar mengapa Yesus memberi cap kepada orang Farisi dan ahli Taurat, sebagai angkatan yang jahat adalah karena mereka menuntut Allah memberi suatu tanda yang sejalan dengan pikiran mereka, dan bukan menurut pikiran Allah. Mereka memaksa Allah untuk bertindak dan berbuat seturut apa yang ada dalam pikiran dan kehendak mereka. Seolah-olah kalau Allah bertindak lain, maka Dia bukan lagi Allah yang benar yang layak diimani.

Tanpa disadari, pikiran orang Farisi dan ahli Taurat seperti itu hadir juga dalam pikiran orang beriman Kristiani dewasa ini. Dalam doa-doa, misalnya, banyak orang beriman Katolik menuntut kepada Tuhan mukjizat penyembuhan dari sakit, pembebasan dari kuasa kegelapan, atau keselamatan dari kecelakaan dan marabahaya. Keinginan itu menjadi sedemikian kuat, sehingga ketika permohonan itu tidak terlaksana, banyak orang yang menjadi putus asa, merasa tidak diperhatikan Allah, dan akhirnya meninggalkan imannya. Mereka menuntut Tuhan untuk memberikan suatu tanda ajaib, dan memaksa Tuhan bekerja hanya melalui tanda yang diharapkan itu.

Tuhan tidak layak dipenjarakan dalam bingkai pikiran dan kehendak manusiawi semata. Tuhan dapat hadir dan bekerja melalui sesuatu yang berada jauh dari jangkauan pikiran dan kehendak kita, dengan pikiran dan kehendak-Nya sendiri. Tugas kita adalah memiliki mata iman yang bening agar sanggup melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita.

Tuhan, berikanlah aku mata iman yang bening, agar mampu melihat tanda kehadiran-Mu di balik semua peristiwa hidupku, dan tidak memaksa Engkau bertindak seturut kemauanku. Amin.

 

Tinggalkan Pesan