Uskup Labuan Bajo Mengunjungi Warga Terdampak Gempa Flores di RSUD Komodo, Hadir dan Menguatkan

LABUAN BAJO, Pena Katolik – Merombok, 23 Agustus 2026 — Di tengah suasana duka dan kecemasan pascagempa yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus hadir menyapa dan menguatkan para pasien korban bencana beserta keluarga mereka dalam Perayaan Ekaristi Minggu Biasa XXI di pelataran RSUD Komodo, Minggu (23/8/2026).

Perayaan Ekaristi bersama komunitas RSUD Komodo ini menjadi ruang penghiburan dan penguatan bagi pasien, keluarga pasien, tenaga kesehatan, serta jajaran manajerial rumah sakit yang masih berada dalam suasana penuh kecemasan akibat gempa.

Dalam perayaan tersebut, Uskup Mgr. Maksimus Regus didampingi para imam konselebran, yakni Vikaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo RD. Rikardus Manggu, Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo Frans Nala, Vikep Labuan Bajo RD. Yuvens Rugi, Ekonom Keuskupan Labuan Bajo RD. Martin Wiliam, Direktur Puspas Keuskupan Labuan Bajo RD. Carles R. Suwendi, Pastor Paroki Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus Merombok RD. Antonius Sanor, serta Komisi Caritas Keuskupan Labuan Bajo RD. Ignasius Haryanto.

Dalam homilinya yang berangkat dari Injil Matius 16:13-20 tentang pertanyaan Yesus, “Menurutmu, siapakah Aku?”, Mgr. Maksimus mengajak umat menemukan kehadiran Tuhan justru di tengah pengalaman bencana dan kerapuhan hidup.
Menurutnya, bencana menyadarkan manusia bahwa kehidupan begitu rapuh. Namun, pada saat yang sama, pengalaman tersebut juga memperlihatkan betapa besar kasih Tuhan melalui orang-orang yang hadir, membantu, merawat dan menguatkan sesama.

“Di tengah bencana ini, Tuhan ada di antara kita. Kita mengenalnya dalam kasih yang saling kita bagikan, dalam semangat kesetiakawanan, dalam keterbukaan dan pemberian diri,” demikian inti pesan Uskup dalam homilinya.

Uskup kemudian mengajak umat memaknai “batu karang” bukan semata-mata sebagai bangunan gereja yang kokoh. Di tengah bencana, ketika banyak bangunan mengalami kerusakan dan sebagian orang masih takut berada di dalam ruangan, gereja yang sesungguhnya adalah komunitas yang saling menopang.

“Gereja yang sesungguhnya adalah sebuah komunitas, sebuah kebersamaan yang saling menopang,” pesannya.

Kepada komunitas RSUD Komodo, pesan itu terasa sangat nyata. Para dokter, perawat dan tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan meskipun berada dalam situasi sulit. Bagi Uskup, pengabdian mereka menjadi salah satu cara Tuhan berbicara dan hadir di tengah penderitaan manusia.

Uskup juga menyampaikan tiga “kunci” penting untuk tetap bertahan dalam situasi bencana, yakni belas kasih, solidaritas dan harapan. Belas kasih hadir melalui pelayanan di rumah sakit, posko pengungsian dan berbagai bentuk bantuan.

Solidaritas tampak melalui para relawan yang terus bergerak membantu masyarakat terdampak. Sementara harapan menjadi kekuatan agar manusia tetap berjalan bersama dan saling menopang di tengah ketakutan.

“Bencana datang, tetapi mudah-mudahan iman dan kasih sayang kita tetap kuat untuk mengalirkan perhatian, dukungan, belas kasih, cinta dan kemurahan hati,” pesan Mgr. Maksimus.

Ia juga mendoakan agar para tenaga kesehatan RSUD Komodo dan seluruh pelayan kemanusiaan diberi kekuatan dan penghiburan, sehingga melalui tangan dan pengabdian mereka, Tuhan terus hadir merawat kehidupan.

Pelaksana Tugas Direktur RSUD Komodo Paulus Ndarung menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Uskup Labuan Bajo bersama para imam dan komunitas Gereja dalam perayaan tersebut. Ia berharap pesan tentang menjadi “batu karang” dapat menjadi semangat bagi seluruh tenaga kesehatan untuk terus memberikan pelayanan terbaik.

“Mudah-mudahan spirit dan semangat ini bisa menjiwai kita dalam memberikan pelayanan,” ujar Paulus.

Perayaan Ekaristi tersebut turut dihadiri Dirjen Bimas Katolik Albertus Magnus Adiyanto Sumardjono, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Salvador Pinto, Kepala Kantor Kementerian Agama Manggarai Barat Fransiskus Xaverius Adi, jajaran pimpinan dan tenaga kesehatan RSUD Komodo, pasien serta keluarga pasien.

Bagi mereka yang sedang menghadapi luka dan ketakutan akibat gempa, kehadiran Uskup, para imam dan komunitas Gereja menjadi pengingat bahwa di tengah kerapuhan, mereka tidak berjalan sendirian. Kasih, solidaritas dan harapan tetap menjadi kekuatan untuk bangkit.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini