Syukur Imamat Imam Ketiga Papua

TIMIKA, Pena Katolik – Jumat, 14 Agustus 2026, menjadi momen yang penuh kehangatan bagi umat Katolik di Tanah Papua, khususnya di Keuskupan Timika dan Jayapura. Di usianya yang menginjak 77 tahun, langkah Pastor Theodorus VE Makai, Pr mungkin tak lagi selincah dulu, tetapi binar mata dan semangat pelayanannya tidak pernah padam dimakan usia.

Bagi masyarakat adat Suku Mee dan umat Katolik di bumi Cenderawasih, Romo Theo bukan sekadar seorang pelayan altar. Ia adalah pionir, benteng tradisi, sekaligus teladan hidup yang mengukir sejarah sebagai imam Katolik pertama dari Suku Mee dan imam kedua dari Orang Asli Papua (OAP).

Jejak Awal Perutusan

Lahir di Apogomakida pada 14 Agustus 1949, Romo Theo muda menempuh perjalanan panjang meniti panggilan Tuhan. Ia adalah angkatan pertama Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura pada tahun 1969. Ia menggembleng diri di seminari itu, sebelum akhirnya ditahbiskan oleh Uskup Jayapura, Mgr. Herman Ferdinand Maria Münninghoff, OFM.

Peristiwa tahbisan yang berlangsung di Lapangan Sepak Bola Moanemani, Dogiyai, pada 24 April 1980 itu menjadi catat sejarah emas. Momen tersebut membakar semangat umat di wilayah Meeuwodide, memunculkan kebanggaan mendalam bahwa seorang putra daerah mampu berdiri di altar sebagai pelayan Sabda.

Perjalanan kerasulan Romo Theo dipenuhi dengan dedikasi nyata bagi masyarakat bawah:

  • Paroki St. Yusuf Enarotali (1980–1982): Mengawali langkah sebagai imam muda yang penuh semangat.
  • Pembina Kaum Muda di SGB Kokonau (1982–1985): Membentuk karakter dan iman generasi muda Papua.
  • Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete (1985–1988): Mengukir terobosan penting dengan memperkenalkan katekismus dalam bahasa Mee agar Sabda Tuhan makin berakar dalam budaya lokal.
  • Penjelajah Kampung Terpencil Dogiyai (1988–1992): Menembus belantara dan keterbatasan fasilitas demi menyapa umat di pelosok.
  • Pendamping Umat Urban Jayapura (1992–1997): Mengayomi warga yang bermigrasi ke wilayah perkotaan.
  • Pelayanan di Timika (1997–2004): Mendampingi dan menguatkan iman masyarakat di tengah kompleksnya dinamika sosial area tambang PT Freeport Indonesia.

Menyatukan Iman dan Budaya

Iman Katolik dan kebudayaan Papua bukanlah dua hal yang berseberangan, melainkan saling memperkaya. Sebagai pengajar budaya dan penulis, Bagi Romo Theo mendedikasikan waktu senjanya untuk mengumpulkan cerita rakyat, pepatah, dan filosofi hidup Suku Mee.

Melalui diktat Seri Gali Nilai Positif Budaya Papua (2016) yang ditulisnya, ia menegaskan Meeuwoo sebagai identitas resmi Suku Mee. Pendekatan kontekstual ini menjadikan ajaran Gereja terasa begitu dekat, membumi, dan bernyawa di hati umat.

Rasa bangga dan syukur mengalir dari berbagai pihak yang merasa tersentuh oleh pelayanan sosok yang akrab disapa Patoga Theo ini. Di usianya yang ke-77 tahun, Romo Theo tetap menjadi nyala lilin yang menerangi Tanah Papua—sebuah teladan kesetiaan yang menginspirasi generasi muda untuk berani mendengar dan menjawab panggilan Tuhan.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini