Pastor Agustinus Boli Aran SVD (PEN@ Katolik/pcp screenshot)
Pastor Agustinus Boli Aran SVD (PEN@ Katolik/pcp screenshot)

Dalam masa pandemi sejak Maret 2020, ketika anggota keluarga Katolik meninggal, ada seorang imam asal Flores yang selalu dipanggil dan selalu berada di rumah duka, antara lain Rumah Duka RS Pluit Jakarta Barat, Rumah Duka Jelambar, Pemakaman San Diago, dan Pemakaman Pondok Rangon untuk melakukan pelayanan duka seperti Misa, ibadat tutup peti, upacara pemakaman, dan doa penghiburan bagi keluarga Katolik yang ditinggal meninggal akibat Covid-19.

Biasanya, karena umat yang hadir saat kedukaan sangat terbatas, paling banyak 20 orang, bahkan dalam suatu kesempatan, ketika seorang bapak meninggal akibat Covid-19, hanya dua anak, istri dan ketua lingkungan yang hadir, maka lagu dalam Misa dinyanyikan sendiri oleh imam itu.

Imam itu bercerita bahwa dia pernah berjumpa seorang prodiakon yang melayani tiada henti di Jakarta, karena banyak imam memilih tidak melayani karena alasan pandemi Covid-19. “Cerita prodiakon ini merupakan ‘tamparan’ sangat keras bagi imamatnya, maka di tengah kesibukan kuliah, saya tetap melayani umat sekalipun di tengah malam atau jam berapa pun,” kata imam itu.

Sesungguhnya, imam itu mengaku, “saya juga takut dan khawatir, tapi saya merefleksikan dan optimis bahwa saya akan dilindungi Tuhan dalam pelayanan ini. Saya yakin, pasti Tuhan memberikan rahmat perlindungan dalam pelayanan duka kepada keluarga yang meninggal akibat covid,” kata Pastor Agustinus Boli Aran SVD, mahasiswa di Universitas Bina Nusantara, Jakarta, dalam Online Catholic Update di Channel Puspas Samadi, Klender, Jakarta Timur, 7 November.

Acara bertema “Pelayanan Duka di Masa Pandemi” ini menghadirkan pembicara Pastor Agustinus Boli Aran SVD  dan Pastor Carolus Putranto Pr yang merupakan dosen teologi di STF Driyarkara dan pendamping frater di Seminari Santo Yohanes Paulus II Jakarta.

Kegiatan yang dimoderatori Yohanes Sinar itu diawali doa pembukaan, penjelasan tentang doa yang diperuntukkan bagi keluarga yang meninggal dunia dan sharing sejumlah umat dari sejumlah paroki termasuk Dekrit Penitensiaria yang dikeluarkan Paus Fransiskus, Maret lalu, untuk melayani para penderita dan korban meninggal akibat Covid-19, serta pekerja kesehatan yang mengabdikan diri melayani pasien.

Selain mengisahkan pengalaman pemberian Sakramen Perminyakan yang biasa ditanggapi dengan dua reaksi, pertama menerima pelayanan itu dan kedua menolak jika anggota keluarga itu meninggal, Pastor Boli Aran mengatakan kini banyak yang sedang mengalami pergumulan melawan Covid-19 “suka curhat.”

Umat, kata imam itu, mengalami kekosongan mendalam, bahkan mengeluh, ‘mengapa pengalaman penderitaan ini harus dilewatinya, padahal mereka telah menerapkan pola hidup sehat dan melakukan protokol kesehatan seperti yang dianjurkan pemerintah.”

Jika pada titik tertentu mereka tidak mengalami pelayanan, lanjut imam itu, akan terjadi krisis luar biasa dan bisa saja terjadi hal-hal tidak diinginkan, “maka pelayanan peneguhan melalui online, justru sangat menguatkan mereka.”

Menurut Pastor Boli Aran, pelayanan yang dia lakukan bukan hanya selama pandemi Covid-19, karena “setelah ditahbiskan imam pelayanan ini biasa dia lakukan di Flores, karena menyadari bahwa saya ditahbiskan untuk melayani umat lewat sakramen.”(PEN@ Katolik/Konradus R Mangu)

PEN@ Katolik/pcp/ screenshot
PEN@ Katolik/pcp/ screenshot

Tinggalkan Pesan