VATIKAN, Pena Katolik – Di balik dinding Kapel Sistina yang tertutup, sebuah diskusi menarik terjadi sesaat setelah terpilihnya Kardinal Karol Wojtyła, Uskup Agung Krakow yang saat itu berusia 58 tahun, awalnya memiliki keinginan untuk menyandang nama “Stanislaus”. Pilihan nama ini untuk penghormatan tertinggi kepada St. Stanislaus Kostka, Novis Serikat Yesus yang juga santo pelindung Polandia.
Namun, sejarah mengambil arah lain. Kardinal Wojtyla diingatkan, bahwa nama tersebut kurang selaras dengan tradisi kepausan Romawi. Sontak, Kardinal Wojtyła menunjukkan kerendahan hati. Ia lalu memilih nama Yohanes Paulus II, untuk mengenang, dan meneruskan, pendahulunya, Kardinal Albino Luciani (Yohanes Paulus I), yang masa kepemimpinannya hanya berlangsung singkat selama 33 hari.
Sejak itulah, Paus Yohanes Paulus II memimpin Gereja Katolik dunia. Masa kepausannya membentang selama 27 tahun. Ia wafat pada 2 April 2005.
Memori yang Abadi dalam Visual
Senja itu, Senin, 16 Oktober 1978, suasana di Lapangan Santo Petrus ada dalam penantian. Dunia sedang menahan napas, mengarahkan pandangan ke sebuah cerobong kecil di atas Kapel Sistina. Setelah tujuh kali asap hitam mengepul—”pertanda kegagalan mencapai mufakat”—harapan mulai membuncah saat jam menunjukkan pukul 18.18.
Tepat pada saat itu, langit Roma yang mulai gelap menjadi saksi bisu: asap putih akhirnya membubung tinggi. Pesannya jelas, Gereja Katolik telah memiliki pemimpin baru, Habemus Papam.
Ketegangan berubah menjadi sukacita yang riuh, namun teka-teki tentang siapa sosok di balik dinding kapel tersebut masih menyelimuti ribuan umat yang berkumpul. Setengah jam berlalu dalam antisipasi yang mendebarkan.
Pukul 18.45, Kardinal Proto-Diakon, Kardinal Pericles Felici muncul di balkon Basilika Santo Petrus. Dengan suara yang bergema di sela riuh rendah massa, ia mengumumkan nama yang tak disangka-sangka oleh banyak orang: Kardinal Karol Wojtyla.
Kardinal asal Polandia tersebut memilih nama Yohanes Paulus II. Peristiwa ini menandai sejarah besar; beliau resmi menjadi Paus ke-264, Uskup Roma, sekaligus Penerus Petrus yang akan membawa Gereja memasuki milenium baru.
Kata pertama Paus Yohanes Paulus II akan terus dikenang. Ia menyampaikan duka atas kepergian pendahulunya yang begitu cepat, namun juga menjelasakan “misteri” dibalik keterpilihan dirinya.
“Saya tidak tahu apakah saya dapat menjelaskan diri saya dengan baik dalam bahasa Italia Anda. Koreksi saya jika saya membuat kesalahan. Dan karena itu saya memperkenalkan diri kepada Anda semua, untuk mengakui iman kita bersama, harapan kita, kepercayaan kita kepada Bunda Kristus dan Gereja, dan juga untuk memulai kembali jalan sejarah dan Gereja ini, dengan pertolongan Tuhan dan dengan pertolongan manusia.”
Totus Tuus
Semangat “Paus dari Polandia” ini terpancar kuat di tanah kelahirannya. Pada peringatan Hari Kepausan ke-20 tahun lalu, motto “Totus Tuus” kembali menggema sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi totalnya.
Kenangan 16 Oktober, yang kini telah puluhan tahun berlalu. Namun, tanggal bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah titik awal dari sebuah perjalanan kepausan yang mengubah sejarah.
Paus Yohanes Paulus II dikenal sebagai pribadi yang kuat, bebas, dan memiliki magnet luar biasa dalam membangun hubungan langsung dengan umat Kristiani—bahkan dengan dunia di luar Gereja.
Ada sebuah kisah menarik di balik layar, Kardinal Wyszyński (Primat Polandia) saat itu, pernah berbisik kepadanya bahwa ia dipanggil untuk membawa Gereja melintasi ambang pintu milenium ketiga. Dan sejarah membuktikan bahwa “nubuat” itu menjadi kenyataan.
Meskipun didera berbagai cobaan fisik—mulai dari upaya pembunuhan yang keji hingga penyakit yang menggerogoti di masa tuanya—Santo Yohanes Paulus II tidak pernah mundur. Ia memimpin Gereja yang inklusif dan berani menghadapi tantangan zaman.
Dua pesan ikoniknya tetap menjadi kompas bagi umat beriman hingga hari ini: “Jangan Takut!” – Seruan yang membakar semangat di awal kepausannya.
“Duc in altum! (Tebarkanlah jalamu ke tempat yang dalam!)” – Ajakan untuk terus mewartakan kasih Kristus di tengah dunia yang luas dan penuh persoalan.
Hingga di milenium ketiga ini, semangat Paus Yohanes Paulus II mengingatkan kita bahwa dunia, serumit apa pun kondisinya, akan selalu dicintai oleh Tuhan.
