Home BERITA TERKINI Jejak Panjang Relasi Kerajaan Inggris dan Takhta Suci: Anglikan dan Reformasi Inggris

Jejak Panjang Relasi Kerajaan Inggris dan Takhta Suci: Anglikan dan Reformasi Inggris

0

LONDON, Pena Katolik – Konflik antara Mahkota Inggris dan Takhta Suci bermula pada masa yang dikenal sebagai Reformasi Inggris. Periode ini ditandai dengan penolakan terhadap yurisdiksi Paus di Inggris melalui “Deklarasi Supremasi Kerajaan” yang dikeluarkan oleh Raja Henry VIII. Langkah ini menegaskan bahwa raja adalah pemimpin tertinggi Gereja di Inggris, bukan Paus di Roma.

Keputusan tersebut segera diikuti dengan penyitaan harta benda Gereja, pembubaran biara-biara, eksekusi terhadap para imam yang setia kepada Roma, serta penerapan kebijakan wajib menghadiri ibadat Anglikan dan membayar persepuluhan kepada Gereja negara. Dalam waktu singkat, agama Katolik dinyatakan ilegal di seluruh Inggris.

Upaya untuk memulihkan hubungan dengan Roma sempat terjadi secara singkat pada masa pemerintahan Ratu Mary I, yang dikenal karena kesetiaannya kepada Gereja Katolik. Namun, kematiannya menandai berakhirnya usaha rekonsiliasi Gereja Inggris dengan Takhta Suci.

Ketegangan kembali memuncak pada tahun 1570 ketika Paus Pius V mengeluarkan ekskomunikasi terhadap Ratu Elizabeth I. Ia juga memberikan legitimasi bagi pemberontakan terhadap pemerintahannya. Tindakan tersebut memperkuat kecurigaan pihak kerajaan terhadap kesetiaan umat Katolik di Inggris.

Sebagai akibatnya, negara memperketat pengawasan dan menerapkan kembali berbagai bentuk penganiayaan. Umat Katolik hidup di bawah tekanan hukum yang keras selama berabad-abad, termasuk larangan untuk menjalankan ibadat secara terbuka, memiliki hak politik, atau menduduki jabatan publik. Baru tiga abad kemudian, serangkaian reformasi legislatif pada abad ke-19—yang dikenal sebagai Catholic Emancipation—perlahan-lahan menghapus sebagian besar pembatasan tersebut.

Meskipun demikian, satu larangan tetap bertahan hingga kini: seorang penganut Katolik Roma tidak dapat naik takhta Kerajaan Inggris. Namun sejak diberlakukannya Succession to the Crown Act pada tahun 2013, pernikahan dengan seorang Katolik tidak lagi menjadi penghalang bagi garis suksesi kerajaan. Perubahan ini menjadi simbol rekonsiliasi panjang antara dua tradisi iman yang dahulu terbelah oleh sejarah dan kekuasaan.

Raja Henry VIII inisiator Refoemasi Inggris karena permintaan. IST

Gerakan Oxford hingga Konsili Vatikan II

Memasuki abad ke-19, sebuah arus pembaruan muncul di tubuh Gereja Inggris melalui Gerakan Oxford (Oxford Movement). Tokoh utama gerakan ini adalah St. Yohanes Henry Newman, yang dianugerahi gelar Pujangga Gereja oleh Leo XIV.

Saat itu, para teolog dan rohaniawan yang tergabung di dalamnya—kelak dikenal sebagai Anglo-Katolik—mendorong pemulihan unsur-unsur tradisional dalam liturgi dan spiritualitas yang telah lama dihilangkan sejak Reformasi. Mereka menilai bahwa praktik ibadat Anglikan telah menjadi terlalu sederhana dan kehilangan kekayaan rohani warisan Gereja.

Dalam tulisan ke-90 dari seri Tracts for the Times, St. Yohanes Henry Newman mengemukakan gagasan bahwa ajaran-ajaran Gereja Katolik Roma, sebagaimana didefinisikan dalam Konsili Trente, sejatinya tidak bertentangan dengan “Thirty-Nine Articles” Gereja Inggris abad ke-16. Pandangan ini menjadi jembatan awal menuju dialog yang lebih terbuka antara kedua tradisi.

Meski Catholic Emancipation di Inggris telah mengurangi ketegangan, persoalan teologis tetap membara. Pada tahun 1896, Paus Leo XIII menerbitkan bulla Apostolicae curae yang menyatakan bahwa tahbisan suci Anglikan “benar-benar batal dan sama sekali tidak sah.” Dokumen ini juga menolak teori “ranting-ranting Gereja” (branch theory) serta klaim suksesi apostolik dalam Gereja Anglikan. Sebagai tanggapan, dua Uskup Agung Gereja Inggris menerbitkan Saepius officio, yang mempertahankan keabsahan tradisi mereka. Hingga kini, keputusan Apostolicae curae tetap menjadi sikap resmi Takhta Suci.

Upaya rekonsiliasi tidak berhenti di situ. Pada awal abad ke-20, dibuka sebuah babak baru melalui “Malines Conversations”. Dialog ini dimulai tahun 1915 ketika Paus Benediktus XV menyetujui pembentukan Legasi Inggris untuk Vatikan. Pembicaraan antara perwakilan Anglikan dan Katolik ini sempat menumbuhkan harapan besar akan persatuan, namun akhirnya terhenti pada tahun 1925.

Meski demikian, benih dialog tetap tumbuh melalui gerakan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani, serta berbagai kunjungan persahabatan seperti pertemuan antara Uskup George Bell dari Chichester dan Kardinal Giovanni Battista Montini, yang kelak menjadi Paus Paulus VI.

Terobosan sejati baru terjadi pada masa Paus Yohanes XXIII yang membuka jalan bagi semangat ekumenisme melalui pembentukan Sekretariat untuk Promosi Kesatuan Umat Kristiani. Inisiatif ini mendorong Uskup Agung Canterbury, Geoffrey Fisher, melakukan kunjungan bersejarah ke Vatikan pada tahun 1960—kunjungan pertama sejak Reformasi, meskipun belum bersifat resmi.

Langkah ini disusul dengan kehadiran delegasi pengamat Anglikan dalam Konsili Vatikan II, yang dipimpin oleh Uskup John Moorman dari Ripon. Momentum persaudaraan semakin nyata ketika pada tahun 1966, Uskup Agung Canterbury Michael Ramsey mengunjungi Paus Paulus VI secara resmi. Dari pertemuan itulah lahir Komisi Internasional Anglikan-Katolik Roma (ARCIC) pada tahun berikutnya, yang menjadi wadah dialog teologis mendalam antara kedua Gereja.

Paus Paulus VI bahkan menyebut Gereja Anglikan sebagai “Gereja Saudari yang Terkasih,” sebuah ungkapan yang menandai perubahan besar dalam hubungan kedua pihak. Meskipun jalan menuju kesatuan penuh masih panjang dan penuh tantangan, semangat persaudaraan yang lahir dari abad ke-19 hingga era Konsili Vatikan II menjadi dasar kuat bagi dialog dan kerja sama ekumenis hingga hari ini.

Terus Menguat

Tonggak penting dalam hubungan antara Gereja Katolik Roma dan Gereja Anglikan terjadi pada tahun 1966, ketika Uskup Agung Canterbury, Michael Ramsey melakukan kunjungan resmi ke Paus Paulus VI di Vatikan. Pertemuan penuh persaudaraan ini menjadi simbol nyata dari keinginan kedua Gereja untuk memperbaiki hubungan setelah berabad-abad perpecahan. Dari kunjungan bersejarah tersebut lahirlah pada tahun berikutnya Komisi Internasional Anglikan-Katolik Roma atau Anglican-Roman Catholic International Commission (ARCIC). Sebuah forum dialog teologis yang menjadi jembatan utama rekonsiliasi antara kedua Gereja.

Proyek pertama ARCIC berfokus pada otoritas Kitab Suci, dan sejak itu komisi ini telah menghasilkan sembilan pernyataan bersama (agreed statements) yang menjadi landasan pemahaman bersama mengenai berbagai ajaran iman. Tahap pertama ARCIC berakhir pada tahun 1981 dengan diterbitkannya laporan akhir berjudul Elucidations on Authority in the Church, yang membahas bagaimana wewenang dan otoritas rohani dijalankan dalam Gereja.

Tahap kedua berlangsung antara 1983 hingga 2004, dengan pembahasan yang semakin mendalam mengenai sakramen, keselamatan, dan peran Maria dalam sejarah keselamatan. Laporan terakhir tahap ini diterbitkan pada tahun 2004, menyoroti teologi Maria atau Mariologi, yang selama ini menjadi salah satu titik perbedaan utama antara kedua tradisi.

Untuk memperluas hasil dialog teologis menjadi kerja sama nyata di bidang pastoral dan sosial, pada tahun 2000—menyusul pertemuan para uskup Katolik dan Anglikan di Mississauga, Kanada—dibentuklah Komisi Internasional Anglikan-Katolik Roma untuk Kesatuan dan Misi (International Anglican-Roman Catholic Commission for Unity and Mission). Komisi ini bertugas mendorong kolaborasi praktis dan penerapan hasil-hasil dialog dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.

Perbedaan dalam Mariologi, terutama terkait dogma Maria yang dikandung tanpa dosa dan Maria diangkat ke surga, sering menjadi bahan diskusi antara kedua Gereja. Namun, meskipun Gereja Anglikan tidak memiliki pandangan resmi mengenai dogma-dogma tersebut, kedua belah pihak telah berupaya membangun semangat kesatuan melalui dialog teologis yang saling menghormati.

Puncak dari upaya ini terwujud dalam dokumen bersama “Mary: Grace and Hope in Christ”, yang juga dikenal sebagai “Pernyataan Seattle”, diterbitkan pada tahun 2004. Dokumen ini menggarisbawahi peran Maria sebagai Bunda Yesus Kristus dan teladan iman bagi seluruh umat beriman, serta menegaskan bahwa refleksi teologis mengenai Maria seharusnya menjadi sarana untuk memperdalam kesatuan, bukan sumber perpecahan.

Melalui berbagai tahap dialog dan kerja sama ini, Gereja Katolik Roma dan Gereja Anglikan menapaki jalan panjang menuju kesatuan yang lebih dalam—sebuah perjalanan iman yang menandai bahwa rekonsiliasi sejati tumbuh dari kerendahan hati, saling pengertian, dan harapan akan kesatuan dalam Kristus.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version

polestoto

lahirtoto

warung403

warung403 login

situs warung403

lahirtoto

LAHIRTOTO

LAHIRTOTO LOGIN

lahirtoto

imgstock

Hosting Gambar

Mahjong Ways 2 Memiliki Cara Tersendiri dalam Menampilkan Perubahan Simbol dan Efek Visual

Mengapa Game Digital dengan Tema Asia Masih Menarik Perhatian di Tengah Banyaknya Pilihan Hiburan?

Perkembangan Game Mobile Membuat Pengalaman Pengguna Tidak Lagi Bergantung pada Grafis Semata

Mahjong Ways Menghadirkan Detail Visual yang Menggabungkan Simbol Klasik dengan Sentuhan Modern

Bagaimana Desain Gerakan dalam Game Digital Membantu Menciptakan Pengalaman yang Lebih Interaktif?

Game Bertema Tradisional Mulai Mendapat Sentuhan Teknologi yang Mengubah Cara Penyajiannya

Mahjong Ways 2 dan Peran Animasi dalam Memperjelas Mekanisme Pergantian Simbol

Mengapa Pengalaman Pengguna Menjadi Pertimbangan Penting dalam Perancangan Game Mobile Modern?

Komunitas Game Digital Membantu Memperkenalkan Berbagai Sudut Pandang tentang Sebuah Permainan

Perubahan Desain Antarmuka Game Mobile Menunjukkan Pentingnya Navigasi yang Mudah Dipahami

Mahjong Ways 2 Memiliki Pola Penyajian Animasi yang Membuat Perubahan Simbol Lebih Mudah Diikuti

Mengapa Game Digital dengan Unsur Budaya Tradisional Bisa Terasa Akrab bagi Pengguna Modern?

Perkembangan Game Mobile Membuat Pengembang Semakin Memperhatikan Detail Pengalaman Pengguna

Mahjong Ways Menampilkan Perpaduan Warna dan Ornamen yang Mengingatkan pada Estetika Asia

Bagaimana Transisi Visual dalam Game Digital Membantu Pemain Memahami Jalannya Permainan?

Game Mobile dengan Tema Klasik Menunjukkan Bahwa Inovasi Tidak Selalu Berasal dari Konsep Baru

Mahjong Ways 2 Menggunakan Efek Berantai untuk Menampilkan Perubahan Susunan Simbol dalam Permainan

Mengapa Pemilihan Warna dalam Game Digital Bisa Memengaruhi Cara Pengguna Mengenali Fitur?

Komunitas Game Online Membentuk Ruang Diskusi Baru tentang Desain dan Pengalaman Bermain

Teknologi Layar Smartphone Membawa Pengaruh terhadap Cara Game Digital Menampilkan Detail Visual

Mahjong Ways 2 Menampilkan Perpaduan Efek Visual dan Mekanisme Permainan yang Menarik untuk Dipahami

Mengapa Game Digital dengan Tema Tradisional Masih Memiliki Tempat di Era Hiburan Modern?

Perkembangan Game Mobile Membawa Perubahan pada Cara Pengguna Menikmati Hiburan Interaktif

Mahjong Ways Memiliki Detail Simbol dan Warna yang Membentuk Karakter Visual Permainannya

Di Balik Desain Game Modern, Ada Peran Animasi dalam Membuat Interaksi Terasa Lebih Hidup

Bagaimana Mahjong Ways 2 Menghadirkan Pengalaman Visual melalui Perubahan Simbol Berantai?

Game Bertema Asia Semakin Beragam dengan Perpaduan Unsur Budaya dan Teknologi Digital

Mengapa Tampilan Antarmuka Menjadi Salah Satu Bagian Penting dalam Pengembangan Game Mobile?

Mahjong Ways dan Cara Elemen Visual Tradisional Diadaptasi ke dalam Permainan Digital

Teknologi Perangkat Mobile Membantu Pengembang Menghadirkan Game dengan Tampilan Lebih Dinamis

Mahjong Ways 2 Memiliki Ritme Permainan yang Dipengaruhi oleh Pergantian Simbol dan Animasi

Mengapa Game dengan Tampilan Sederhana Terkadang Lebih Mudah Diingat oleh Pengguna?

Perkembangan Game Mobile Membuat Pengalaman Bermain Semakin Bergantung pada Desain yang Responsif

Mahjong Ways Menghadirkan Nuansa Budaya Asia melalui Detail Ornamen dan Pilihan Warna

Bagaimana Efek Suara Membantu Pengguna Memahami Perubahan yang Terjadi dalam Game Digital?

Game Digital Bertema Tradisional Memiliki Cara Tersendiri untuk Menyesuaikan Diri dengan Tren Modern

Mahjong Ways 2 dan Cara Mekanisme Cascade Membentuk Alur Visual dalam Setiap Putaran

Mengapa Komunitas Pemain Sering Membahas Detail Kecil yang Ada dalam Sebuah Game?

Perubahan Kebiasaan Pengguna Smartphone Turut Memengaruhi Arah Pengembangan Game Mobile

Identitas Visual Game Digital Tidak Hanya Ditentukan oleh Grafis tetapi Juga Konsistensi Desain

Mahjong Ways 2 Menghadirkan Mekanisme Simbol Berantai yang Menarik untuk Dipelajari dari Sisi Desain Game

Mengapa Tampilan Mahjong Ways Masih Mudah Dikenali di Tengah Banyaknya Game Digital Modern?

Perubahan Desain Game Mobile Membuat Animasi dan Interaksi Visual Terasa Semakin Dinamis

Di Balik Popularitas Game Bertema Asia, Ada Unsur Budaya dan Desain yang Layak Diperhatikan

Bagaimana Efek Visual dalam Mahjong Ways Membentuk Pengalaman Bermain yang Berbeda?

Perkembangan Teknologi Smartphone Membawa Perubahan pada Cara Game Digital Dirancang

Mahjong Ways dan Penggunaan Simbol Klasik dalam Membangun Identitas Permainan Digital

Mengapa Sebuah Game Bisa Bertahan dalam Percakapan Komunitas Meski Tren Terus Berganti?

Kecerdasan Buatan Mulai Mengubah Cara Pengembang Memahami Kebutuhan Pemain Game Mobile

Desain Suara dan Animasi Menjadi Bagian Penting dalam Pengalaman Game Digital Masa Kini

Mahjong Ways 2 Memiliki Perpaduan Animasi dan Simbol yang Membentuk Pengalaman Visual Berbeda

Mengapa Game Bertema Mahjong Masih Menarik Dibahas di Tengah Perkembangan Hiburan Digital?

Perubahan Teknologi Game Mobile Membuat Tampilan Permainan Semakin Detail dan Responsif

Mahjong Ways Menggunakan Elemen Budaya Asia yang Memberikan Ciri Khas pada Desain Permainannya

Di Balik Tampilan Game Digital Modern, Ada Proses Desain yang Memengaruhi Pengalaman Pengguna

Bagaimana Mahjong Ways 2 Menggabungkan Efek Cascade dengan Perubahan Tampilan Simbol?

Game Mobile Kini Tidak Hanya Mengandalkan Grafis tetapi Juga Kenyamanan Interaksi Pengguna

Warna dan Animasi dalam Mahjong Ways Menjadi Bagian Menarik dari Identitas Visual Permainan

Mengapa Desain Simbol dalam Game Digital Bisa Membuat Sebuah Permainan Mudah Dikenali?

Perkembangan Game Bertema Asia Menunjukkan Cara Budaya Tradisional Hadir dalam Hiburan Modern

Mahjong Ways 2 Memperlihatkan Bagaimana Efek Multiplier Menjadi Bagian dari Mekanisme Permainan

Komunitas Game Digital Memiliki Pengaruh terhadap Cara Sebuah Permainan Dikenal dan Dibicarakan

Bagaimana Pengembang Game Mobile Menyesuaikan Desain Permainan dengan Kebiasaan Pengguna?

Mahjong Ways Memiliki Gaya Visual yang Memadukan Nuansa Tradisional dengan Animasi Digital

Pengalaman Bermain Game Mobile Semakin Dipengaruhi oleh Kualitas Animasi dan Kecepatan Perangkat

Mengapa Tema Budaya Asia Sering Digunakan untuk Membangun Identitas dalam Game Digital?

Mahjong Ways 2 Menampilkan Perubahan Simbol Berantai yang Menarik Dipahami dari Sisi Mekanisme

Kecerdasan Buatan Membuka Pendekatan Baru dalam Pengembangan Pengalaman Game Digital

Desain Antarmuka Game Mobile Berperan Penting dalam Membantu Pengguna Memahami Fitur Permainan

Mahjong Ways dan Perkembangan Game Digital Menunjukkan Pentingnya Identitas Visual yang Konsisten