PenaKatolik.Com | Di antara pusara yang menyimpan kisah perjalanan hidup dan panggilan, 25 Suster Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC) berkumpul dalam suasana doa. Mereka datang untuk mengenang wajah-wajah yang pernah hadir dalam kehidupan komunitas, dan merawat ikatan persaudaraan dengan para suster yang telah lebih dahulu berpulang. Sebuah pertanyaan iman pun kembali mengemuka yakni apakah kematian mampu memutuskan kasih yang telah tumbuh dalam persaudaraan?
Bagi para Suster Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei (SFIC), jawabannya terungkap melalui doa. Pada Senin, 2 November 2026, mereka melaksanakan Doa Ofisi Arwah di area pemakaman para suster SFIC, Pemakaman Katolik Santo Yosef, Sungai Raya.
Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penghormatan dan ungkapan kasih kepada para suster yang telah menyelesaikan peziarahan hidupnya di dunia.
Suster Victoria SFIC, dalam keterangan yang dibagikan melalui WhatsApp pada 3 November 2026, pukul 12.02 WIB, menjelaskan bahwa Doa Ofisi Arwah di pemakaman para suster sudah menjadi kebiasaan tahunan dalam kehidupan kongregasi.
Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar kegiatan mengenang mereka yang telah meninggal. Doa menjadi ungkapan relasi kasih yang tetap terpelihara meskipun para anggota komunitas telah berada dalam keadaan kehidupan yang berbeda.
“Ini menjadi wujud kasih kami yang tak terputus. Hubungan relasi kasih yang tak terputus oleh mereka yang sudah berpulang lebih dulu dan yang masih berziarah di dunia, dan keyakinan akan adanya hidup kekal di surga,” ungkap Suster Victoria.
Doa sebagai Wujud Kesetiaan Persaudaraan
Kehadiran 25 suster dalam ibadat tersebut memperlihatkan bahwa persaudaraan dalam hidup membiara tidak hanya dibangun selama seseorang masih hidup bersama dalam satu komunitas. Kenangan, doa, dan harapan akan kehidupan kekal menjadi bagian dari ikatan spiritual yang terus dipelihara.
Dalam tradisi iman Katolik, Peringatan Arwah Semua Orang Beriman mengajak umat untuk mendoakan mereka yang telah meninggal dunia. Doa menjadi ungkapan iman akan belas kasih Allah sekaligus pengharapan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir pada kematian.
Bagi para Suster SFIC, kebersamaan di pemakaman menjadi kesempatan untuk kembali mengingat perjalanan para pendahulu yang telah memberikan hidupnya bagi kongregasi. Setiap makam menyimpan kisah panggilan, pengabdian, dan kesetiaan yang menjadi bagian dari sejarah persaudaraan mereka.
Suster Victoria juga menerangkan bahwa para suster sebelumnya mengikuti Perayaan Ekaristi bersama umat. Setelah Misa, para suster SFIC mengambil foto bersama, kemudian melaksanakan ibadat Ofisi Arwah di area pemakaman kongregasi. Dalam ibadat tersebut, Romo Pras CDD turut bergabung bersama para suster.

Mengenang Mereka yang Telah Mendahului
Pemakaman bukan hanya tempat peristirahatan terakhir. Dalam pengalaman iman, tempat tersebut juga menjadi ruang untuk merenungkan arti kehidupan, kematian, dan harapan akan kebangkitan.
Salah satu aktivitas yakni Doa Ofisi Arwah dijelaskan oleh Suster Victoria bahwa para Suster SFIC memperlihatkan sikap untuk mengenang mereka yang telah meninggal bukan semata-mata tindakan emosional terhadap masa lalu. Ada kesadaran bahwa kehidupan persaudaraan memiliki dimensi yang melampaui waktu dan kematian.
Para suster yang masih menjalani peziarahan di dunia melanjutkan panggilan dengan membawa warisan iman dan kesaksian hidup para pendahulu. Sementara itu, mereka yang telah berpulang tetap dikenang dalam doa dan diserahkan kepada kasih Allah.
Tradisi yang dilaksanakan setiap 2 November ini menjadi pengingat bahwa kasih tidak selalu harus hadir dalam perjumpaan fisik. Ada kasih yang terus hidup melalui doa, ada persaudaraan yang tetap dikenang, dan ada harapan yang mempersatukan mereka dalam iman akan kehidupan kekal.
Di antara makam para saudari, doa menjadi bahasa persaudaraan yang sederhana, sebab bagi para Suster SFIC, berpulangnya seorang saudari bukan berarti berakhirnya kasih yang pernah dibangun bersama.(Samuel)