NEW YORK, Pena Katolik — Karakter vampir dan fiksi misteri kerap diidentikkan dengan kegelapan. Namun, bagi Suster Allison Regina Gliot, seorang biarawati dari kongregasi Daughters of St. Paul, makhluk rekaan ini justru menjadi sarana refleksi untuk memahami kedalaman rahmat dan pengampunan Tuhan.
Melalui penerbitan buku ketiganya yang berjudul The Dawn We Seek, Suster Allison resmi menuntaskan trilogi novel Katolik Dewasa Muda (Young Adult) bertajuk In Aeternum. Novel ini dibuka dengan kisah Elizabeth, seorang remaja Katolik yang terlibat dalam perselisihan antarpandawa vampir, hingga akhirnya melarikan diri bersama seekor vampir buangan bernama Christopher.
Sebagai anggota kongregasi yang berfokus pada penginjilan melalui media massa, Suster Allison memandang karya fiksinya bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari misi iman.
Suster Allison mengungkapkan bahwa penulisan trilogi ini merupakan perjalanan spiritual personal antara dirinya dengan Yesus. Ia melihat proses kreatif sebagai bentuk kolaborasi imani, di mana inspirasi diawali oleh kepercayaan kepada Tuhan dan diakhiri dengan buah spiritual bagi para pembaca.
Suster Allison menjelaskan bahwa dalam dunia fiksi In Aeternum, sosok vampir dihadirkan sebagai cermin dari luka dan kejatuhan ekstrem kemanusiaan akibat dosa. Namun, ekstremitas karakter tersebut justru menjadi panggung bagi besarnya kerahiman Ilahi.
“Jika ada kemungkinan pertobatan dan penebusan bahkan bagi karakter vampir yang melakukan kejahatan ekstrem, saya berdoa agar para pembaca yang merasa berada di titik terendah dalam hidup mereka juga dapat menemukan secercah harapan Ilahi,” ungkap Suster Allison.
Imajinasi Penginjilan
Biarawati ini menepis anggapan bahwa iman Katolik membatasi kreativitas. Menurutnya, Gereja Katolik justru mengajarkan bahwa imajinasi adalah anugerah penciptaan dari Tuhan yang patut dirayakan dan digunakan untuk membangun Kerajaan Allah.
Keterlibatan aktif dalam iman dan Sakramen dinilainya tidak mengekang pikiran, melainkan menyambungkan imajinasi manusia dengan kreativitas Allah sendiri. Menurut Suster Allison, ketika seseorang mengizinkan kasih Ilahi menginspirasi karyanya, kreativitas tersebut menjadi kekuatan besar untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Menutup penjelasannya, Suster Allison menyampaikan permohonan doa khusus bagi para penulis Katolik yang berjuang menghadirkan nilai-nilai iman ke dalam genre fiksi populer seperti urban fantasy.
Meskipun karya-karya fiksi bernapaskan iman memiliki potensi evangelisasi dan katekese yang sangat besar di era modern, menembus industri penerbitan mainstream bukanlah hal yang mudah. Ia berharap dukungan doa dari umat dapat terus menguatkan para pengarang fiksi Katolik dalam melahirkan karya-karya yang membawa kebaikan bagi masyarakat luas.



