Ziarah ke makam para imam di Seminari Kakaskasen Tomohon (Komsos Manado)
Ziarah ke makam para imam di Seminari Kakaskasen Tomohon (Komsos Manado)

Memperingati 100 Tahun Tarekat Missionariorum Sacratissimi Cordis Iesu (Misionaris Hati Kudus Yesus, MSC) di Sulawesi, umat paroki dan stasi di Keuskupan Manado mengawalinya dengan Novena Hati Kudus Yesus di gereja paroki atau stasi selama sembilan bulan yang berakhir 4 September 2020, dan mengakhirinya dengan Misa Syukur di paroki dan stasi masing-masing 13 September 2020.

Kedatangan MSC di Sulawesi mengacu pada dekrit Paus Benedictus XV 19 November 1919 tentang Penetapan Prefektur Apostolik Sulawesi dan Pelayanan di Sulawesi oleh MSC untuk melanjutkan karya para misionaris Serikat Jesus (SJ).

Panitia Perayaan 100 Tahun MSC di Sulawesi (2 September 1920-2 September 2020) yang diketuai oleh Pastor Stephanus Berty Tijow MSC telah menyelenggarakan juga serangkaian kegiatan yakni Ziarah Keluarga MSC ke Makam Seminari Kakaskasen, 7 September, Tridium MSC, 1-3 September, dan Peluncuran Buku Sejarah 100 Tahun MSC di Sulawesi dalam bentuk Webinar 5 September.

Setelah ziarah 7 September, dilaksanakan Misa konselebrasi dengan protokol kesehatan yang dihadiri tiga puluhan imam, termasuk diosesan dan kongregasi lainnya, sejumlah frater, bruder, suster, panitia dan undangan terbatas. Jumlah semuanya sekitar 60 orang. Juga hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Sulut Edwin Silangen, Kadis Perindag Sulut Edwin Kindangen, dan Kadis Kehutanan Reyner Dondokambey.

Misa di Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Karombasan, Manado, yang merupakan puncak perayaan itu dipimpin oleh Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC dan didampingi Uskup Emeritus Mgr Yos Suwatan MSC, Vikjen Keuskupan Manado Pastor Agus Sumaraw Pr dan Ketua Panitia Pastor Berty Tijow MSC serta Diakon Micky Kojongian.

Perayaan itu, menurut Mgr Rolly dalam kotbahnya, mengingatkan bahwa kehadiran MSC “melanjutkan perutusan Gereja universal yang dimulai terutama oleh Serikat Jesus selama 52 tahun (1868-1920), dan MSC melanjutkan estafet pelayanan dan perutusan itu.”

Pelayanan misioner Gereja Katolik tentu bersumber, lanjut Uskup Manado, dimulai oleh Yesus sendiri, yang seperti dikatakan dalam Injil (Mat. 28 :16-20), yakni Yesus mengutus murid-murid-Nya, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Kehadiran MSC, tegas Mgr Rolly, melanjutkan karya dari Serikat Jesus, menerima warisan-warisan yang diungkapkan dalam buku sejarah kehadiran MSC, misi misioner, semangat perutusan yang diwarisi oleh gereja universal.

Ketika tiba di Sulawesi, jumlah umat sebanyak 11.111 jiwa, ada sekolah guru, dan ada para suster JMJ yang sudah hadir di sana sejak 1898. Menurut uskup, dengan perayaan itu MSC menatap ke depan berdasarkan pengalaman selama 100 tahun ini. Kemudian satu persatu kongregasi religius masuk ke Keuskupan Manado yakni Frater CMM, Suster Karmel (OCD), DSY, PBHK, Ursulin, Fransiskanes serta Putri Karmel dan Pastor CSE.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey, dalam sambutan yang dibacakan oleh Edwin Silangen berharap, perayaan syukur itu memperkuat komitmen para misionaris Hati Kudus Yesus dan segenap umat Katolik di Sulawesi untuk tetap setia dalam pelayanan di tengah kondisi apapun, dan untuk tetap bersedia mendukung dan memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa dan daerah.”

Pemerintah mengakui, lanjutnya, implementasi berbagai program dan kegiatan yang dilaksanakan Pemprov Sulut “tidak terlepas dari kontribusi pelaku pembangunan di daerah, termasuk umat Katolik.”(PEN@ Katolik/A. Ferka)

Artikel Terkait:

100 tahun MSC di Sulawesi dicanangkan, Gereja di Sulawesi tumbuh berkat karya SJ dan MSC

Kedatangan misionaris MSC di Manado 100 tahun lalu dirayakan dengan Misa di hari yang sama

Misa Syukur MSC di Sulawesi (PEN@ Katolik/A Ferka)
Misa Syukur MSC di Sulawesi (PEN@ Katolik/A Ferka)

Tinggalkan Pesan