PenaKatolik.Com | Renungan untuk Sahabat Sancta Clara
Minggu Biasa XI – Mat. 9:36–10:8
“Ketika Yesus melihat orang banyak itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan…” (Mat. 9:36)
Ada saat-saat ketika usia membuat langkah melambat dan hati mulai bertanya dalam diam:
“Apakah hidupku masih berarti?”
“Apa lagi yang bisa kuberikan?”
“Bukankah masa terbaikku sudah lewat?”
Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu pernah singgah di hati kita.
Ketika tangan tidak lagi sekuat dahulu. Ketika nama-nama mulai terlupa. Ketika anak-anak sibuk dengan kehidupannya. Ketika rumah terasa lebih sunyi daripada biasanya. Ketika tubuh mudah lelah, sementara malam terasa panjang.
Namun Injil hari ini mengingatkan kita: sebelum Yesus mengutus para murid, Ia terlebih dahulu melihat.
Ia melihat mereka yang lelah.
Ia melihat mereka yang terlantar.
Ia melihat mereka yang merasa kecil dan tak diperhitungkan.
Dan hati-Nya tergerak.
St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa kasih membuat kita belajar melihat sebagaimana Allah melihat. Kita sering menilai hidup dari apa yang masih bisa kita kerjakan.
Allah menilainya dari seberapa besar kasih yang kita persembahkan.
Mungkin kita tidak lagi dapat melakukan hal-hal besar.
Tetapi bukankah seorang oma yang setiap pagi menyebut nama anak-cucunya dalam doa sedang menjaga dunia dengan caranya sendiri?
Bukankah seorang opa yang menyapa relawan dengan senyum hangat sedang mengajarkan bahwa setiap manusia layak dihargai?
Bukankah tangan yang gemetar saat meronce rosario tetap menjadi tangan yang memohon belas kasih bagi begitu banyak jiwa?
Bukankah relawan yang dengan sabar menyuapi, mendengarkan cerita yang sama berulang kali, atau menggandeng langkah yang mulai goyah sedang menghadirkan wajah Kristus sendiri?

Dunia sering memuji mereka yang cepat, kuat, dan produktif.
Tetapi Tuhan tidak pernah melupakan mereka yang setia.
Bagi-Nya, tidak ada doa yang terlalu kecil. Tidak ada senyum yang sia-sia. Tidak ada penderitaan yang dipersatukan dengan salib Kristus yang tidak berbuah bagi keselamatan jiwa-jiwa.
Karena itu, Sahabat Sancta Clara, jangan takut memasuki senja kehidupan.
Senja bukanlah akhir dari keindahan. Justru pada senja, langit sering memancarkan warna-warna yang paling indah.
Mungkin kita tidak lagi dipanggil untuk berlari jauh, tetapi kita dipanggil untuk bersinar dengan lembut: menjadi penghiburan bagi yang berduka, menjadi doa bagi yang menderita, menjadi harapan bagi yang hampir menyerah.
Dan ketika suatu hari Tuhan memanggil kita pulang, semoga kita dapat berkata dengan tenang:
“Tuhan, aku mungkin tidak melakukan hal-hal besar. Tetapi aku telah berusaha mencintai dengan setia.”
Dan mungkin itulah kekudusan yang paling sederhana:
bukan hidup tanpa kelemahan,
melainkan hati yang tetap memilih mengasihi sampai akhir.
Laudare. Benedicere. Praedicare.
Di tangan Tuhan, tidak ada usia yang terlambat untuk menjadi berkat, dan tidak ada kasih yang terlalu kecil untuk mengubah dunia. *akurop.



