Romo Toni Ajak Oma dan Opa SSC Menjadi Pewarta Kristus Melalui Kesaksian Hidup

PenaKatolik.Com, Kuta-Bali | Kesetiaan dalam menjalani iman sehari-hari menjadi pesan utama yang disampaikan RD. Antonius Gede Ekadana Putra dalam Misa Jumat Pertama yang berlangsung di Kapel Societas Sancta Clara (SSC), Kuta, Bali, Jumat (5/6/2026). Perayaan Ekaristi yang diikuti oma dan opa Komunitas SSC itu bertepatan dengan peringatan Santo Bonifasius, uskup dan martir yang dikenal sebagai pewarta Injil di Jerman.

Dalam homilinya, Romo Toni mengajak para oma dan opa untuk melihat lebih dalam makna iman Kristiani, tidak hanya berdasarkan apa yang tampak di depan mata, tetapi juga melalui keyakinan akan kehadiran Allah yang bekerja dalam kehidupan manusia.

Untuk menjelaskan pesannya, Romo Toni mengawali homili dengan menunjukkan sebuah sibori, wadah yang digunakan untuk menyimpan hosti dalam perayaan Ekaristi. Dia kemudian mengajak para peserta memperhatikan keindahan benda tersebut.

“Kita melihat sibori ini indah, bagus, warnanya emas, mungkin harganya mahal. Tetapi kita tidak tahu proses panjang yang terjadi di balik pembuatannya,” kata Romo Toni.

Menurut dia, sebuah sibori yang indah lahir melalui proses yang tidak sederhana. Logam harus dipanaskan, ditempa, dan dibentuk dengan teliti hingga akhirnya menjadi benda liturgi yang bernilai.

Misa Jumat Pertama Bulan (05/06). SSC – Kuta Bali. Gambar: Koming

Melalui contoh tersebut, Romo Toni mengaitkannya dengan bacaan Injil hari itu. Dia menjelaskan bahwa banyak orang Yahudi pada zaman Yesus hanya melihat apa yang tampak secara lahiriah. Mereka mengenal Yesus sebagai manusia biasa dan keturunan Daud, tetapi sulit menerima bahwa Dia juga adalah Putra Allah.

“Orang-orang Yahudi hanya melihat Yesus sebagai manusia. Tetapi kita percaya bahwa Yesus bukan hanya manusia. Dia juga Allah yang datang dari surga untuk menyelamatkan dunia,” ujarnya.

Romo Toni menegaskan bahwa iman Kristiani mengajak umat untuk melihat lebih jauh daripada apa yang tampak secara kasatmata. Keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan merupakan warisan iman yang telah dipertahankan Gereja selama lebih dari dua ribu tahun.

Dia mengatakan bahwa perjalanan mempertahankan iman tidak selalu mudah. Sepanjang sejarah Gereja, banyak orang rela menghadapi penderitaan bahkan kehilangan nyawa demi tetap setia kepada Kristus.

Dalam konteks itu, Romo Toni mengangkat teladan Santo Bonifasius yang diperingati Gereja pada hari tersebut. Dia menjelaskan bahwa Bonifasius berasal dari Inggris dan terdorong untuk menjadi misionaris setelah mendengar kisah para pewarta Injil.

Bonifasius kemudian diutus ke wilayah Jerman untuk memberitakan Injil, membimbing masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, serta mengajarkan iman Kristiani.

“Dia mengajak banyak orang mengenal Kristus dan bahkan mengundang teman-temannya untuk ikut membantu karya misi,” kata Romo Toni.

Namun karya pewartaan itu tidak berjalan mulus. Bonifasius menghadapi berbagai penolakan dan akhirnya wafat sebagai martir bersama 53 sahabatnya.

Dokumentasi usai Misa Jumat Pertama Bulan (05/06). Foto: Koming.

Menurut Romo Toni, kesaksian Santo Bonifasius menjadi gambaran nyata sabda Yesus tentang kasih yang terbesar.

“Kasih yang paling besar adalah kasih yang rela memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya,” ujarnya mengutip ajaran Yesus.

Bagi Gereja, lanjut dia, para martir dihormati secara khusus karena menunjukkan kasih yang sempurna kepada Tuhan melalui pengorbanan hidup mereka.

Meski demikian, Romo Toni mengingatkan bahwa pewartaan iman tidak selalu harus dilakukan melalui tindakan besar. Bagi para oma dan opa SSC, kesaksian iman dapat diwujudkan melalui hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Dia mengajak para peserta untuk tetap setia berdoa, membuat tanda salib, mendoakan keluarga, komunitas, serta orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan mereka.

“Apakah iman kepada Kristus sungguh hidup dalam diri kita? Apakah kita masih setia berdoa dan mendoakan sesama? Itu semua adalah bagian dari iman yang hidup,” katanya.

Menjelang akhir homili, Romo Toni mengajak para oma dan opa untuk terus menjadi pewarta Kristus di lingkungan terdekat mereka. Menurut dia, pewartaan Injil dapat dilakukan melalui perhatian kepada sesama, kunjungan kepada orang sakit, serta kesediaan memberikan penghiburan dan doa bagi mereka yang membutuhkan.

“Wartakan Kristus di rumah, di keluarga, dan di komunitas. Ketika kita mendoakan orang sakit dan membantu sesama, saat itulah kita sedang mewartakan Kristus,” tuturnya.

Perayaan Misa Jumat Pertama berlangsung dalam suasana hangat dengan refleksi atas teladan Santo Bonifasius, oma dan opa Komunitas SSC diajak untuk tetap menjaga semangat iman serta menjadi saksi Kristus melalui kesederhanaan hidup sehari-hari. *Samuel – SSC.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini