YERUSALEM, Pena Katolik – Di dalam halaman-halaman Kitab Suci, kaum Farisi sering kali muncul sebagai tokoh antagonis utama yang konsisten memusuhi Yesus. Namun, siapakah mereka sebenarnya di balik stigma tersebut? Menelusuri sejarah akan membuka mata kita bahwa kelompok ini tidak lahir dari sekadar niat jahat, melainkan dari sebuah gerakan puritan yang sangat idealis dan dihormati pada zamannya.
Secara historis, sekte Farisi lahir sekitar abad ke-3 Sebelum Masehi. Nama “Farisi” sendiri memiliki arti ‘yang terpisah’. Kelompok ini muncul dengan tujuan mulia, memisahkan diri dari pengaruh pengajaran dan budaya Yunani (Helenis) yang dianggap mencemari kemurnian tradisi leluhur mereka. Kelompok ini ingin memfokuskan hidup mereka dengan menghidupi tradisi dan nilai-nilai Yahudi.
Pembela Taurat
Saat Raja Antiokhus melakukan penganiayaan kejam terhadap iman Yahudi, kaum Farisi berdiri di garis depan sebagai pembela Taurat Musa. Tidak sedikit dari mereka yang rela mati sebagai martir demi mempertahankan agamanya. Karena keteguhan inilah, mereka dikenal sebagai kaum “Puritan” Yahudi.
Kaum Farisi menempati posisi sosial yang sangat terpandang serta dihormati oleh masyarakat pada masa Yesus hidup. Bahkan, Rasul Paulus dengan bangga mengakui latar belakang dirinya sebagai seorang Farisi yang percaya pada kebangkitan badan.
Dari kacamata objektif, kaum Farisi sebenarnya turut mempersiapkan jalan bagi pengajaran Kristiani. Mereka memegang teguh monoteisme (percaya pada Tuhan yang Satu), menghormati tulisan para nabi, dan mengimani adanya kebangkitan orang mati.
Namun, seiring berjalannya waktu, tendensi kerohanian yang kuat ini bergeser menjadi arogansi spiritual. Mereka terjebak dalam formalitas religius yang berlebihan. Kaum Farisi sangat menuntut detail-detail seremonial kecil, tetapi di saat yang sama justru mengabaikan esensi hukum moral yang jauh lebih penting: kasih dan keadilan.
Pada bagian inilah, Yesus sering mengecam cara hidup orang Farisi. Yesus mengkritik formalisme buta yang dijalankan orang Farisi (bdk. Mat 23:23-28). Yesus membongkar kemunafikan mereka yang tampak saleh di luar namun keropos di dalam.
Kecaman-kecaman Yesus membuat mereka tersinggung dan berbalik ingin menangkap-Nya. Di mata kaum Farisi, Yesus adalah seorang pelanggar Taurat. Hal ini karena Yesus tetap “bekerja” menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat. Yesus makan bersama pemungut cukai serta wanita berdosa. Tindakan yang paling berat, Yesus mengaku sebagai Putera Allah yang sudah ada sebelum Abraham ada. Tindakan-tindakan Yesus inilah yang dengan tegas menjadi alasan orang Farisi ingin “menghentikan” Yesus.
Batu Sandungan dan Warisan Sejarah
Sikap keras kepala kaum Farisi mencapai puncaknya ketika mereka berkolaborasi dengan kaum Saduki untuk menyerahkan Yesus kepada otoritas Romawi agar dihukum mati. Kelompok Farisi menuduh Yesus menghujat Allah, sementara kelompok Saduki menolak Yesus karena tidak mempercayai ajaran-Nya tentang kebangkitan.
Tragedi kegagalan kaum Farisi dalam mengenali Yesus berakar pada ekspektasi mereka sendiri. Mereka menantikan Mesias yang datang sebagai raja megah atau pemimpin politik yang perkasa. Mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa Mesias yang dijanjikan ternyata tampil sebagai tukang kayu miskin dari Nazaret yang berakhir tragis di atas salib.
Misteri Salib ini menjadi batu sandungan yang tak masuk akal bagi mereka. Seperti yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 1:22-24: “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil… Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.”
Pasca-runtuhnya Yerusalem akibat pemberontakan melawan Roma (tahun 66-135 M), sekte-sekte Yahudi lainnya lenyap, dan kaum Farisi secara praktis menjadi identitas utama dari agama Yahudi itu sendiri. Dari warisan pemikiran merekalah lahir Yudaism modern di dunia Barat. Sekitar tahun 200 M, para rabi penerus tradisi Farisi ini mengompilasi pendapat hukum mereka ke dalam Mishnah, yang menjadi fondasi utama bagi kitab Talmud—sebuah bukti otentik dari ketahanan idealisme religius dan patriotisme mereka yang melintasi zaman.



