Selasa, Juli 23, 2024
32.1 C
Jakarta

Mencermati Lagi, Posisi Dukungan Vatikan untuk Kemerdekaan Palestina

Hubungan Bilateral Vatikan dan Pelstina. Vatican News

VATIKAN, Pena Katolik – Sebagian besar negara di dunia tampaknya ingin Palestina memiliki negara sendiri. Momentum itu datang salah satunya pada bulan September 2011. Sebagian besar komunitas internasional menyatakan dukungan simbolis atas upaya Palestina menjadi negara di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Lalu, bagaimana Vatikan? (Gereja Katolik). Tampaknya dukungan dari Gereja Katolik Roma menjadi sesuatu yang menarik. Dalam upaya yang sama, Indonesia sendiri menjadi salah satu negara yang “berhutang” pada Vatikan. Negara yang hanya seluas lapangan bola itu menjadi salah satu negara pertama di daratan Eropa yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Pengakuan yang selanjutnya memiliki pengaurh signifikan dalam usaha Indonesia memperoleh dukungan dari negara-negara lain di Eropa dan dunia, khususnya yang penduduknya mayoritas Katolik.

Pengaruh yang sama ini rasanya diharapkan terjadi pada Palestina. Sejauh ini, ada banyak tanda yang menunjukkan “sikap” Vatikan terhadap Palestina. Kedatangan Presiden Palestina ke Vatikan menjadi salah satu tandanya. Dalam lima tahun terakhir, Mahmoud Abbas setidaknya sudah datang ke Vatikan sebanyak tiga kali. Salah satunya saat ia berjumpa dengan Perdana Menteri Israel, Simon Perez di Vatikan.

Pada 13 Mei 2015, Vatikan mengeluarkan pernyataan resmi yang mengakui wilayah yang dikuasai oleh Otoritas Nasional Palestina sebagai negara merdeka. Dengan demikian Tahta Suci bergabung dengan 135 negara yang telah mengakui hak Palestina untuk sebuah negara merdeka.

Perjalanan Sikap Vatikan

Vatikan selalu konsisten mendukung hak rakyat Palestina untuk mendirikan negara sendiri. Bahkan sebelum Resolusi Majelis Umum PBB 181 dikeluarkan untuk menghentikan mandat Inggris untuk administrasi Palestina dan untuk menciptakan Negara Arab dan Yahudi yang merdeka di wilayahnya. Paus Pius XII mendirikan Misi Kepausan untuk Palestina untuk meningkatkan hubungan dengan Palestina. Misi tersebut tidak memiliki status diplomatic, tetapi menjadi penghubung penting antara Gereja Katolik Roma dan penduduk Kristen Palestina.

Vatikan mendukung keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Yerusalem menjadi corpus separatum yang dikelola oleh Dewan Perwalian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Vatikan juga bersikeras pada status quo situs Tanah Suci untuk tiga agama, yang dimasukkan ke dalam hukum internasional oleh Perjanjian Berlin pada tahun 1878. Karena alasan itulah, administrasi politik Israel dan keputusan oleh Knesset tanggal 29 Juli 1980 untuk menyatakan Yerusalem menjadi Ibu Kota Israel ditolak oleh Tahta Suci.

Pada tahun 1964, Paus Paulus VI mengunjungi Betlehem dan dalam pernyataan resminya, mendukung hak Palestina. Paus Yohanes Paulus II membuat beberapa pernyataan keras yang mengutuk otoritas Israel karena “menciptakan kondisi yang tak tertahankan, yang menyebabkan banyak warga Palestina meninggalkan tanah mereka.”

Pada tahun 1987, Paus bertemu dengan Yasser Arafat dan menegaskan bahwa pembicaraan damai harus menghasilkan Palestina memiliki negara merdeka sendiri. Pada tanggal 15 Februari 2000, Tahta Suci dan Organisasi Pembebasan Palestina menandatangani perjanjian dasar bilateral, yang mengatakan bahwa mereka menyerukan solusi damai dari konflik Palestina-Israel.

Paus Benediktus XVI mengikuti jejak pendahulunya dalam hal masalah Palestina. Pada Oktober 2010, dia membuat pernyataan mendukung “langkah-langkah hukum yang diperlukan untuk mengakhiri pendudukan berbagai wilayah Arab. Selama pertemuannya dengan Mahmoud Abbas pada 17 Desember 2012, Paus Benediktus XVI menyatakan persetujuannya atas resolusi Majelis Umum PBB untuk memberikan status negara pengamat non-anggota Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Paus ke-266 saat ini, Paus Fransiskus, yang terpilih pada Maret 2013, mengatakan selama kunjungannya ke Tanah Suci bahwa dia mengakui wilayah yang dikendalikan oleh Otoritas Nasional Palestina sebagai Negara Palestina. Ini adalah pengakuan resmi atas fakta bahwa negara ini ada.

Sebuah pertanyaan logis adalah mengapa Vatikan cenderung mendukung Palestina daripada posisi Israel. Jawabannya jelas. Kebijakan dan praktik Israel selama empat puluh tahun yang melanggar semua hak warga Palestina di wilayah pendudukan. Selama tahun-tahun pendudukan, populasi Palestina di Tepi Barat menyusut hampir sepertiga.

Vatikan secara memastikan perlindungan hak dan properti umat Kristiani. Namun kebijakan Israel memperluas pemukiman Yahudi ke tanah Palestina melanggar hak-hak pengakuan Kristen di Israel sendiri. Langkah Israel ini menyebabkan lebih banyak orang Kristen meninggalkan Tanah Suci. (Antonius E. Sugiyanto)

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini