Komunitas Grandchamp

Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen dimulai Senin 18 Januari dan akan diisi dengan meditasi, doa, dan acara harian, serta diakhiri dengan perayaan Vesper yang dipimpin Paus Fransiskus dan para pemimpin Kristen lainnya di Basilika Santo Paulus di Luar Tembok, 25 Januari.

Tema tahun ini, “Tinggallah dalam kasih-Ku dan kamu akan berbuah banyak” (Yoh 15:5-9) dipilih oleh Komunitas Grandchamp di Swiss, komunitas monastik yang menyatukan para suster dari berbagai gereja dan negara. Komunitas ini juga yang memberikan renungan dan teks harian yang bertujuan untuk semakin mendekatkan persekutuan dengan saudara dan saudari di dalam Kristus dan solidaritas yang lebih besar dengan seluruh ciptaan.

Dengan tema itu, para suster bisa berbagi pengalaman dan hikmat kehidupan kontemplatif mereka dengan tinggal di dalam kasih Tuhan, dan memberi mereka suara untuk berbicara tentang buah dari doa ini.

Komunitas Grandchamp, yang menyatukan para suster dari berbagai gereja dan negara, dibentuk pada paruh pertama abad ke-20 dan sejak awal memiliki hubungan erat dengan Komunitas Taizé dan Abbas Paul Couturier, tokoh penting dalam sejarah Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen. Saat ini ada sekitar lima puluh suster dalam komunitas itu. Mereka berkomitmen untuk mencari jalan rekonsiliasi antara umat Kristen, di seluruh keluarga manusia, dan menghormati seluruh ciptaan.

Dalam wawancara dengan Radio Vatikan, Pemimpin Komunitas Grandchamp Suster Anne-Emmanuelle mengatakan persatuan yang didoakan para suster itu tercermin dalam kehidupan sehari-hari komunitas itu, dan tidak hanya “pada tingkat liturgi atau dogmatis.”

Setiap suster, jelas suster itu, harus meninggalkan kekhususan Gerejanya untuk memasuki dimensi komunitas Grandchamp. Perjalanan itu, lanjut suster itu, selalu membangkitkan semua kekayaan Gereja universal yang muncul dari persatuan ini. “Kita semua dengan rendah hati melangkah di jalan kasih Kristus,” dan karenanya harus berupaya memenuhi ayat Santo Yohanes ini, tema perayaan tahun ini, kata suster itu. Itu “ayat yang sulit, karena ada pergumulan batin yang memisahkan kita,” tegasnya.

Tetapi, seraya mengulangi komitmen para suster dan mengajak semua umat beriman untuk “memulai perjalanan ini,” Suster Anne-Emmanuelle mengatakan bahwa meditasi telah disiapkan dalam semangat rekonsiliasi di kalangan umat Kristen, berdasarkan pengalaman dan kebijaksanaan hidup kontemplatif para suster itu.

Setelah mencermati tema “Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen” tahun ini, komunitas Grandchamp menyiapkan draft bahan latar belakang dan ibadah. Dokumen-dokumen ini lalu diselesaikan dalam pertemuan kelompok internasional yang disponsori oleh Dewan Kepausan untuk Peningkatan Persatuan Umat Kristen dan International Committee of Faith and Order Commission. Sumber-sumber untuk Pekan Doa itu bisa dapat ditemukan di situs web Dewan Kepausan itu.

Pekan Doa untuk Persatuan Umat Kristen berlangsung 18-25 Januari, tanggal-tanggal yang diusulkan Hamba Tuhan Pastor Paul Wattson SA, pendiri Society of the Atonement, yang memprakarsai perayaan “Oktaf Persatuan Gereja” pertama tahun 1908, untuk mengangkat hari-hari pesta Kursi Santo Petrus tanggal 18 Januari dan Pertobatan Santo Paul, 25 Januari, dan karena itu memiliki makna simbolis.(PEN@ Katolik/pcp/Vatican News)

Suster-Suster monastik dari Komunitas Grandchamp
Suster-Suster monastik dari Komunitas Grandchamp

Tinggalkan Pesan