ROMA, Pena Katolik – Akademi Gerejawi Kepausan (Pontifical Ecclesiastical Academy), sekolah elit di Roma yang melatih para imam muda untuk menjadi duta besar (nunsius) bagi Paus, merayakan hari jadi ke-325 tahun ini. Berlokasi di Piazza della Minerva, Roma, lembaga yang didirikan dalam bentuknya yang modern sejak tahun 1850. Pembaga pendidikan ini merupakan pilar krusial dalam misi diplomatik Takhta Suci di seluruh dunia, sekaligus menjadi salah satu institusi diplomatik tertua yang pernah ada.
Paus Leo XIV menandai peringatan bersejarah ini dengan mengunjungi akademi tersebut pada 27 April 2026. Dalam kunjungannya, Bapa Suci mengingatkan komunitas akademi akan tanggung jawab utama mereka sebagai gembala jiwa-jiwa. Ia menegaskan bahwa misi utama seorang diplomat Vatikan adalah “menjadi saksi bagi kebenaran Kristus dan membawa pesan-Nya ke forum bangsa-bangsa.”
Akademi ini didirikan pertama kali pada tahun 1701 oleh Paus Klemens XI. Pada awalnya, sekolah ini ditujukan untuk melatih putra-putra dari keluarga bangsawan, sebelum akhirnya beralih fungsi menjadi tempat penempaan para imam diosesan (projo) untuk dinas diplomatik kepausan.
Sering Disalahpahami
Sejak berdiri, akademi ini telah melahirkan lebih dari 2.000 diplomat Gereja. Alumninya bukan orang sembarangan; tercatat ada lima Paus yang lahir dari lembaga ini—termasuk Paus Leo XIII dan Santo Paus Paulus VI—serta delapan Sekretaris Negara Vatikan, termasuk yang saat ini menjabat, Kardinal Pietro Parolin. Uskup Agung Salvatore Pennacchio, Presiden Akademi Gerejawi Kepausan, mengakui bahwa lembaga ini memang asing di telinga umat Katolik awam, namun perannya sangat vital bagi Gereja universal.
“Akademi ini mungkin tampak seperti tempat yang samar dan tertutup, padahal sebenarnya sangat terbuka bagi dunia. Kami memang tidak memasukkan diri kami ke dalam pemberitaan koran. Saya teringat kata-kata Paus Paulus VI: ini adalah sebuah ‘kerja yang tak kasat mata, senyap, dan sering disalahpahami’,” ungkap Mgr. Pennacchio kepada EWTN News.
Tugas senyap tersebut meliputi merawat hubungan diplomatik Takhta Suci dengan 183 negara. Tugas ini sering kali sangat sensitif dan rumit, mulai dari bernegosiasi dengan pemerintah yang tidak bersahabat, hingga menyalurkan bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana alam atau konflik sosial.
Mgr. Pennacchio, yang telah berpengalaman selama 44 tahun sebagai nunsius (duta besar Vatikan), menjelaskan bahwa para diplomat kepausan bertindak sebagai perpanjangan tangan Paus untuk menyentuh daerah-daerah yang tidak bisa dikunjungi langsung oleh Bapa Suci secara fisik.
Tiga Pilar Formasi
Saat ini, terdapat 37 imam dari 28 negara yang sedang menjalani masa formasi di akademi. Mgr. Pennacchio menjelaskan bahwa kurikulum kepatutan diplomat Vatikan mencakup tiga level penting. Pertama, Level Akademik-Intelektual: Setiap imam wajib mendalami Hukum Kanonik dan menguasai bahasa asing. Minimal, mereka harus menguasai dua bahasa asing di luar bahasa Italia yang menjadi bahasa komunikasi harian di Kuria Roma.
Kedua, Level Spiritual: Para imam yang masuk ke akademi wajib memiliki pengalaman pastoral minimal dua tahun di paroki asal mereka. Selama masa studi, mereka tinggal dan merefleksikan iman bersama sebagai satu komunitas.
Ketiga, Level Pastoral & Misi: Para calon diplomat dilarang kehilangan kobaran semangat kerasulan mereka. Di akhir pekan, mereka tetap bertugas melayani umat di paroki, rumah sakit, hingga penjara.
Sebelum resmi ditempatkan di pos diplomatik pertamanya, setiap imam kini diwajibkan menjalani “Tahun Misi” selama satu tahun penuh di negara tujuan untuk mengalami langsung kehidupan umat di akar rumput.
Mgr. Pennacchio menjabarkan perbedaan mendasar antara diplomat sekuler (sipil) dan diplomat Takhta Suci melalui analogi rel kereta api.
“Saya sering menyamakan peran kami dengan jalur kereta api yang memiliki dua rel paralel. Di satu sisi, nunsius bertindak sebagai duta besar yang menyerahkan surat kepercayaan kepada kepala negara. Namun di sisi lain yang sejajar, kami juga mewakili Bapa Suci bagi Gereja Katolik lokal di negara tersebut,” jelasnya. Berbeda dengan diplomasi sipil yang berfokus pada kepentingan nasional, perdagangan, ekonomi, atau militer, diplomasi Vatikan mengemban misi spiritual yang mendalam. Di panggung politik dunia, tujuan utama nunsius adalah membawa pesan perdamaian dan mendorong jalur negosiasi daripada peperangan.



