Pena Katolik, Pontianak | Pada awal bulan November 2025, mahasiswa yang turut ikut dalam perkuliahan yang saya ajar mulai memasuki masa Ujian Tengah Semester (UTS). Khusus mata kuliah Manajemen Pemasaran (MP) juga termasuk dalam UTS tersebut. Salah satu pertanyaan yang saya berikan yakni, Why is marketing considered important for both profit and non-profit organizations? Support your answer with an example!
Cukup menarik juga untuk direnungkan, dari dasar pertanyaan itu saya juga ke-pikir-an bahwa apa jadinya ketika pasar menjadi teks dan di wadah yang sama ada peran marketing, ekonomi dan yang pasti adalah strategi manajemen? Sekarang kita sudah (suka atau tidak) masuk di ‘era pembacaan ulang realitas pasar’.
Coba kita bayangkan bahwa, dalam dunia yang bergerak cepat, kita sering tergoda untuk melihat bisnis sebagai sekadar mesin untung—angka, grafik, target penjualan, laporan laba-rugi. Namun barangkali kita lupa bahwa di balik angka-angka itu, ada sesuatu? Maksud saya, bisnis (dalam arti sistem), manajemen, termasuk juga pemasar adalah bentuk percakapan, pertukaran makna, dan bahkan interpretasi tentang siapa manusia itu sendiri. Jika ekonomi adalah panggung, maka dalam konteks ini saya lebih suka menggarisbawahi bahwa marketing adalah bahasa yang menghubungkan aktor-aktornya. Sedangkan strategi manajemen itu merupakan tata letak naskah yang menentukan bagaimana sandiwara itu dimainkan. Tiga elemen ini bukan sekadar disiplin teknis, konsep-konsep itu merupakan cara ‘kita’ membaca dan menulis ulang hubungan manusia dalam lanskap pasar.
Para pemikir ekonomi (manajemen strategi) – pernah mengingatkan bahwa ekonomi bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan tertanam dalam jaringan sosial, budaya, dan moral. Artinya, pertukaran barang dan jasa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang pengakuan, identitas, dan imajinasi. Dalam pengertian ini, marketing tidak lagi sekadar mengiklankan produk, melainkan mengelola persepsi, membentuk makna, bahkan ikut mendesain siapa “kita” sebagai konsumen.
Dalam konteks ini – Ekonomi bukan lagi soal kurva permintaan dan penawaran, tetapi medan tawar-menawar nilai. Manajemen strategi sekarang bukan lagi seni memerintah, namun ia adalah seni membaca perubahan, merasakan denyut realitas, dan menggerakkan organisasi dalam horizon yang penuh ketidakpastian.

Marketing sebagai Bahasa Makna
Jika ekonomi itu infrastruktur pertukaran, maka marketing itu semantik yang menjadikannya hidup. Sekarang bukan sekadar teknik menjual, tetapi proses (hermeneutik) membaca keinginan manusia, menafsirkan harapan, lalu menciptakan simbol-simbol baru yang diterima pasar. Kotler sendiri telah bergeser dari marketing mix (4P) menuju marketing humanis. Faktanya manusia kini tidak membeli barang—mereka membeli cerita, identitas, pengalaman, bahkan pengakuan diri, tepat sekali seperti apa yang ditulis Abraham Maslow (beliau populer bagi mahasiswa jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia).
Dalam era digital konsumen bukan lagi objek, tetapi subjek yang ikut menulis ulang narasi produk. Karena itu, perusahaan yang gagal mengerti bahasa pasar bukan hanya gagal berjualan—ia gagal berkomunikasi secara eksistensial. Sridhar & Hughes (2021) menegaskan bahwa data analitik kini menjadi tulang punggung marketing modern. Namun data tidak otomatis bermakna, ia juga mesti ditafsirkan. Inilah wilayah di mana penafsiran (interprestasi) bertemu dashboard penjualan, angka tidak berbicara, manusialah yang memberi suara.
Ekonomi sebagai Ruang Pertukaran Nilai
Ekonomi tidak pernah netral, boleh kita artikan seperti cermin struktur kekuasaan, distribusi kesempatan, dan imajinasi kolektif. Apa yang kita sebut “nilai” dalam ekonomi bukan benda konkret, melainkan kesepakatan sosial. Dulu kita kenal ada sistem barter (barang ke barang) namun seiring waktu berkembang menjadi uang berbentuk koin dan kertas. Coba lihat lebih jauh bahwa, sekarang uang bukan sekadar alat tukar dibalik itu justru tampak jelas konsensus simbolik. Oleh karenanya, setiap perubahan ekonomi selalu merupakan perubahan dalam struktur makna dari ekonomi industri ke ekonomi digital – dari kapitalisme produksi ke kapitalisme atensi dan dari barang fisik ke experience economy.
Sebagaimana yang Prof Rhenald Kasali (Pemikir Ekonomi, Manajemen Indonesia) katakan bahwa dalam konteks ini, ekonomi perusahaan bukan hanya tentang efisiensi, tetapi tentang relevansi (berkaitan, atau memiliki hubungan langsung dengan suatu hal yang sedang dibicarakan atau dibahas). Tak heran jika Prof Rhenald Kasali memiliki slogan ‘stay relevant’ – di channel Youtube-nya Rumah Perubahan.
Teori klasik tentang keunggulan kompetitif kini bergeser ke kemampuan membaca arah angin—tak cukup hanya menghitung biaya, namun diharapkan bisa memahami dinamika nilai yang terus berubah. Pasar hari ini tidak lagi menghargai yang termurah, tetapi yang paling bermakna, lestari, dan yang paling essensial dari itu adalah ‘pantas dipercaya’.
Seni Mengatur Waktu dan Ketidakpastian
Jika marketing adalah bahasa dan ekonomi adalah konteks, maka strategi manajemen merupakan arsitekturnya. Manajemen tidak pernah hanya tentang struktur organisasi, inilah kesesatan berpikir yang seringkali ditafsikan secara dangkal. Justru manajemen itu merupakan disiplin untuk mengubah keterbatasan menjadi kemungkinan. Buku-buku strategi terbaru menegaskan bahwa dunia bisnis masa depan bukan soal siapa yang kuat, tetapi siapa yang paling adaptif.
Salah satu pemikir, Henry Mintzberg pernah berkata, bahwa strategi bukan lah rencana yang lahir dari ruang rapat, tetapi pola yang tercipta dari keputusan-keputusan yang diambil dalam perjalanan. Dengan kata lain, strategi itu juga interpretasi yang terus diperbarui dan sebuah praktik membaca teks yang ‘praksis’. Pada titik ini, manajemen strategi lebih mirip seorang konduktor orkestra dibanding seorang jenderal perang, sebab ia tidak mengontrol setiap nada, tetapi memastikan harmoni secara keseluruhan.
Di sinilah sinergi ketiga elemen itu menjadi jelas, mulai dari marketing untuk membaca pasar, ekonomi memetakan nilai dan manajemen yang menyusun semua respons dari apa yang sudah ‘tilik’. Ketiganya membentuk siklus pengetahuan dari interpretasi, artikulasi, hingga eksekusi.
Membaca Ulang Realitas Pasar
Perusahaan-perusahaan yang tumbang dalam satu dekade terakhir bukanlah yang kekurangan modal, bukan juga mereka bodoh tetapi mereka gagal menafsirkan ulang dunia. Contoh populer yang sering saya pakai dalam perkuliahan seperti Kodak. Ia tidak gagal karena kurang kamera, tetapi karena kodak membaca dirinya sebagai produsen film, bukan sebagai pengelola memori manusia. Atau contoh legend sejak saya masih berkuliah dulu hingga sekarang yaitu Nokia. Produknya waktu itu (Nokia) sebetulnya tidak kalah karena kurang insinyur, tetapi karena gagal memahami bahwa ponsel telah berubah dari alat komunikasi menjadi ekstensi identitas.
Hari ini, ketika kecerdasan buatan masuk ke ruang ekonomi, marketing, dan manajemen—pertanyaannya bukan lagi “apa alatnya?”, tetapi “apa maknanya?”. Sekarang AI bukan hanya efisiensi, tetapi revolusi ‘epistemik’, bagaimana kita mengetahui, merasa, dan memutuskan. Strategi perusahaan mestinya bertransformasi dari mengelola barang menjadi mengelola makna di tengah banjir informasi.
Manajemen sebagai Teks
Sekarang marketing management mengajarkan kita bahwa teks tidak hanya dibaca, tetapi ditafsirkan. Pasar juga demikian – bukan sungai uang, namun aliran makna. Organisasi, UMKM atau Perusahaan yang ingin hidup lama mestinya belajar membaca lapisan-lapisan realitas dunia mulai dari melihat ekonomi sebagai struktur, marketing sebagai bahasa, manajemen sebagai tindakan.
Ke depan kompetisi tidak lagi semata-mata soal “siapa lebih murah” atau “siapa lebih cepat”, namun siapa yang paling mampu menafsirkan dirinya, pelanggannya, dan dunianya. Organisasi atau kelompok yang gagal memaknai realitas akan punah bukan karena kalah bersaing, tetapi karena kehilangan relevansi ontologis. Akhirnya yang bertahan bukan yang paling kuat, tetapi yang paling siap membaca ulang dunia—sekali lagi, dan lagi. Serupa pula dengan ungkapan dari Negeri Assisi yang berbunyi, “Sampai saat ini, kita belum berbuat apa-apa, mari kita coba lagi,” kata Santo Fransiskus dari Assisi. Semoga!!!