Apakah Tuhan Masih Bekerja, Ketika Tubuh Semakin Lemah?

PenaKatolik.Com | Homili Minggu Biasa XV – Yes. 55:10–11 | Rm. 8:18–23 | Mat. 13:1–23


Untuk Komunitas Societas Sancta Clara

Saudara-saudari terkasih,
Hari ini saya ingin mengawali dengan sebuah pertanyaan.
Apakah Tuhan masih bekerja, ketika tubuh kita tidak lagi sekuat dulu?
Pertanyaan ini mungkin tidak hanya dimiliki oleh mereka yang sedang sakit.
Tetapi juga oleh banyak lansia.
Ketika berjalan mulai pelan.
Ketika pendengaran mulai berkurang.
Ketika nama teman-teman satu per satu berubah menjadi nama yang kita doakan dalam Misa arwah.
Ketika rumah yang dulu ramai, kini mulai sunyi.
Ketika anak-anak sudah mempunyai keluarga masing-masing.
Dan tanpa sadar kita bertanya,
“Tuhan, apakah hidupku masih berguna?”
“Apakah Engkau masih mempunyai rencana bagiku?”
Kalau kita pernah merasakan itu, hari ini Sabda Tuhan menjawab dengan lembut,
“Ya, Aku masih bekerja.”
Tetapi mungkin bukan dengan cara yang kita bayangkan.

Yesus hari ini tidak berbicara tentang pohon yang besar.
Ia berbicara tentang benih.
Benih itu kecil.
Hampir tidak diperhatikan.
Namun di dalam benih kecil itu, Tuhan telah menyimpan seluruh kehidupan.
Yang menarik, Yesus tidak pertama-tama berbicara tentang hasil panen.
Ia berbicara tentang tanah.
Karena Tuhan lebih memperhatikan hati daripada keberhasilan.

Ada seorang nenek yang setiap pagi menyiram tanaman kecil di depan rumahnya.
Tetangganya bertanya,
“Mengapa setiap hari Ibu menyiram tanaman itu? Bunganya belum juga mekar.”
Nenek itu tersenyum.
“Saya tidak sedang menyiram bunganya. Saya sedang menjaga kehidupannya.”
Beberapa minggu kemudian, tanaman itu berbunga.
Tetangganya baru mengerti.
Yang paling penting ternyata bukan bunga yang terlihat, tetapi kehidupan yang sedang tumbuh diam-diam.
Bukankah Tuhan juga memperlakukan kita seperti itu?
Kita sering meminta bunga.
Tuhan lebih dahulu menjaga kehidupan.

Nabi Yesaya berkata,
“Seperti hujan turun dari langit dan tidak kembali sebelum menyuburkan bumi…”
Hujan tidak tergesa-gesa.
Ia meresap perlahan.
Diam.
Tidak terdengar.
Tetapi menghidupkan.
Demikian pula Sabda Tuhan.
Mungkin setiap kali kita datang ke Misa.
Berdoa rosario.
Menyembah Sakramen Mahakudus.
Mendoakan anak-anak dan cucu-cucu.
Kita merasa tidak ada yang berubah.
Tetapi Sabda Tuhan sedang melakukan pekerjaan yang tidak terlihat.
Ia sedang membuat hati kita semakin damai.
Semakin lembut.
Semakin siap bertemu dengan Tuhan.

Lalu Santo Paulus berkata,
“Segala penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan.”
Perhatikan.
Paulus tidak berkata bahwa orang beriman tidak akan mengalami sakit.
Ia berkata,
Penderitaan bukanlah tujuan akhir.
Kehidupan kita sedang menuju kemuliaan.
Dan itu mengubah cara kita memandang usia tua.
Usia tua bukanlah akhir perjalanan.
Melainkan masa panen.
Masa ketika Tuhan mengumpulkan buah-buah kasih yang telah kita tabur sepanjang hidup.

Saudara-saudari,
Saya teringat akan teladan Santa Klara dari Assisi Clare of Assisi.
Di akhir hidupnya, tubuh Santa Klara sangat lemah.
Ia banyak berbaring di tempat tidur.
Tetapi doanya justru semakin kuat.
Ia tidak lagi berjalan jauh.
Namun kasihnya menjangkau banyak orang.
Ia mengajarkan kepada kita bahwa nilai hidup seseorang tidak diukur dari seberapa cepat ia berjalan, tetapi dari seberapa dalam ia mencintai.
Mungkin sekarang kita tidak lagi dapat melakukan banyak hal seperti dahulu.
Tetapi kita masih dapat melakukan sesuatu yang sangat besar.
Berdoa.
Mendengarkan.
Menghibur.
Tersenyum.
Mengampuni.
Memberkati.
Dan itu semua adalah buah yang sangat berharga di mata Tuhan.

Hari ini kita diajak untuk mengingat satu kata.
AKAR
Karena…
Pohon yang harus mampu menghadapi badai, terlebih dahulu membutuhkan akar yang sanggup bertahan di dalam tanah.
Mungkin selama ini Tuhan sedang memperdalam akar kehidupan kita.

A — Andalkan Tuhan, bukan kekuatan diri sendiri.
Semakin bertambah usia, kita semakin sadar bahwa ada banyak hal yang tidak lagi dapat kita kendalikan.
Tetapi Tuhan tetap memegang hidup kita.

K — Kuat dalam pengharapan.
Harapan orang beriman tidak berhenti pada kesehatan.
Harapan kita adalah Kristus yang telah bangkit.

A — Air mata menjadi doa.
Ada air mata karena kehilangan.
Karena kesepian.
Karena kerinduan.
Jangan takut.
Di tangan Tuhan, air mata tidak pernah sia-sia.
Ia menjadi doa yang paling jujur.

R — Berakar dalam Kristus.
Kalau akar kita tertanam di dalam Kristus, kita tidak takut menghadapi musim apa pun.
Karena yang menopang hidup kita bukan kekuatan tubuh.
Melainkan kasih Tuhan.

Saudara-saudari terkasih,
Mungkin tubuh kita semakin rapuh.
Mungkin langkah kita semakin pelan.
Mungkin rambut memutih.
Mungkin wajah mulai dipenuhi keriput.
Tetapi kasih tidak pernah menjadi tua.
Harapan tidak pernah menjadi tua.
Dan Tuhan tidak pernah berhenti berkarya.

Karena itu pulanglah hari ini dengan keyakinan ini:
Tubuh mungkin semakin lemah.
Langkah mungkin semakin pelan.
Air mata mungkin semakin sering jatuh.
Tetapi jika akar hidup kita tetap tertanam di dalam Kristus, tidak ada usia, tidak ada penyakit, dan tidak ada penderitaan yang mampu mencabut kehidupan yang Tuhan tanam dalam diri kita.

Sebab Tuhan masih bekerja.
Mungkin bukan dengan menambah tahun-tahun dalam hidup kita,
tetapi dengan memenuhi tahun-tahun hidup kita dengan kasih, damai, dan pengharapan.
Dan itulah keindahan hidup seorang murid Kristus.
Amin.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini