20-Juni-KWI-R-702x336

PEKAN BIASA XI (H)
Santo Silverius, Paus

Bacaan I: 2Kor. 12:1-10

Mazmur : 34:8-9.10-11.12-13; R:9a

Bacaan Injil: Mat. 6:24-34

Dalam khotbah di bukit, Yesus bersabda:  ”Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan mem­benci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu khawatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”

Renungan

Ketika Yesus mengajarkan para murid untuk tidak cemas terhadap apa yang mereka makan, minum, atau pakai, itu tidak berarti bahwa mereka tidak perlu membuat rencana untuk masa depan. Rencana untuk masa depan tetap dan malah harus dibuat. Hal yang tidak diinginkan Yesus adalah kecemasan yang berlebihan. Kalau Allah bisa memperhatikan burung di udara dan bunga bakung di padang, betapa pula Dia akan memperhatikan manusia yang merupakan mahkota ciptaan-Nya. Lagi pula, akankah kecemasan akan menyelesaikan persoalan? Sama sekali tidak. Kecemasan yang berlebihan justru akan membuat persoalan bertambah rumit.

Hal yang paling penting adalah membuka diri terhadap kekuasaan Allah. Percaya diri berlebihan dan menganggap diri seolah-olah sebagai pengatur kehidupan akan membawa malapetaka. Paulus dalam bacaan pertama hari ini merasakan bahwa kekuatannya terletak pada Allah. Allah adalah pengatur kehidupan. Ketika dia merasa diri lemah, maka dia menjadi kuat karena di dalam kelemahan itu Allah menyempurnakan kekuasaan-Nya. Intinya adalah keterbukaan terhadap Allah sebagai Penguasa atas kehidupan kita. Di situlah terletak keamanan kita sesungguhnya.

Tuhan, anugerahkanlah aku iman yang teguh akan penyelenggaraan-Mu yang ilahi dalam hidupku. Amin.

 

 

Tinggalkan Pesan