Cirebon, PenaKatolik.com — Ada panggilan Tuhan yang datang sejak masa kecil. Ada pula panggilan yang hadir justru ketika hidup seseorang tampak sudah lengkap.
Kisah Romo Stefanus Ferriandis Harsono, atau yang akrab dikenal banyak orang sebagai Yandis, menjadi salah satu kisah yang menyentuh hati banyak umat.
Ia adalah seorang dokter spesialis anak.
Sebuah profesi yang mulia dan penuh pelayanan. Dalam perjalanan hidup pribadinya pun, ia pernah melangkah sangat jauh dalam relasi: pernah berpacaran, bahkan telah bertunangan dan tinggal selangkah menuju pernikahan.
Secara manusiawi, masa depannya tampak jelas.
Namun Tuhan rupanya memiliki rencana yang jauh lebih besar.
Di tengah profesi yang mapan dan kehidupan yang tampaknya telah tertata, suara panggilan itu terus hadir. Tidak datang dengan cara instan, melainkan melalui pergulatan panjang, air mata, pertanyaan, dan keberanian untuk sungguh mendengarkan kehendak Tuhan.
Ia pernah meminta tanda kepada Tuhan, dan perlahan, Tuhan menjawab.
Jalan menuju tahbisan ini pun bukan jalan yang mudah.
Setelah pengumuman tahbisan disampaikan, Yandis mengungkapkan isi hatinya dengan sangat jujur:
“Setelah diumumkan rasanya terharu ingin nangis… karena proses perjalanannya seperti saya melewati lubang jarum…”
Kalimat sederhana itu menyimpan begitu banyak cerita yang mungkin tidak dilihat orang lain—tentang perjuangan batin, pengorbanan, keputusan besar, dan iman yang terus diuji.
Namun justru di situlah keindahannya: ketika manusia merasa jalannya sempit seperti lubang jarum, Tuhan tetap membuka jalan rahmat-Nya.
Yang semakin menyentuh, tahbisan ini dilaksanakan pada 29 April, bertepatan dengan pesta Santa Katarina Siena.
Menurut Yandis, tanggal itu dipilih langsung oleh Mgr.Antonius Subianto Bunjamin OSC yang mengetahui bahwa dirinya pernah menjalani formasi bersama keluarga Santo Dominikus.
Ada sesuatu yang terasa begitu indah dalam momen ini.
Santa Katarina Siena sendiri bukan imam, bukan uskup, bahkan bukan religius tertutup. Ia adalah seorang awam Dominikan yang menyerahkan seluruh hidupnya bagi Gereja. Ia merawat orang sakit ketika wabah melanda, mendampingi narapidana menjelang hukuman mati, dan bahkan dengan penuh keberanian menulis kepada Pous Gregorius XI agar kembali ke Roma demi kesatuan Gereja.
Ia pernah berkata:
“Be who God meant you to be and you will set the world on fire.”
Dan mungkin, pesan itu terasa hidup dalam perjalanan Romo Yandis.
Dari ruang praktik medis yang menyembuhkan tubuh anak-anak…
menuju altar yang akan melayani jiwa-jiwa.
Dari stetoskop…
menuju sakramen.
Dari rencana manusia…
menuju misteri panggilan Allah.
Tahbisan ini menjadi pengingat bagi banyak umat bahwa Tuhan dapat memanggil siapa saja, kapan saja, bahkan ketika kita merasa hidup sudah memiliki arah sendiri. Tuhan tetap bisa berkata:
“Aku masih punya rencana lain untukmu.”
Dan jawaban penuh iman seperti yang diberikan Romo Yandis selalu menjadi kabar sukacita bagi Gereja.
Selamat atas tahbisan imamat, Romo Yandis.
Semoga hidupmu sungguh menjadi saluran rahmat Allah, bagi anak-anak yang pernah engkau layani,
bagi umat yang akan kaugembalakan,
dan bagi banyak jiwa yang akan menemukan harapan melalui pelayananmu.
Karena pada akhirnya, panggilan bukan tentang siapa yang paling cepat menjawab. Tetapi siapa yang berani berkata, meski dengan air mata:
“Tuhan, aku siap.” (*akur)



