Orang tua dari James Foley

Paus Fransiskus menelpon orangtua dari wartawan lepas James Foley, yang dipenggal kepalanya oleh teroris Negara Islam (ISIS) awal pekan ini, dan menghibur keluarga Katolik itu, yang menurut Pastor James Martin SJ asal Amerika, “sangat tersentuh dan berterima kasih” untuk telepon itu, demikian juru bicara Vatikan seperti dilaporkan oleh berbagai media Katolik yang berbasis di Vatikan.

Menurut Direktur Kantor Pers Tahta Suci Pastor Federico Lombardi, pada hari Kamis,21 Agustus 2014, paus secara pribadi menelepon Diane dan John Foley di Negara Bagian New Hampshire, AS, dengan bantuan penerjemah selama 20 menit untuk menghibur mereka atas hilangnya anak mereka.

Tanggal 19 Agustus 2014, kelompok militan ISIS yang menguasai wilayah di Suriah dan Irak, merilis video berjudul “Pesan untuk Amerika,” yang menunjukkan pemenggalan kepala Foley, yang hilang di Suriah tahun 2012. Pejabat AS mengkonfirmasi keaslian video itu. Menurut ISIS, eksekusi Foley merupakan pembalasan atas serangan udara AS terhadap ISIS di Irak. Mereka bahkan memperingatkan masih memiliki wartawan Amerika yang hilang lain yakni Steven Joel Sotloff, dan  hidupnya tergantung pada tindakan Presiden Barack Obama.

Menurut Pastor Paul Gousse dari Paroki dari Paroki Our Lady of the Holy Rosary, telepon Paus Fransiskus itu merupakan sesuatu yang ”besar” bagi keluarga itu. Ketika diculik dua tahun lalu, jelasnya, James Foley yang berusia 40 tahun itu sedang bekerja di Suriah dengan misi “mengekspos cerita-cerita yang masih belum diceritakan” di daerah-daerah konflik.

James Foley juga pernah memasuki wilayah konflik Libya di tahun 2011. Dia diculik juga di sana. Setelah dibebaskan, dia menulis di surat kabar almamaternya, Universitas Marquette yang dijalankan Serikat Yesus. Dalam tulisan itu dia menceritakan bagaimana dia mulai berdoa Rosario dalam tahanan. “(Berdoa Rosario) membantu membuat pikiran saya terfokus,” tulisnya.

Diane dan John Foley bangga bahwa James telah melakukan pekerjaan Tuhan. “Kami tahu Jimmy itu bebas. Dia akhirnya bebas. Dan kami tahu dia berada dalam tangan Tuhan … dan kami tahu dia berada di surga.” John Foley menambahkan, keluarganya percaya bahwa James Foley telah mati sebagai “martir, martir bagi kebebasan.”

Philip Balboni, CEO dari perusahaan tempat James Foley bekerja, GlobalPost, menghargai James Foley. Berbicara tentang “keberanian luar biasa” dari James Foley di depan algojo, Balboni mengatakan bahwa sikapnya yang “tidak pernah mundur” dalam menghadapi kematian mengerikan itu “perlu dihormati,” katanya.

Menurut laporan, ISIS telah meminta uang tebusan sebesar 132 juta dollar AS dari keluarga Foley dan dari GlobalPost. Balboni mengatakan bahwa perusahaan itu telah menghabiskan jutaan dolar untuk membawanya pulang dan bahwa dia bersama keluarga Foley mau berupaya dan mengumpulkan uang.

Di bulan Juli, Presiden Obama melancarkan operasi Pasukan Khusus AS untuk menyelamatkan Foley dan sandera lain. Sejumlah militan tewas dalam baku tembak itu, tapi Foley dan sandera lain tidak dapat ditemukan.

Dalam konferensi pers saat penerbangan kembali dari Korea Selatan, Paus Fransiskus menekankan bahwa penyerang yang tidak adil, seperti ISIS, harus dihentikan, harus diambil usaha bersama di antara negara-negara. “Satu bangsa sendiri tidak bisa mempertimbangkan bagaimana menghentikan penyerang yang tidak adil,” kata Paus. (pcp dari berbagai sumber)

james-foley-ransom

James Foley (kanan) saat bebas dari Lybia. Foto di atas adalah orangtua dari James Foley

Paus Fransiskus

Tinggalkan Pesan