RUTENG, Pena Katolik – Bencana gempa bumi tektonik berkekuatan 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 lalu. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 26 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 105 orang meninggal dunia, 1.603 orang luka-luka, dan sebanyak 180.327 orang mengungsi. Kerusakan fisik meliputi 73.818 unit rumah warga (23.276 rusak berat), 502 fasilitas pendidikan, 396 rumah ibadah, serta 118 fasilitas kesehatan. Hingga tanggal 26 Agustus 2026 pagi tercatat 7.692 kali gempa susulan dan diprediksi berlangsung hingga 3–4 minggu ke depan.
Saat ini kebutuhan mendesak mencakup pangan dan nutrisi, obat-obatan, fasilitas sanitasi, air bersih, shelter kit, tandon air bersih, layanan medis darurat, serta penguatan tempat pengungsian dan pemantauan kesehatan rutin.
Merespon situasi ini Gereja Katolik Indonesia sejak 24 jam awal, melalui Jaringan Caritas Indonesia hadir dengan mengintegrasikan pelayanan darurat di empat keuskupan terdampak yaitu Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Maumere, dan Keuskupan Labuan Bajo.
Caritas Indonesia telah mengaktivasi para personil Divisi Tanggap Darurat dan Core Response Team (CRT) guna memfasilitasi koordinasi serta manajemen pelayanan di setiap keuskupan terdampak. Untuk menjamin kelancaran pasokan bantuan ke Flores, Caritas Indonesia membuka sebuah Pos Logistik Nasional di dekat Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya yang nantinya akan dikirim melalui jalur laut.
Berlandaskan semangat sinodalitas dan kolaborasi “One Church, One Response”, jaringan Caritas Indonesia berusaha untuk memperkuat respon darurat di empat keuskupan terdampak melalui penyediaan logistik bantuan, dukungan dana, penempatan relawan dan tenaga medis, pertukaran data kebencanaan, dan memperkuat layanan-layanan lain. “Dengan integrasi layanan ini, maka respon kemanusiaan jaringan Caritas Indonesia untuk gempa di Flores, dapat semakin nyata memperlihatkan kehadiran Gereja Katolik di tengah warga terdampak bencana,” RD. Fredy Rante Taruk, Direktur Caritas Indonesia.
Direktur Eksekutif Caritas Indonesia berada di lokasi bencana pada 24-29 Agustus 2026 untuk mengkoordinasikan pelayanan kemanusiaan bersama para uskup di empat keuskupan terdampak, bersama Direktur Caritas Keuskupan dan tim relawan. Selanjutnya, Caritas Indonesia masih terus mengupayakan bantuan yang diperlukan, termasuk menyediakan kebutuhan obat-obatan dan kebutuhan-kebutuhan penunjang lain pada masa tanggap darurat.
“Saat ini pengungsi masih sangat banyak dengan masalah penyakit yang biasa menyertai bencana gempa. Ini menjadi perhatian kami bersama Caritas di keuskupan, terutama bagi kelompok-kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, anak-anak dan orang tua rentan,” ujar Romo Fredy.

