WINDSOR, Pena Katolik — Lima abad setelah Keputusan Raja Henry VIII memutuskan hubungan Inggris dengan Roma, sebuah momentum bersejarah kembali terukir. Paus Leo XIV dan Raja Charles III sepakat untuk saling bertukar gelar kehormatan, membawa kembali potongan sejarah Kristiani yang sempat terpisah menuju babak baru yang penuh harapan.
Dalam kesepakatan tersebut, Paus Leo XIV menerima posisi kehormatan sebagai Papal Confrater dari Kapel St. George di Kastil Windsor. Sebagai bentuk penghormatan, sebuah kursi khusus disiapkan bagi Pemimpin Gereja Katolik tersebut di Windsor. Sebaliknya, Raja Charles III telah dianugerahi gelar Royal Confrater di Basilik Santo Paulus di Luar Tembok, salah satu basilika utama di Roma, lengkap dengan kursi khusus berukir lambang kerajaan dan motto “Ut unum sint” (Agar Mereka Menjadi Satu).
Pihak Istana Buckingham menyatakan bahwa pertukaran gelar kehormatan ini mencerminkan rasa hormat yang mendalam serta keinginan bersama untuk mendorong persatuan umat Kristiani.
Akar Sejarah
Hubungan antara Windsor dan Roma sejatinya telah terjalin hampir 700 tahun lalu, jauh sebelum era Reformasi Inggris. Saat Raja Edward III mendirikan Kapel St. George pada tahun 1348, Paus Klemens VI memberikan izin penetapan statuta kapel tersebut pada tahun 1350. Namun, pemutusan hubungan oleh Henry VIII pada tahun 1534 menghentikan tradisi tersebut selama berabad-abad.
Langkah diplomatik dan spiritual ini diinisiasi sejak kunjungan kenegaraan Raja Charles III dan Ratu Camilla ke Vatikan pada 23 Oktober 2025. Saat itu, Pemimpin Gereja Inggris dan Pemimpin Gereja Katolik berdoa bersama di bawah naungan lukisan Michelangelo di Kapel Sistina.
Meski demikian, pertukaran gelar ini tidak serta-merta menghapus perbedaan teologis yang telah berlangsung selama 500 tahun. Raja Charles III tetap menjabat sebagai Supreme Governor Gereja Inggris, sementara Paus Leo XIV tetap memimpin Gereja Katolik secara global.
Simbol Harapan
Ketua Konferensi Uskup Katolik Inggris dan Wales, Uskup Agung Richard Moth, menyebut penerimaan gelar oleh Paus Leo XIV sebagai “simbol harapan” yang melampaui sekadar protokol kerajaan. Menurutnya, inisiatif ini merayakan hal-hal yang menyatukan ketimbang meruncingkan perbedaan, terutama di tengah kondisi dunia yang kian terpolarisasi.
Sebagai bagian dari perayaan hubungan baik ini, Raja Charles III dijadwalkan menghadiri pemberkatan ikon mosaik Christ of Cefalù di Kapel St. George pada musim gugur mendatang. Mosaik tersebut merupakan hadiah khusus dari Paus Leo XIV saat kunjungan Raja Charles ke Vatikan tahun lalu.
Gestur saling memberi tempat—baik bagi Paus di Windsor maupun bagi Raja Inggris di Roma—menjadi tanda nyata bahwa walau sejarah masa lalu tidak diubah, perbedaan tersebut tidak lagi menjadi penghalang untuk berjalan bersama.
