IMG_0203

Di akhir tahun lalu, Uskup Agung Semarang memberkati sebuah seminari yang juga merupakan tempat bagi para frater untuk mengenal masyarakat sekitar. “Itu berarti kita harus mengenal kota Semarang, mengenal segala masalahnya, juga masalah kemiskinan yang digendong oleh kota Semarang ini,” kata Mgr Johannes Pujasumarta.

Dengan mengenal realitas masyarakat, lanjut uskup agung itu, para frater diharapkan sungguh-sungguh menghayati kehidupan doa yang kontekstual. “Kami dulu membahasakannya dengan membangun spiritualitas Yesus, spiritualitas yang disebut inkarnatoris, Allah yang betul-betul mau ajur ajer (melebur) bersama dengan masyarakat.”

Seminari itu bernama Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Sanjaya Jangli, Semarang, yang diresmikan oleh Justinus Kardinal Darmojuwono, 4 Juli 1981, sebagai tempat untuk unjal ambegan (menghela nafas sesaat) bagi para seminaris sebelum memasuki seminari tinggi. Seminari itu selesai direnovasi atau dibangun kembali dan diberkati oleh Mgr Pujasumarta tanggal 27 Desember 2014.

Benar, seminaris perlu menghela nafas sebentar, karena Mgr Pujasumarta mengamati bahwa di Seminari Menengah Mertoyudan para seminaris “dikejar-kejar dengan berbagai macam tuntutan untuk menyelesaikan karya tulis dan ujian-ujian, sehingga kadang-kadang doa dilupakan, padahal itu yang penting supaya hidup doa menjadi semakin baik.”

Agar doa-doa sungguh konkret, lanjut Mgr Pujasumarta dalam Misa pemberkatan itu, perlu pintu keluar untuk memberikan mereka inspirasi, yakni kelompok Pelayanan Sosial Garam dan Ragi Masyarakat (PS Garam) yang dibentuk bersama orang-orang muda untuk mendampingi anak-anak miskin kota. Seminari TOR itu pun menjadi tempat bersama untuk merefleksikan kegiatan PS Garam.

“Tidak cukup mengenal kemiskinan dengan angka-angka dan pengetahuan. Kalau sungguh-sungguh mau mengenal kemiskinan berarti terus terlibat dalam masalah-masalah kemiskinan, berjumpa dengan anak-anak miskin, dan keluarga-keluarga miskin itu,” tegas Mgr Pujasumarta.

Gereja Keuskupan Agung Semarang adalah Gereja Papa Miskin, tegas Mgr Pujasumarta. “Saya menginginkan supaya Gereja Papa Miskin itu betul-betul diwujudkan dalam kehidupan para frater dan komunitas Tahun Orientasi Rohani.”

Paus Fransiskus, lanjut Mgr Pujasumarta, betul-betul menghendaki agar Gereja seperti rumah sakit di medan perang dan keluar untuk berjumpa dengan orang-orang itu. “Maka disebutkan, sebagai gembala para pastor harus mau mengenali umat sampai mengenali bau domba-dombanya.”

Maka, uskup agung itu berharap selama setahun dalam seminari TOR itu para frater melatih kepekaan-kepekaan dalam menjadi murid-murid Kristus yang sungguh-sungguh membangun sikap mendalam, terutama perjumpaan dengan Tuhan itu menjadi sesuatu yang sangat mendasar. “Maka, spiritualitas yang dibangun adalah spiritualitas Yesus yang berinkarnasi, bersedia sungguh-sungguh menjadi senasib sepenanggungan dengan kita semua.”

Usai homili, dilakukan pemberkatan kapel, kapel adorasi, ruang belajar, kamar tidur seminaris dan beberapa fasilitas seminari lainnya serta penandatanganan prasasti.

Sejak 1981 sampai 2014, seminari itu mendidik 592 calon imam. Menurut Rektor Seminari TOR Sanjaya Pastor Matheus Djoko Setya Prakosa Pr, tempat itu memerlukan perbaikan di berbagai tempat karena beberapa bagian rusak dimakan rayap dan menjadi rapuh, atap pun bocor. Bahkan suatu ketika, seminari di bukit itu dilanda angin puting beliung yang menyebabkan beberapa bagian terangkat, genteng-genteng beterbangan. Seminari itu pun diperbaiki secara keseluruhan.

Banyak orang terlibat dalam perbaikan seminari itu. “Saya percaya bahwa di tempat ini kemudian, terpaterilah wajah-wajah kebaikan Anda semua,” kata Pastor Djoko.

Ketua Tim Pembangunan RC Yunarto Kristantoro mengatakan bahwa proses pembangunan sudah 85 persen. Namun di akhir Januari 2015, para frater yang selama perbaikan itu tinggal sementara di sebuah bangunan milik tarekat MSF di Salatiga akan pindah ke seminari itu. (Lukas Awi Tristanto)

 

Tinggalkan Pesan