“Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan (Mat 3:13–17)”
Hari ini Injil mengajak kita melihat sebuah peristiwa yang sederhana, namun sarat makna: Yesus dibaptis di Sungai Yordan.
Ia tidak datang untuk menunjukkan keunggulan-Nya, tetapi untuk berdiri di tengah manusia, sejajar dengan mereka yang datang membawa penyesalan, harapan, dan pencarian hidup.
Yesus sebenarnya tidak membutuhkan baptisan. Namun Ia tetap masuk ke air. Sikap ini mengungkapkan wajah Allah yang sesungguhnya: Allah yang memilih dekat, bukan Allah yang menjaga jarak.
Dalam makna Kitab Suci, baptisan berarti “ditenggelamkan sepenuhnya”. Artinya, Allah tidak menyentuh hidup manusia secara sepintas. Ia masuk sepenuhnya ke dalam realitas manusia—ke dalam kerapuhan, kelelahan, dan pergulatan hidup yang nyata.
Injil kemudian berkata bahwa langit terbuka. Ini bukan sekadar gambaran puitis. Ini adalah tanda bahwa jarak antara Allah dan manusia tidak lagi tertutup. Allah sendiri yang membuka jalan, bukan karena manusia sudah sempurna, tetapi karena kasih-Nya lebih dahulu bekerja.
Lalu terdengarlah suara dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Kalimat ini diucapkan sebelum Yesus memulai karya-Nya. Sebelum mukjizat. Sebelum salib.
Pesannya jelas dan meneguhkan: kasih Allah tidak bergantung pada prestasi. Kasih mendahului tugas. Identitas mendahului karya.
Melalui baptisan, kita pun menerima pernyataan yang sama: kita adalah anak-anak yang dikasihi Allah. Bukan karena keberhasilan kita, bukan karena kesempurnaan hidup kita, melainkan karena kita adalah milik-Nya.
Renungan hari ini mengajak kita bercermin: apakah kita juga berani hadir bagi sesama dengan sikap yang sama? Mendekat tanpa menghakimi, menemani tanpa merasa lebih tinggi,
mencintai tanpa syarat.
Di tengah dunia yang mudah memberi label dan penilaian, Injil Pembaptisan Tuhan mengingatkan kita akan satu hal penting: Allah tidak menunggu manusia berubah lebih dahulu untuk mengasihi. Ia lebih dahulu hadir, dan melalui kehadiran-Nya, hidup manusia perlahan dibarui.
Kiranya perayaan Pembaptisan Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk hidup sebagai pribadi-pribadi yang berani mendekat, membuka ruang bagi sesama, dan menjadi tanda kasih Allah di tengah kehidupan sehari-hari.
