PenaKatolik.Com | Sekitar 360 anggota keluarga besar Fransiskan dari sembilan tarekat dan persaudaraan se-Kalimantan Barat berkumpul di Aula Santo Fransiskus, Rumah Retret Santo Fransiskus Assisi, Tirta Ria, Kubu Raya, Minggu (4/10/2026), untuk merayakan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus dari Assisi.
Para peserta berasal dari Keuskupan Agung Pontianak, Ketapang, Sanggau, dan Sintang. Mereka mewakili Ordo Kapusin (OFMCap), Bruder Maria Tak Bernoda (MTB), SFIC, KFS, SFD, SMFA, MSA, SMIJ, dan Ordo Fransiskan Sekular (OFS).

Kegiatan tersebut merupakan puncak Rekoleksi Akbar Keluarga Besar Fransiskan Kalimantan Barat yang berlangsung selama dua hari, diawali dengan peringatan Transitus, dilanjutkan rekoleksi, dan ditutup dengan perayaan Ekaristi.
Ketua Panitia, Suster Serlina Sigiro, SFIC, mengatakan perayaan tahun ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 800 tahun sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Fransiskan.
“Pada tahun 2024, kita merayakan 800 tahun Stigmata Bapak Fransiskus. Pada tahun 2025, kita merayakan 800 tahun Gita Sang Surya. Dan pada tahun ini, kita merayakan 800 tahun Transitus Bapak Kita Santo Fransiskus,” ujarnya.
Menurut Suster Serli, perjumpaan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkuat persaudaraan dan kolaborasi lintas tarekat.
“Semoga pertemuan selama dua hari ini semakin menguatkan tali persaudaraan di antara anak-anak Bapak Fransiskus yang ada di Kalimantan Barat,” katanya.
Ia juga mengajak keluarga besar Fransiskan membawa semangat perayaan ke tengah kehidupan dan pelayanan sehari-hari.
“Semoga kita menjadi berkat dan semakin maju dalam kolaborasi, dalam mewartakan damai dan kebaikan kepada semakin banyak orang, dalam melayani Allah dan sesama, serta merawat alam ciptaan,” tutur Suster Serlina.
Ia menegaskan bahwa damai dan sukacita yang dialami selama kegiatan hendaknya terus dibawa pulang.
“Janganlah peristiwa-peristiwa yang terjadi kemarin, hari ini, maupun yang akan terjadi esok hari mencuri sukacita kita,” pesannya.

Pastor Mayong: Jadilah Peziarah Perdamaian
Selebran utama, Pastor Hermanus Mayong Andreas Acin, OFMCap, mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung perayaan tersebut. Dalam perayaan Ekaristi, ia didampingi Sekretaris Ordo Kapusin Provinsi Pontianak, Pastor Pionius Hendi, OFMCap, tiga imam lainnya, serta dua diakon.
Pastor Mayong menyampaikan terima kasih kepada para pimpinan umum, provinsial, Minister dan Ministra Persaudaraan, panitia, petugas liturgi, para penari, misdinar, musikus, anggota koor, serta seluruh peserta.
Ia secara khusus mengapresiasi keterlibatan kaum muda dalam perayaan tersebut.
“Anak-anak muda kita luar biasa. Terima kasih atas penampilan sekaligus pelayanan mereka dalam perayaan Ekaristi ini,” katanya.

Pastor Mayong juga mengajak peserta untuk tidak membiarkan pengalaman rekoleksi berhenti di tempat kegiatan.
“Semoga setelah pulang dari sini, kita tidak menjadi harta benda yang tidak bergerak, tetapi menjadi harta benda yang bergerak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut merupakan ajakan agar semangat persaudaraan, damai, dan kebaikan diwujudkan setelah peserta kembali ke komunitas dan tempat tugas masing-masing.
“Semangat persaudaraan, damai, dan kebaikan yang kita rayakan bersama hendaknya kita bawa pulang dan kita wujudkan dalam kehidupan serta pelayanan kita masing-masing,” lanjutnya.
Pastor Mayong juga mengajak seluruh peserta menjadi peziarah perdamaian dan kebaikan.
“Semoga kita sungguh-sungguh menjadi peziarah perdamaian dan peziarah kebaikan,” tegasnya.
Perayaan ditutup dengan pesan agar para peserta kembali ke tempat masing-masing dengan membawa sukacita dan damai.

“Selamat jalan kepada saudara-saudari yang akan melakukan perjalanan kembali ke tempat masing-masing. Semoga kita senantiasa mengalami sukacita dan damai yang sejati. Tuhan memberkati kita semua,” pungkas Pastor Mayong.
Sementara Suster Serlina menutup sambutannya dengan ungkapan “Adil Ka Talino, Bacuraimin Ka Saruga, Ba Sengat Ka Jubata.”
Perayaan 800 tahun Transitus Santo Fransiskus tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar Fransiskan Kalimantan Barat untuk memperbarui semangat persaudaraan, memperkuat kolaborasi, mewartakan damai, melayani sesama, dan merawat ciptaan.*Sdr. Samuel, OFS.



